Beranda / Daerah / Menelusuri Jejak Para Perintis, Khidmat Ziarah Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul

Menelusuri Jejak Para Perintis, Khidmat Ziarah Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Di bawah naungan keheningan dan kekhidmatan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar ziarah makam para bupati sepuh pada Rabu, 30 September 2026. Agenda spiritual ini dilaksanakan sebagai bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul. Ziarah dilakukan di dua lokasi bersejarah, yakni Makam Hastorenggo di Kotagede, Yogyakarta, serta Makam Gunung Sempu, Kasihan, Bantul, tempat bersemayamnya para peletak fondasi pembangunan dan kepemimpinan Bumi Handayani.

Rombongan peziarah dipimpin langsung oleh Bupati Gunungkidul, didampingi Staf Ahli Bupati, Asisten Sekda, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pimpinan BUMD, panitia peringatan hari jadi, serta perwakilan keluarga dan ahli waris almarhum para bupati sepuh.

Ziarah diawali di Makam Hastorenggo, Kotagede, untuk mengenang serta memanjatkan doa bagi empat tokoh bupati sepuh Gunungkidul, yakni almarhum KPH Tirtodiningrat, KPH Surjaningrat, KPH Djojodiningrat, dan KPH Mangun Kusumo.

Mewakili pihak keluarga almarhum, Ir. Raden Suryo Kumar menyampaikan apresiasi dan rasa bahagianya atas perhatian Pemkab Gunungkidul yang terus memelihara ikatan silaturahmi.

“Mewakili para keluarga, mengungkapkan rasa syukur karena rekam jejak serta jasa para orang tua pendahulu tetap diingat dan dihormati di tengah pesatnya perkembangan Kabupaten Gunungkidul saat ini.” ungkap Perwakilan Keluarga.

Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul menegaskan bahwa ziarah ke Kotagede bukan sekadar tradisi rutin tahunan, melainkan momentum refleksi spiritual dan moral.

“Dedikasi waktu, pikiran, dan pengorbanan para bupati pendahulu merupakan suluh penerang bagi jajaran pemerintahan hari ini dalam melanjutkan amanah pembangunan.” tutur Bupati.

Untuk memperkuat pesan moral tersebut, Bupati mengutip amanat proklamator bangsa, Bung Karno, yang mengingatkan pentingnya menepati janji kepada masa depan dengan membangun tanah air secara kuat dan sehat. Bupati juga mengumandangkan prinsip Jasmerah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) sebagai pengingat bahwa setiap generasi memikul tanggung jawab moral untuk meneruskan api perjuangan.

Rangkaian acara di Hastorenggo diakhiri dengan pembacaan doa khusyuk yang dipimpin oleh perwakilan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Gunungkidul. Doa dilantunkan agar para bupati sepuh diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dilapangkan kuburnya, dan ditempatkan di tempat paling mulia di sisi Allah SWT.

Perjalanan ziarah kemudian berlanjut ke Makam Gunung Sempu untuk memberikan penghormatan khusus kepada almarhum Ir. Dharmakum Darmokusumo, mantan Bupati Gunungkidul yang dikenal atas jasa besarnya menghijaukan kawasan selatan DIY tersebut.

Kehadiran rombongan Pemkab disambut hangat oleh putra almarhum, Hari Nugroho (mantan auditor senior BPK), bersama keluarga. Dalam suasana kekeluargaan, Hari menceritakan silsilah keluarga almarhum yang memiliki empat orang anak: Ani Purwati Srihandayani (mantan pegawai Pemprov DIY), Hari Nugroho, Prasanto Dewanto (bergerak di bidang kehutanan), serta anak bungsu yang telah terlebih dahulu berpulang dan dimakamkan di lokasi yang sama. Ia menyampaikan terima kasih mendalam atas perhatian Pemkab Gunungkidul yang tak pernah putus mendoakan kedua orang tuanya.

Di hadapan peziarah, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih mengenang Ir. Dharmakum Darmokusumo sebagai “Bapak Reboisasi Kabupaten Gunungkidul”. Di bawah kepemimpinannya selama dua periode, Gunungkidul yang semula dikenal gersang dan tandus bertransformasi menjadi hijau melalui kebijakan-kebijakan visioner. Beberapa terobosan almarhum di antaranya seperti Kewajiban menanam 10 batang pohon jati bagi setiap pasangan yang hendak menikah, dan Gerakan Pawiatan Jati di lingkungan sekolah-sekolah, serta Pembagian bibit kelapa hibrida dan durian secara masif kepada warga setiap musim hujan tiba.

Bupati membagikan kenangan personal saat ayahnya, Kang Romo Ngarto, yang kala itu menjabat sebagai Lurah, ikut serta menggerakkan warga memikul bibit pohon ke desa-desa demi melestarikan lingkungan.

Menutup sambutannya di Gunung Sempu, Bupati mengutip kutipan bersejarah Bung Karno dalam buku Indonesia Menggugat, yang menekankan bahwa kemerdekaan dan kemajuan tidak datang secara instan, melainkan hasil dari kerja keras yang konsisten, persatuan yang kokoh, serta semangat membanting tulang demi masyarakat.

Seluruh rangkaian ziarah ini berkelindan erat dengan tema besar Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul, yaitu “Gayeng Guyub Waras Regane, Tentrem Atine”. Tema ini merangkum tiga pilar keharmonisan hidup, Kebersamaan dan kekeluargaan yang erat (gayeng guyub), Kesehatan fisik dan raga yang prima (waras regane), Kesejahteraan yang tumbuh beriringan dengan kedamaian batin serta kehidupan sosial yang seimbang (tentrem atine).

Bupati mengajak seluruh elemen pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan spirit para pendahulu sebagai pemantik motivasi agar masyarakat Gunungkidul memiliki semangat “berani hidup”, tidak mudah menyerah, dan terus memupuk optimisme dalam membangun daerah yang adil, makmur, lestari, serta berkeadaban.

Acara ziarah di Gunung Sempu ditutup secara khidmat dengan doa bersama. Doa bersama tersebut memohonkan ampunan, rahmat, serta tempat terbaik di sisi Allah SWT bagi almarhum Ir. Dharmakum Darmokusumo dan keluarganya, sekaligus memohon petunjuk agar generasi penerus mampu merawat warisan kebaikan bagi kemajuan Gunungkidul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *