Iran makin agresif merudal, Amerika Serikat tak lagi jadi tameng pertahanan, Yordania desak pasukan Trump segera angkat kaki
Teheran,REDAKSI17.COM – Gelombang serangan rudal dan drone Iran ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk tak hanya mengguncang situasi keamanan Timur Tengah, tetapi juga memicu kecemasan baru di negara-negara sekutu Washington.
Di tengah memanasnya konflik, muncul pertanyaan yang semakin keras menggema: apakah kehadiran pasukan Amerika Serikat benar-benar menjadi jaminan keamanan, atau justru menjadikan negara tuan rumah sebagai target berikutnya?
Dilansir The New York Times pada Kamis (30/7), kekhawatiran tersebut kini menguat di Yordania.
Ratusan tokoh politik, pakar hukum, akademisi, hingga pemimpin masyarakat menandatangani sebuah surat terbuka yang berisi tuntutan tegas agar pasukan Amerika Serikat segera meninggalkan wilayah Yordania.
Mereka menilai keberadaan militer AS bukan lagi menjadi tameng pertahanan, melainkan berpotensi menyeret Yordania ke dalam pusaran konflik yang semakin sulit dikendalikan.
Menurut para penandatangan surat tersebut, pangkalan-pangkalan militer Amerika justru dapat menjadikan Yordania sebagai sasaran serangan apabila eskalasi perang kembali meningkat.
Kekhawatiran itu muncul setelah Iran melancarkan rentetan rudal balistik dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai bagian dari rangkaian konflik yang terus memanas.
Serangan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa negara-negara yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS bisa ikut menanggung dampak apabila konfrontasi antara Iran dan Amerika Serikat kembali meledak.
Gelombang keresahan itu ternyata tidak hanya terasa di Yordania. Sejumlah negara di kawasan Teluk juga mulai diliputi kecemasan serupa.
Di tengah ancaman yang terus membayangi, semakin banyak pihak mempertanyakan efektivitas kehadiran militer Amerika Serikat.
Alih-alih memberikan perlindungan, keberadaan pasukan AS dinilai berpotensi meningkatkan risiko keamanan dan menjadikan negara-negara sekutunya berada di garis depan jika konflik kembali pecah.





