Beranda / Politik / Kasmani: Kandang Ayam Petelur Skala Rumahan Jadi Instrumen Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Pangan

Kasmani: Kandang Ayam Petelur Skala Rumahan Jadi Instrumen Pemberdayaan Masyarakat dan Ketahanan Pangan

BOGOR,REDAKSI17.COM – Pemberdayaan masyarakat melalui budidaya ayam petelur skala rumahan menjadi salah satu materi penting dalam Training for Trainer (TFT) Instruktur Sekolah Tani Ternak Nelayan (STTN) Wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi yang mengusung tema “Mencetak Duta Tani PKS untuk Kedaulatan Pangan Nasional”.

Kegiatan yang diselenggarakan Bidang Petani, Peternak, dan Nelayan DPP PKS tersebut berlangsung di Kabupaten Bogor, Selasa (28/7/2026).

Materi disampaikan oleh Kasmani, Owner Kasmani Farm sekaligus produsen kandang ayam dan telur. Dalam paparannya, Kasmani menegaskan bahwa kandang ayam petelur skala rumahan merupakan model usaha yang mudah diterapkan masyarakat untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru.

“Kandang skala rumahan tidak membutuhkan lahan yang luas maupun modal besar. Pekarangan atau halaman belakang rumah sudah cukup untuk memulai usaha peternakan yang produktif. Ini menjadi peluang nyata bagi masyarakat untuk membangun kemandirian ekonomi dari rumah,” ujarnya.

Kasmani menjelaskan, salah satu keunggulan utama usaha ayam petelur adalah kemampuan menghasilkan arus kas secara cepat. Berbeda dengan usaha pertanian yang membutuhkan waktu panen lebih lama, telur dapat dipanen setiap hari sehingga memberikan pemasukan harian maupun mingguan yang relatif stabil.

Selain menjadi sumber pendapatan, hasil ternak juga dapat memenuhi kebutuhan protein keluarga sehingga memperkuat ketahanan pangan rumah tangga.

Meski demikian, ia mengingatkan para peserta bahwa usaha ini tetap memiliki tantangan yang harus dipahami sejak awal. Biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam produksi ayam petelur.

Ketika harga pakan meningkat sementara harga telur menurun, keuntungan peternak akan tergerus. Oleh karena itu, efisiensi biaya produksi dan pengelolaan pakan menjadi kunci keberhasilan usaha.

Selain faktor ekonomi, Kasmani juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan kandang.

Menurutnya, pengelolaan limbah yang kurang baik dapat menimbulkan bau tidak sedap, mengundang lalat, dan mengganggu lingkungan sekitar.

Karena itu, kebersihan kandang harus menjadi bagian dari budaya beternak agar usaha tetap produktif sekaligus diterima masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa ayam petelur merupakan ternak yang sensitif terhadap stres dan penyakit.

Kesalahan dalam manajemen kandang, sanitasi, maupun pemberian pakan dapat menurunkan produktivitas telur, bahkan menyebabkan kematian dalam jumlah besar. Untuk itu, penerapan biosekuriti, sanitasi yang baik, dan pemantauan kesehatan ayam secara rutin menjadi syarat mutlak dalam pengelolaan peternakan.

Kasmani menegaskan, kandang skala rumahan bukan sekadar aktivitas memelihara ayam di belakang rumah, tetapi merupakan langkah awal membangun ketahanan pangan keluarga sekaligus menciptakan usaha yang berkelanjutan.

Menurutnya, jika dikelola dengan baik, usaha sederhana tersebut dapat berkembang menjadi sumber ekonomi yang memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat sekitar.

Di akhir sesi, Kasmani berharap seluruh peserta TFT STTN mampu menjadi agen perubahan setelah kembali ke daerah masing-masing.

“Kami berharap peserta tidak hanya memahami teori budidaya ayam petelur skala rumahan, tetapi juga berani mempraktikkannya dan menjadi penggerak di wilayahnya masing-masing.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *