MANTRIJERON,REDAKSI17.COM – Suasana Kampung Suryodiningratan di Kemantren Mantrijeron terasa penuh antusias warga menyambut tim juri Lomba Kampung Tangguh Pangan Tahun 2026. Dalam kegiatan ini tim juri meninjau berbagai inovasi ketahanan pangan yang dikembangkan warga, mulai dari kebun sayur organik, budidaya ikan lele, peternakan, hingga sistem irigasi tetes menjadi bukti kolaborasi masyarakat dalam membangun pertanian perkotaan berbasis integrated farming yang kini menjadi fokus penilaian Pemerintah Kota Yogyakarta.
Penilaian lomba tersebut berlangsung mulai tanggal 5–13 Agustus 2026 dan dibagi dalam lima zona yang mencakup 14 Kemantren di Kota Yogyakarta.
Pada hari ini, Kamis (6/8) tim juri mengunjungi tiga kemantren, yakni Mantrijeron, Wirobrajan, dan Ngampilan, untuk melihat secara langsung implementasi program ketahanan pangan yang dikembangkan oleh masyarakat.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Ashardini Eka Setianingsih mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah wilayah dan masyarakat dalam membangun ketahanan pangan.

Warga memanfaatkan lahan sempit milik pribadi untuk budidaya lele.

Menurutnya, seluruh lokasi yang dikunjungi menunjukkan semangat gotong royong serta inovasi yang patut menjadi contoh bagi kampung lainnya.
“Tahun ini menjadi awal pelaksanaan Lomba Kampung Tangguh Pangan. Sebelumnya kami hanya menyelenggarakan lomba kampung sayur, sehingga penilaiannya terbatas pada komoditas sayuran. Kini cakupannya kami perluas menjadi ketahanan pangan secara menyeluruh dengan konsep mangan opo sing ditandur, tandur opo sing dipangan,” ujarnya.
Ashardini menjelaskan, penilaian tidak lagi hanya melihat budidaya sayuran, tetapi juga mencakup komoditas pangan, peternakan, dan perikanan yang saling terintegrasi melalui konsep integrated farming.
Menurutnya, sistem tersebut menjadi fondasi dalam membangun ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan.

Suasana saat tim juri Lomba KampungTangguh Pangan berada di lokasi Kampung Suryodiningratan RW 09 Rumah Pak Agung Budidaya Lele.

Ia menambahkan, Dinas Pertanian dan Pangan juga tengah menyiapkan pengembangan kawasan integrated farming berskala besar di Kebon Bener, Kemantren Tegalrejo pada tahun 2027. Kawasan tersebut akan mengintegrasikan budidaya tanaman pangan, peternakan, dan perikanan sebagai model yang nantinya direplikasi ke kampung-kampung di Kota Yogyakarta.
“Harapannya setiap tahun kriteria penilaian Kampung Tangguh Pangan semakin mendekati indikator ketahanan pangan yang sesungguhnya. Tidak hanya budidayanya, tetapi juga keterlibatan seluruh masyarakat, mulai dari pemerintah wilayah, PKK, Karang Taruna hingga kelompok tani dan kelompok ternak,” jelasnya.
Ia berharap, penguatan ketahanan pangan juga akan diarahkan pada pengolahan hasil pangan, keamanan pangan, penganekaragaman konsumsi pangan, hingga memastikan pangan dapat diakses dan dikonsumsi masyarakat secara aman, sehat, dan bergizi.
Sementara itu, salah satu tim juri sekaligus sebagai Ketua Pokja III PKK DIY, Teguh Suprapto, menilai semangat masyarakat dalam mengembangkan pertanian perkotaan menjadi modal utama dalam mewujudkan ketahanan pangan.
Ia mengapresiasi konsistensi masyarakat yang tetap memanfaatkan lahan terbatas menjadi kawasan produktif melalui urban farming. Menurutnya, selain menjadi sumber pangan masyarakat, keberadaan ruang hijau juga memberikan manfaat ekologis bagi lingkungan perkotaan.
“Kami melihat di dalam kota masih banyak masyarakat yang mau melakukan penghijauan. Ini bukan hanya menjadi lumbung pangan masyarakat kota, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap kualitas lingkungan,” katanya.
Teguh menilai lokasi ketiga yang dikunjungi di Kampung Suryodiningratan telah menerapkan konsep integrated farming secara lebih lengkap dan konsisten sejak pengembangan Program Lumbung Mataraman. Menurutnya, keberhasilan tersebut layak dijadikan model bagi kampung lain di Kota Yogyakarta.
“Pentingnya kualitas sumber daya manusia sebagai faktor utama dalam keberhasilan program ketahanan pangan. Kreativitas, inovasi, semangat, serta kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi modal penting dalam mengembangkan pertanian perkotaan yang berkelanjutan,”jelasnya.

Lokasi ke 2, Tim Juri melihat budidaya ikan dan unggas di RW 11 Kampung Suryodiningratan.

Dalam kesempatan tersebut, Mantri Pamong Praja Kemantren Mantrijeron, Narotama, menjelaskan pihaknya mengusulkan Kampung Suryodiningratan sebagai wakil Kemantren karena telah menerapkan berbagai prinsip ketahanan pangan perkotaan melalui konsep integrated farming.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki berbagai inovasi, mulai dari sistem irigasi tetes otomatis, budidaya ikan lele, peternakan, hingga pengembangan tanaman hortikultura organik yang terintegrasi dengan pelaku UMKM.

Selain budidaya ikan dan unggas. Disini juga telah menjual hasil panen sayuran yang ditanam oleh warga setempat.

“Melalui pertanian perkotaan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga mampu meningkatkan ekonomi keluarga. Produk yang dihasilkan telah terhubung dengan UMKM, mulai dari bunga telang, jamur, hingga hasil pertanian lainnya,” jelas Narotama.
Selanjutnya, Ketua Kelompok Tani Surya Hijau Suryodiningratan, Binarni  mengatakan, kelompok tani sudah berdiri sejak 20 Desember 2014. Awalnya hanya mengembangkan budidaya sayuran, kemudian berkembang ke hortikultura hingga akhirnya menerapkan sistem integrated farming yang menggabungkan pertanian, peternakan, dan perikanan.
Menurutnya, kelompok tani juga telah memperoleh bantuan enam kolam budidaya lele yang kini telah beberapa kali panen. Sementara hasil pertanian organik yang dibudidayakan banyak diminati masyarakat, termasuk wisatawan mancanegara yang datang untuk memanen langsung.
“Dengan adanya lomba ini kami semakin semangat untuk merawat dan mengembangkan pertanian integrated farming. Harapannya ke depan bisa menjadi lokasi percontohan sekaligus tujuan kunjungan edukasi dan wisata pertanian,” ungkapnya.