Semarang,REDAKSI17.COM – MTQ Nasional XXXI di Semarang bukan sekadar mempertemukan para peserta untuk mengejar prestasi terbaik dalam membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an. Lebih dari itu, perhelatan yang diikuti kafilah dari 37 provinsi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan keragaman Indonesia dalam satu semangat persaudaraan.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno saat membuka MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, Sabtu (12/09). Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X turut hadir dalam pembukaan yang menandai dimulainya MTQ Nasional XXXI tersebut.
Bagi Pratikno, MTQ memiliki makna yang lebih jauh daripada pencapaian dalam kompetisi. Perhelatan ini menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat sebagai bekal menuju Indonesia Emas.
“Indonesia emas membutuhkan manusia yang jujur, adil, disiplin, kreatif dan peduli pada sesama. Indonesia emas membutuhkan generasi yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi harus kuat dalam akhlak,” ujar Pratikno.
Karena itu, Al-Qur’an menurut Pratikno tidak cukup hanya dibaca dan dipahami. Nilai-nilainya perlu dihayati dan dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari. “Marilah kita membaca Alquran dengan hati, memahami dengan akal, menghayati dengan jiwa dan menghadirkannya dalam kehidupan nyata,” katanya.
Pesan tersebut menemukan bentuknya dalam keikutsertaan Kafilah DIY pada MTQ Nasional XXXI. DIY mengirimkan 54 peserta dengan didampingi 10 official untuk mengikuti 45 dari 48 kategori yang dipertandingkan, dengan peserta berasal dari berbagai latar pendidikan, mulai dari madrasah, pesantren, sekolah umum, hingga perguruan tinggi.
Salah satunya merupakan peserta tunanetra yang akan berlaga pada kategori Tilawah Tuna Netra Putra. Kehadiran peserta dengan latar dan kemampuan yang beragam tersebut memperlihatkan bahwa MTQ membuka ruang yang luas bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam mendalami dan mengamalkan Al-Qur’an.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mempertegas pesan tersebut dengan mengajak agar kedekatan dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca, menghafal, atau memahami ayat. Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an harus hadir dalam perilaku, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
“Semakin dekat seseorang kepada Alquran semestinya semakin mulia akhlaknya, semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” kata Nasaruddin.
Gagasan itu juga menjadi salah satu pijakan penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI yang mempertemukan peserta dari berbagai daerah dengan latar bahasa, budaya, dan tradisi yang berbeda. Kompetisi tetap berjalan, tetapi perjumpaan antarkafilah juga menjadi bagian penting dari penyelenggaraan MTQ sebagai ruang kebersamaan nasional.
Ketua LPTQ Nasional Abdurrrohman melaporkan, MTQ Nasional XXXI diikuti 2.242 peserta dari 37 provinsi. Kompetisi berlangsung dalam delapan cabang, 24 golongan, dan 48 kategori, dengan melibatkan 155 hakim yang dipersiapkan berdasarkan standar nasional serta dituntut menjaga independensi, objektivitas, dan profesionalitas.
MTQ Nasional XXXI berlangsung pada 11–20 September 2026 di sejumlah lokasi di Kota Semarang. Mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”, penyelenggaraan MTQ diarahkan tidak hanya untuk mencari peserta terbaik, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan.
Humas Pemda DIY





