Sleman,REDAKSI17.COM-Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengajak mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menjadi dokter yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki empati, integritas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Hasto saat menjadi narasumber dalam kegiatan PIONIR I-Dentistry FKG UGM Tahun 2026 yang digelar di Auditorium Gedung Margono Soeradji Lantai 3 FKG UGM, Kamis (6/8/2026).
Menurut Hasto, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence, genomik, hingga telemedicine telah mengubah wajah pelayanan kesehatan.
Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia kedokteran, yakni bagaimana mempertahankan nilai-nilai humanistik di tengah semakin masifnya digitalisasi layanan kesehatan.
Ia menegaskan bahwa kesehatan presisi tidak hanya berbicara mengenai algoritma dan teknologi. Pelayanan kesehatan harus tetap berpijak pada empati, komunikasi yang baik, serta kemampuan memahami kondisi sosial setiap pasien.
Karena itu, lanjutnya, transformasi dunia kedokteran tidak cukup hanya menghasilkan tenaga medis yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional dan spiritual.
Dalam paparannya, Hasto juga mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pemenuhan tenaga medis. Rasio dokter di Indonesia masih berada di bawah standar yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sementara distribusi dokter juga belum merata karena masih terkonsentrasi di wilayah Indonesia bagian barat.
Meski demikian, kondisi Kota Yogyakarta dinilai jauh lebih baik. Berdasarkan data yang dipaparkan, rasio dokter gigi di Kota Yogyakarta mencapai 49,7 per 100.000 penduduk dengan standar 13, sedangkan rasio dokter umum mencapai 153,4 per 100.000 penduduk dengan standar 45.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga dokter di Kota Yogyakarta telah terpenuhi dengan baik,” bebernya.
Hasto kemudian memaparkan sejumlah program unggulan Pemerintah Kota Yogyakarta di bidang kesehatan. Salah satunya adalah program Satu Kampung Satu Bidan atau Tenaga Kesehatan, yang menempatkan satu tenaga kesehatan di setiap kampung untuk memantau kondisi kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Melalui program ini, tenaga kesehatan bertugas mengetahui profil kesehatan warga, mulai dari kesehatan ibu dan anak, penyakit menular maupun tidak menular, hingga kondisi kesehatan lingkungan,” ujarnya.
Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga mengembangkan berbagai layanan kesehatan lainnya, seperti Community Family Health Centre–Inter Professional Education, pemeriksaan kesehatan lansia, serta penguatan layanan Medical Health Center RS Pratama.
Di hadapan ratusan mahasiswa baru FKG UGM, Hasto menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan sektor kesehatan.
Menurutnya, FKG UGM tidak hanya bertugas mencetak dokter gigi yang kompeten, tetapi juga menjadi pusat riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, melahirkan tenaga medis yang adaptif dan berintegritas, serta membangun kolaborasi lintas disiplin guna menghadirkan solusi kesehatan yang berkelanjutan.
Ia menilai tantangan kesehatan di masa depan tidak dapat diselesaikan oleh satu profesi saja. Sinergi antara dokter, dokter gigi, insinyur, ahli data, psikolog, hingga berbagai disiplin ilmu lainnya menjadi kebutuhan agar pelayanan kesehatan mampu menjawab persoalan masyarakat secara komprehensif.
“Kita tidak hanya mencetak dokter. Kita membentuk pemimpin kesehatan masa depan dengan tidak melupakan Sumpah Hipokrates,” tegas Hasto.
Lebih lanjut, Hasto menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta akan terus membangun ekosistem pendidikan kesehatan melalui kemitraan strategis dengan perguruan tinggi.
Salah satunya diwujudkan melalui kerja sama dengan UGM dalam program Kampung Tematik One Village One Sister University, yang mendorong setiap perguruan tinggi memberikan dampak nyata bagi masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian di tingkat kampung.
“Program ini diharapkan mampu mempercepat pembangunan sumber daya manusia sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Kota Yogyakarta melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat,” ungkapnya.
Hasto menambahkan, kemitraan antara FKG UGM dan Pemerintah Kota Yogyakarta akan terus diperkuat melalui integrasi pendidikan dengan praktik pelayanan kesehatan, transformasi layanan kesehatan primer, peningkatan promosi dan pencegahan penyakit di masyarakat, serta penguatan respons terhadap berbagai tantangan kesehatan baru.
Kolaborasi tersebut, lanjutnya, telah menghasilkan berbagai capaian di Kota Yogyakarta, mulai dari penguatan layanan kesehatan primer melalui peningkatan mutu puskesmas, keberhasilan pengendalian penyakit menular dan peningkatan cakupan imunisasi, perluasan deteksi dini penyakit tidak menular, penguatan layanan kesehatan jiwa masyarakat, hingga transformasi digital layanan kesehatan berbasis data dan bukti ilmiah.
Mengakhiri paparannya, Hasto berharap para mahasiswa baru FKG UGM mampu menjadi generasi dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang tinggi, tetapi juga mampu menghadirkan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kemanusiaan.
“Kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan empati, etika profesi, dan semangat kolaborasi agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” pesan Hasto.



