Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Malam Kebangsaan Menyongsong HUT Ke-81 Republik Indonesia bertajuk “Menjalin Kebersamaan dalam Bingkai Persatuan” di Ghrha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Jumat (14/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi perjuangan kemerdekaan sekaligus memperkuat persatuan dan kemandirian bangsa.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan, kemerdekaan yang telah dicapai Indonesia perlu terus diisi dengan perjuangan untuk mewujudkan kedaulatan di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan teknologi.

“Kalau kita sudah berdaulat dalam bidang politik, kita juga harus sepenuhnya berdaulat dalam bidang ekonomi. Ini menjadi keinginan besar kita,” kata Hasto.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Menurut Hasto, semangat yang mendorong lahirnya kesadaran kebangsaan pada masa pergerakan perlu dihidupkan kembali untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini. Indonesia, kata dia, perlu membangun kekuatan teknologi dan industri agar tidak terus bergantung pada produk dari luar negeri.

“Di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, kita perlu membangun kesadaran bahwa kita masih harus berjuang dalam bidang ekonomi. Siapa yang akan menjadi pahlawan dalam bidang ekonomi, kalau tidak kita pikirkan dan rencanakan sejak saat ini,” ujarnya.

Hasto juga mengajak masyarakat memperkuat kolaborasi dan gotong royong sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan. Menurutnya, karakter masyarakat Yogyakarta yang mengedepankan kebersamaan menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai tantangan.

Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM Hendro Muhaimin.

Sementara itu, Peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM) Hendro Muhaimin menilai sejarah Yogyakarta memiliki kaitan erat dengan perjalanan kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta tidak hanya berkontribusi dalam perjuangan menuju kemerdekaan, tetapi juga berperan dalam mempertahankan keberlangsungan Republik Indonesia.

“Yogyakarta punya kontribusi yang besar terhadap proses kemerdekaan. Keistimewaan Yogyakarta juga merupakan bentuk pengakuan terhadap kontribusinya dalam perjuangan dan kemerdekaan,” kata Hendro.

Hendro mencontohkan perpindahan pusat pemerintahan Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada 1946. Menurutnya, Yogyakarta kemudian menjadi ibu kota Republik Indonesia hingga 1949 dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat.

“Yogyakarta pernah hampir tiga tahun menjadi ibu kota negara. Ini menunjukkan kontribusi masyarakat Yogyakarta dalam mempertahankan Republik Indonesia,” ujarnya.

Malam Kebangsaan tersebut menjadi ruang refleksi bersama bahwa kemerdekaan bukan hanya warisan sejarah, tetapi tanggung jawab yang perlu diteruskan melalui persatuan, penguatan ekonomi, pendidikan, dan kolaborasi masyarakat.