Yogyakarta,REDAKSI17.COM– Pembangunan Jalan Tol Yogyakarta terus menunjukkan perkembangan. Pemerintah Daerah DIY bersama PT Jasa Marga (Persero) tidak hanya membahas progres konstruksi ruas tol, tetapi juga memastikan konektivitas jalan penghubung menuju kawasan strategis dan destinasi wisata agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
Hal tersebut dikemukakan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X usai menerima jajaran PT Jasa Marga (Persero) untuk membahas perkembangan pembangunan Jalan Tol Yogyakarta, yakni Jogja-Solo dan Jogja-Bawen pada Kamis (06/08), di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Sri Sultan menegaskan bahwa keberadaan jalan tol tidak dapat berdiri sendiri.
Infrastruktur tersebut harus terintegrasi dengan jaringan jalan provinsi maupun kabupaten sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperlancar mobilitas masyarakat, dan memperkuat sektor pariwisata. “Ini kan jalur utama. Tol ini harus disambung dengan jalan-jalan lain yang statusnya jalan provinsi atau jalan kabupaten,” ujar Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian adalah koridor menuju Bokoharjo yang menjadi penghubung menuju Gunungkidul. Kawasan tersebut memiliki potensi besar karena berada di sekitar sejumlah destinasi wisata yang selama ini menjadi tujuan wisatawan.
Ia menyebut, di sepanjang koridor tersebut terdapat sekitar 10 hingga 11 objek wisata, termasuk kawasan Candi Ijo dan berbagai destinasi lainnya. Meski akses jalan saat ini telah memadai bagi kendaraan pribadi, kondisi tersebut dinilai belum ideal untuk kendaraan berukuran besar seperti bus wisata.
“Kalau kendaraan sedan tidak ada masalah karena memang jalannya sudah ada. Tetapi kalau bus masih agak sulit untuk masuk. Papasan kendaraan juga menjadi persoalan,” kata Sri Sultan.
Kondisi tersebut, menurut Sri Sultan, menunjukkan pentingnya peningkatan kualitas jalan penghubung menuju kawasan wisata. Namun, upaya tersebut juga berkaitan dengan status kewenangan jalan yang saat ini masih merupakan jalan kabupaten.
Ia menjelaskan, apabila ruas tersebut ditingkatkan menjadi jalan provinsi, maka konsekuensinya pembiayaan pembangunan maupun pemeliharaan akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah DIY. Di sisi lain, keterbatasan fiskal yang terjadi saat ini turut memengaruhi kemampuan pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur.
“Kondisi pengurangan anggaran ini menimbulkan persoalan-persoalan baru dalam menentukan arah pembangunan. Bantuan yang mestinya sudah keluar dari APBN untuk infrastruktur sampai sekarang juga belum keluar,” ungkap Sri Sultan.
Sri Sultan menilai pembangunan jalan menuju kawasan wisata tidak kalah penting dibanding pembangunan jalan tol itu sendiri. Menurutnya, apabila akses menuju destinasi wisata belum memadai, manfaat ekonomi yang diharapkan dari keberadaan jalan tol tidak akan optimal.
“Kalau tidak ada perluasan jalan menuju objek wisata, akhirnya ya percuma,” papar Sri Sultan.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Sultan juga mengapresiasi perubahan desain akses jalan menuju Gunungkidul yang telah disepakati bersama pemerintah pusat. Sebelumnya, akses menuju wilayah tersebut belum tersedia secara optimal dalam perencanaan awal.
Ia menjelaskan, saat ini telah tersedia pembangunan akses menuju Bokoharjo. Namun masih terdapat ruas penghubung yang perlu diselesaikan agar konektivitas menuju jalan tol benar-benar terwujud.
“Tadinya perlu sekitar tiga kilometer, sekarang sudah dibangun sekitar 1,9 kilometer. Sisanya sekitar 1,1 kilometer masih harus diselesaikan. Selama itu belum dibangun, akses menuju tol belum benar-benar nyambung,” jelas Sri Sultan.
Menurut Sri Sultan, penyelesaian ruas pendek tersebut menjadi penting agar arus kendaraan dari dan menuju Gunungkidul tidak lagi bergantung pada jalur lama melalui Piyungan yang selama ini kerap mengalami kepadatan. “Kalau belum tersambung, nanti orang tetap lewat Piyungan lagi. Padahal mestinya jalan keluar sudah tidak perlu melewati jalur itu sehingga kemacetan bisa dikurangi,” imbuh Sri Sultan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero), Rivan A. Purwantono, melaporkan bahwa pembangunan Jalan Tol Yogyakarta berjalan sesuai target pada dua ruas utama, yakni Yogyakarta–Solo dan Yogyakarta–Bawen. Untuk ruas Yogyakarta–Solo, progres pembangunan segmen Prambanan–Purwomartani telah mencapai sekitar 98 persen. Selain pembangunan jalan tol utama, Jasa Marga juga menyiapkan infrastruktur pendukung berupa jalan layang dan jembatan menuju Bokoharjo.
“Infrastruktur ini merupakan upaya untuk memastikan pengaturan arus lalu lintas tidak langsung memadati kawasan Adisutjipto sekaligus mendukung konektivitas menuju Bantul, Gunungkidul, maupun pengguna Jalan Raya Wonosari,” ujar Rivan.
Ia menjelaskan, akses tambahan tersebut akan menghubungkan pintu keluar Tol Purwomartani dengan kawasan Bokoharjo sepanjang sekitar dua kilometer. Kehadiran akses tersebut diharapkan mempermudah masyarakat yang berasal dari wilayah selatan Yogyakarta untuk memanfaatkan Jalan Tol Yogyakarta–Solo tanpa harus melalui jalur yang lebih padat.
“Exit tol tetap berada di Purwomartani, tetapi akses menuju Bokoharjo ditambahkan sekitar dua kilometer. Ini akan sangat membantu masyarakat yang ingin menuju maupun keluar dari Gunungkidul melalui Jalan Baru Wonosari,” katanya.
Selain itu, Jasa Marga juga melaporkan perkembangan pembangunan ruas Jombor–Trihargo atau Sleman Junction yang nantinya terhubung dengan Jalan Tol Yogyakarta–Bawen hingga Banyurejo. Pembangunan tersebut diproyeksikan selesai sesuai tahapan yang telah direncanakan sebelum dilanjutkan menuju Muntilan.
Menurut Rivan, pihaknya juga menyesuaikan tahapan pembangunan berdasarkan arahan Gubernur DIY agar percepatan konektivitas di kawasan perkotaan dapat segera diwujudkan. Salah satunya melalui percepatan pembangunan koridor Maguwoharjo menuju Jombor yang direncanakan mulai dikerjakan pada 2027.
“Kami akan mempersiapkan percepatan tersebut sesuai arahan Ngarsa Dalem sehingga pembangunan yang melintasi Ring Road dapat segera dimulai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rivan menyampaikan bahwa akses menuju Bokoharjo diharapkan sudah dapat difungsikan untuk mendukung pengaturan lalu lintas pada musim mudik Lebaran setelah seluruh pekerjaan konstruksi, termasuk pembangunan jembatan, penanganan perlintasan rel kereta api, dan penyeberangan Sungai Opak, selesai dilaksanakan. Menurutnya, keberadaan akses tersebut akan menjadi salah satu simpul penting dalam mendukung kelancaran arus kendaraan sekaligus memperkuat konektivitas wilayah selatan DIY dengan jaringan jalan tol nasional.
Pembahasan antara Pemerintah Daerah DIY dan PT Jasa Marga dalam pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan badan usaha jalan tol. Selain memastikan pembangunan jalan tol berjalan sesuai target, koordinasi juga diperlukan agar jalan-jalan penghubung menuju kawasan wisata, pusat pertumbuhan ekonomi, dan wilayah permukiman dapat berkembang secara beriringan sehingga manfaat pembangunan infrastruktur benar-benar dirasakan masyarakat di seluruh wilayah DIY.
Humas Pemda DIY



