Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta memperingati Hari Koperasi Nasional ke-79 dan Hari UMKM Tahun 2026 dengan menggelar upacara sekaligus Bazar Koperasi dan UMKM di Kompleks Balai Kota, Selasa (21/7).

Sebanyak 36 stan menampilkan beragam produk unggulan mulai dari kuliner, batik, kerajinan kulit, hingga produk kriya sebagai wujud semangat pemberdayaan ekonomi lokal.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan koperasi merupakan model usaha yang paling sesuai dengan karakter masyarakat Indonesia karena mengedepankan prinsip gotong royong dan kepemilikan bersama.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan saat meninjau produk UMKM di Bazar Plaza Balai Kota.

“Mekanisme koperasi ini adalah yang paling cocok untuk Indonesia. Koperasi adalah gotong royong, tidak ada yang unggul atau yang menang. Pemiliknya adalah seluruh anggota koperasi, sehingga menjadi model yang paling sesuai bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, koperasi di Kota Yogyakarta tidak boleh hanya bertumpu pada usaha simpan pinjam, tapi harus menangkap berbagai peluang usaha baru. Salah satunya memperluas jejaring perdagangan dan pemasaran, termasuk mendukung kebutuhan sektor haji hingga menjalin kemitraan dengan pelaku usaha.

Bazar UMKM di Plaza Balai Kota pada Selasa (21/7/2026).

Selain mendorong koperasi, pihaknya terus memperkuat kapasitas UMKM melalui pendampingan berkelanjutan. Wawan menegaskan, tantangan utama UMKM saat ini bukan hanya akses pasar, namun juga penguatan tata kelola, kepemimpinan, dan jiwa kewirausahaan.

“Harapannya pelaku UMKM mampu melihat peluang usaha sendiri, tidak selalu bergantung pada bantuan pemerintah, sehingga dapat berkembang dari pasar lokal hingga internasional,” jelasnya.

Pembukaan Bazar UMKM di Peringatan Hari Koperasi ke-79 dan Hari UMKM 2026.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta Tri Karyadi Riyanto Raharjo menjelaskan peringatan Hari Koperasi Nasional dan Hari UMKM tahun ini sengaja disatukan sebagai bentuk sinergi antara koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Kami mendorong peningkatan daya saing UMKM melalui fasilitasi sertifikasi halal, sertifikasi standar usaha, hingga uji kompetensi bagi para pelaku usaha. Tahun ini, ada 50 pelaku UMKM telah mengikuti uji kompetensi sebagai langkah awal menciptakan role model UMKM yang profesional dan berdaya saing,” jelasnya.

Pihaknya menambahkan, Kota Yogyakarta telah memiliki 45 Koperasi Merah Putih secara kelembagaan. Dari jumlah tersebut, 34 koperasi aktif beroperasi, sisanya masih terus didampingi agar mampu berkembang dan memiliki aktivitas usaha yang berkelanjutan.

Forum Komunikasi UMKM Kemantren Mantrijeron.

Sementara itu, salah satu pelaku UMKM yang tergabung dalam Forkom UMKM Mantrijeron Wasti Tinah, mengaku telah mengembangkan usaha kain ecoprint, jumputan, dan shibori sejak 2011. Produk buatannya kini tidak hanya dipasarkan di Yogyakarta, tapi juga menjangkau berbagai daerah, termasuk Jakarta, melalui pameran dan bazar seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ), serta pemasaran daring melalui Facebook dan Instagram.

“Pendampingan dari Pemkot sangat membantu kami, mulai dari pelatihan digital marketing, packaging, pengurusan izin usaha, sampai difasilitasi mengikuti berbagai bazar. Itu sangat mendukung pemasaran produk kami, baik secara langsung maupun online,” ujar Wasti.