UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Kemantren Wirobrajan berhasil meraih juara umum dalam Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadis (STQH) tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Penetapan tersebut diumumkan dalam acara penutupan STQH yang berlangsung di Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Penghargaan juara umum diserahkan langsung oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Yogyakarta, Hilmi Arifin kepada Mantri Pamong Praja Kemantren Wirobrajan, Rahmi Anggraini.
Dalam sambutannya, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Yogyakarta, Hilmi Arifin menyampaikan, apresiasi kepada seluruh kafilah dari 14 kemantren yang telah mengikuti rangkaian STQH.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kesungguhan generasi muda dalam mempelajari Al-Qur’an dan hadis.
“Pada hari ini kita telah mendengar indahnya tilawah, menyaksikan kekuatan hafalan Al-Qur’an dan hadis, serta melihat kesungguhan anak-anak dan generasi muda kita dalam mendalami Kalamullah dan sunnah Rasulullah SAW,” ujarnya.
Hilmi mengucapkan selamat kepada para pemenang dan mengingatkan agar prestasi yang diraih tidak membuat peserta berhenti belajar.
“Kemenangan hari ini adalah amanah. Jangan berhenti berlatih setelah membawa pulang piala. Masih ada tahapan berikutnya. Terus perbaiki bacaan, kuatkan hafalan, dalami pemahaman, dan persiapkan diri untuk membawa nama baik Yogyakarta di tingkat yang lebih tinggi,” katanya.
Sementara itu, bagi peserta yang belum meraih juara, Hilmi berpesan agar tidak berkecil hati. Menurutnya, proses belajar Al-Qur’an memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh piala.
“Dalam belajar Al-Qur’an tidak ada kata kalah. Setiap huruf yang dipelajari, setiap hafalan yang dijaga, setiap waktu yang digunakan untuk mendekat kepada Al-Qur’an adalah bagian dari perjalanan yang bernilai,” ungkapnya.

Penutupan STQH yang berlangsung di Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).

Ia juga memberikan apresiasi kepada para orang tua, ustaz dan ustazah, guru, pembina, Kantor Urusan Agama (KUA), pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), serta seluruh pihak yang telah mendampingi para peserta.
Hilmi menambahkan, STQH Tahun 2026 menjadi ajang untuk menjaring qari, qariah, hafiz, hafizah, serta penghafal hadis terbaik. “Namun, tujuan yang lebih utama adalah melahirkan generasi yang mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis serta menjadi teladan di tengah masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Mantri Pamong Praja Kemantren Wirobrajan, Rahmi Anggraini mengatakan, keberhasilan kafilah Wirobrajan tidak lepas dari dukungan pembina dan pendamping dari KUA. Setiap cabang yang diikuti peserta mendapatkan pendampingan dan pembinaan.
“Tujuan utama keikutsertaan dalam STQH bukan semata-mata mengejar kemenangan. Ajang ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia berharap, para peserta dapat menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya, khususnya dalam menerapkan akhlak yang baik, memiliki karakter Qur’ani, serta taat kepada orang tua. “Harapan kami tidak hanya sekadar lomba, tetapi bagaimana mereka bisa menjadi contoh bagi generasi yang lain,” ungkapnya.
Salah satu peserta yang berhasil meraih juara pertama cabang Tilawah Dewasa Putri, Iffah Munifah, mengaku bersyukur atas prestasi yang diraihnya.
Ia mengatakan, salah satu kunci utama dalam mengikuti lomba tilawah adalah menguasai bacaan Al-Qur’an melalui tahsin.

Beberapa peserta saat foto bersama.

“Modal dasarnya dari tahsin. Kalau tahsin itu sudah terpegang, nanti baru bisa kita kembangkan dengan bernada atau menggunakan lagu,” ungkapnya.
Menurut Iffah, peserta juga dapat memperkaya referensi melalui guru maupun berbagai media yang tersedia saat ini. Namun, latihan secara rutin tetap menjadi hal yang penting agar peserta terbiasa tampil dan membawakan tilawah di hadapan banyak orang.
“Berlatih terus. Tidak harus dalam rangka mempersiapkan perlombaan, tetapi dilatih secara rutin supaya kita terbiasa membawakannya di panggung,” katanya.
Iffah berharap, keberadaan STQH maupun Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dapat semakin memperkenalkan seni membaca Al-Qur’an kepada generasi muda. Menurutnya, perlombaan juga dapat menjadi sarana syiar dan menumbuhkan motivasi anak-anak serta pemuda untuk mempelajari dan memperindah bacaan Al-Qur’an.
“Harapannya dengan adanya perlombaan seperti STQ dan MTQ ini bisa menumbuhkan motivasi bagi anak-anak dan pemuda untuk memperbaiki dan memperindah bacaan Al-Qur’annya,” imbuhnya.