GONDOMANAN,REDAKSI17.COM— Kota Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia terus diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang mendorong batik tidak hanya berkembang dalam ekosistem usaha, tetapi juga semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Semangat tersebut terlihat dalam gelaran Simfoni 1001 Pembatik yang menghadirkan 1.000 peserta untuk membatik bersama di sepanjang Jalan Malioboro, mulai dari kawasan Toko Batik Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Kegiatan tersebut digelar untuk memperingati HUT ke-270 Kota Jogja sekaligus memperingati Hari Batik Nasional 2026.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 06.00 WIB dengan pelepasan sepeda batik yang mengambil garis finish di Titik Nol Kilometer. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan membatik bersama yang melibatkan 1.000 peserta.
Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kepada masyarakat Indonesia bahwa Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga dan mengembangkan batik.
“Ini kesempatan pertama saya memegang batik. Yang paling penting adalah ini dimulai dengan canting,” jelas Wawan saat diwawancarai, Sabtu (3/10).

Menurutnya, proses membatik dengan menggunakan canting memiliki filosofi sekaligus mengajarkan kesabaran dan ketelitian. Hal tersebut dinilai relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini yang terbiasa dengan aktivitas serba cepat. “Buat orang yang kesabarannya, kalau anak muda sekarang bilang kesabaran saya setipis tisu, ini kayaknya tantangan besar,” ujarnya.
Wawan juga menilai kegiatan membatik membutuhkan konsentrasi dan ketenangan. Ia bahkan menyebut membatik dapat menjadi salah satu aktivitas yang melatih mindfulness. “Membatik itu juga salah satu cara healing, alias mindful. Harus mindful karena kalau tidak pasti belok-belok, mencong-mencong,” katanya.
Ia menegaskan, pelestarian batik tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Dukungan masyarakat dan berbagai elemen menjadi bagian penting agar batik terus hidup dan berkembang.
Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri, Kementerian Perindustrian, Emi Suryandari mengatakan, pengembangan batik perlu diarahkan agar mampu tumbuh sebagai industri sekaligus tetap menjadi bagian dari budaya Indonesia.
“Upaya tersebut kami arahkan untuk bagaimana batik sebagai industri atau sebagai budaya kita itu industrinya bisa tetap tumbuh, mempunyai daya saing, inovasi, dan juga berkelanjutan,” ungkapnya.
Pihaknya menambahkan, pemerintah juga memberikan fasilitasi sertifikasi halal, SNI industri hijau, serta verifikasi gas rumah kaca bagi industri. Selain itu, melalui program Batik Go to Government, Kementerian Perindustrian mengajak 628 instansi pemerintah di seluruh Indonesia untuk memahami pentingnya mengenal, menggunakan, dan mendukung batik asli Indonesia.

Pihaknya menekankan, bahwa batik tidak semata-mata merupakan kain dengan motif tertentu. Proses pembuatannya menjadi bagian penting dalam memahami batik sebagai warisan budaya. “Batik ini bukan hanya sekadar kain yang terlihat seperti motif batik, tetapi prosesnya pun juga proses membatik,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mencintai dan menggunakan batik asli Indonesia sekaligus mendukung keberlangsungan para pelaku industri batik. “Pelestarian batik membutuhkan gerakan bersama,” katanya.
Menurut Emi, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci utama keberlanjutan batik Indonesia. Ia mengajak anak-anak muda yang hadir dalam Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenal sekaligus mencintai batik. “Tolong cintai batik asli Indonesia. Karena kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan,” tegasnya.
Semangat pelestarian batik juga datang dari para pelajar yang mengikuti Simfoni 1001 Pembatik. Sarah (17) yang merupakan pelajar SMP Muhammadiyah Kasihan mengaku, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang menarik.
Menurutnya, membatik menjadi pengalaman baru sekaligus cara untuk mengenal budaya lokal secara langsung. Ia menilai generasi muda perlu ikut menjaga batik karena sebagai bagian dari peninggalan leluhur.
“Kita harus lestarikan budaya batik seperti ini karena menginspirasi dari zaman-zaman lampau. Terutama dalam membatik tulis membutuhkan ketelitian. Kita melukis batik pelan-pelan agar tidak meluber keluar dari pola. Tetapi membatik ternyata kegiatan yang sangat seru,”ungkapnya.



