Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) harus menjadi ruang yang aman, menyenangkan, dan mampu menghilangkan berbagai kekhawatiran peserta didik baru. Hal tersebut ditekankan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, saat menjadi pembina upacara sekaligus membuka secara resmi MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 di SMP Negeri 10 Yogyakarta, Senin (13/7).

Pada kesempatan tersebut, Hasto meninjau pelaksanaan penambahan dua rombongan belajar (rombel) di SMP Negeri 10 Yogyakarta yang tahun ini menerima tambahan 64 peserta didik baru. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kota Yogyakarta meningkatkan daya tampung SMP negeri seiring tingginya minat masyarakat.

Hasto mengatakan, penambahan rombel di SMP Negeri 10 menjadi langkah yang cukup istimewa karena dilakukan meski pembangunan fasilitas pendukung masih dipersiapkan.

“Umbulharjo sudah bertahun-tahun meminta tambahan kelas. Tahun ini meskipun belum punya gedung baru, kami tetap menambah dua rombel yang menerima 64 siswa. Saya berterima kasih kepada Pak Kepala Sekolah, seluruh guru dan siswa yang bersedia menerima penambahan kelas ini. Sambil berjalan nanti SD Mendungan 1 akan direhabilitasi menjadi Unit 2 SMP Negeri 10,” ujarnya.

Menurut Hasto, tingginya animo masyarakat masuk SMP negeri menjadi alasan utama pemerintah menambah daya tampung sekolah negeri.

“Animo masuk SMP negeri memang tinggi, sementara jumlah kursinya masih kurang. Karena itu kami terus menambah rombel. Sebelumnya sudah ada penambahan di SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 9. Kalau memang masih kurang, akan kami pelajari lagi kemungkinan penambahan di sekolah lain,” katanya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Yogyakarta juga sedang mempertimbangkan penambahan kelas olahraga di SMP Negeri 13. Selain menambah daya tampung, kebijakan tersebut diharapkan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi dari Kota Yogyakarta sejak usia sekolah.

Selain membuka MPLS, Hasto juga mengingatkan seluruh sekolah agar meninggalkan paradigma lama dalam pelaksanaan masa orientasi siswa. Menurutnya, MPLS bukan lagi ajang senioritas maupun perundungan, melainkan momentum membangun kedekatan antara sekolah dan peserta didik baru.

“Paradigma lama menganggap masa orientasi untuk membuat siswa baru tunduk kepada senior. Paradigma itu harus ditinggalkan. MPLS harus menjadi ice breaking. Guru perlu menggali harapan dan kekhawatiran anak-anak. Kalau kita tahu apa yang mereka khawatirkan, kita bisa membantu menghilangkan kekhawatiran itu,” jelasnya.

Ia berharap pada akhir pelaksanaan MPLS, peserta didik baru merasa nyaman berada di lingkungan sekolah karena berbagai kekhawatiran yang mereka rasakan telah teratasi.

“Kalau setelah lima hari MPLS sebagian besar kekhawatiran anak-anak sudah hilang, berarti MPLS itu berhasil. Tujuannya membuat anak nyaman, percaya diri, dan memiliki harapan selama belajar di sekolah,” tegasnya.

Hasto juga menekankan bahwa penambahan rombongan belajar tidak boleh mengurangi kualitas pendidikan.

“Rombel boleh bertambah, guru harus ditambah, ruang kelas disiapkan. Yang paling penting kualitas jangan sampai turun setelah jumlah siswanya bertambah,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 10 Yogyakarta, Edy Thomas Suharta, mengatakan pada tahun ajaran 2026/2027, SMP Negeri 10 Yogyakarta menerima 288 peserta didik baru setelah adanya penambahan dua rombongan belajar. Seluruh kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan di gedung sekolah yang ada sembari menunggu pengembangan fasilitas sebagai bagian dari penambahan kapasitas sekolah.

Pihaknya menegaskan sekolah telah menyiapkan berbagai langkah agar kualitas pendidikan tetap terjaga meski jumlah peserta didik bertambah.

“Kami meningkatkan kompetensi guru melalui workshop yang benar-benar sesuai kebutuhan. Misalnya ketika kami melihat kemampuan komunikasi guru perlu diperkuat, kami mengadakan pelatihan public speaking. Selain itu kami juga menekankan keramahan sehingga hubungan guru dengan siswa terasa dekat tetapi tetap menghormati etika,” kata Edy.

Menurutnya, peningkatan kualitas sekolah juga dilakukan melalui evaluasi pembelajaran secara rutin, pembenahan sarana prasarana, serta penguatan pendidikan karakter dan keagamaan.

“Hampir setiap hari kami melakukan refleksi terhadap kegiatan sekolah agar terus ada perbaikan. Pembinaan keagamaan juga kami kuatkan, baik bagi siswa muslim maupun nonmuslim, karena banyak orang tua menginginkan anak-anaknya tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter yang baik,” katanya.

Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui penyelenggaraan MPLS selama lima hari, 13–17 Juli 2026, yang tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membangun karakter peserta didik. Berbagai materi kegiatan dirancang agar siswa dapat beradaptasi dengan lingkungan baru secara menyenangkan sekaligus menumbuhkan karakter, budaya gotong royong, dan rasa memiliki terhadap sekolah.

Selain menyiapkan program pembelajaran, SMP Negeri 10 juga memiliki program kepedulian sosial berupa penyediaan seragam sekolah gratis bagi peserta didik yang membutuhkan. Seragam tersebut berasal dari donasi siswa yang telah lulus dan masih layak digunakan.

“Kami masih memiliki stok seragam yang disumbangkan oleh alumni atau siswa yang sudah lulus. Seragam itu kami berikan secara gratis kepada siswa yang membutuhkan sehingga seluruh anak bisa bersekolah dengan nyaman tanpa terbebani biaya,” pungkas Edy.