Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Keberhasilan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi zakat, tetapi pada kemampuan membaca peluang serta membangun kepercayaan publik. Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) BAZNAS se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Grha Pandawa Balaikota Yogyakarta, Senin (13/4).
“Sebetulnya sukses itu hanya kita jeli melihat peluang. Kalau tidak ada peluang, kita ciptakan peluang. Dan yang tidak kalah penting adalah trust atau kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Hasto menekankan pentingnya membangun kepercayaan publik (trust) serta memperkuat peran strategis Baznas dalam menyelesaikan persoalan masyarakat yang belum terjangkau program pemerintah.
“Selain inovatif dan kreatif, komponen yang sangat penting adalah trust. Saya percaya hari ini trust terhadap BAZNAS sudah bagus, tapi akan lebih baik lagi jika terus dimediakan bahwa BAZNAS mampu menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat,” katanya.
Ia menyebutkan banyak persoalan di masyarakat yang tidak dapat diselesaikan melalui skema anggaran pemerintah, baik APBD maupun APBN, karena keterbatasan aturan dan peruntukan. Dalam kondisi tersebut, BAZNAS hadir sebagai solusi yang mampu mengisi celah (fill the gap).
“Banyak hal yang tidak bisa diselesaikan oleh APBD dan APBN, tetapi bisa diselesaikan oleh BAZNAS. Ini yang menurut saya sangat strategis, karena BAZNAS menyelesaikan masalah tanpa masalah,” tegasnya.
Hasto mencontohkan pengalaman langsung saat menerima aduan warga dalam kegiatan open house. Salah satunya seorang ibu yang kesulitan membiayai pendidikan anaknya hingga terancam tidak bisa mengikuti ujian. Permasalahan tersebut akhirnya dapat diselesaikan melalui intervensi BAZNAS.
“Kasus seperti itu nyata di lapangan. Ketika tidak bisa diselesaikan oleh skema lain, BAZNAS hadir dan mampu membantu. Ini yang harus terus disampaikan ke publik agar kepercayaan semakin meningkat,” ungkapnya.
Selain itu, program bedah rumah juga menjadi bukti konkret peran BAZNAS dalam membantu masyarakat. Hasto menyebut, dengan dukungan dana dari BAZNAS, pembangunan rumah tidak layak huni dapat diselesaikan dengan cepat melalui semangat gotong royong.
“Tahun 2025 kami bisa membangun 82 rumah tanpa APBD dan APBN, dan tahun ini ditargetkan 200 rumah. Ini menunjukkan bahwa BAZNAS benar-benar hadir menyelesaikan persoalan riil masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, Hasto mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap kelompok rentan yang selama ini kurang mendapat perhatian, seperti lansia terlantar dan janda tua. Menurutnya, kelompok ini justru menjadi persoalan nyata di masyarakat, namun belum banyak tersentuh program bantuan.
“Selama ini kampanye bantuan lebih banyak ke yatim piatu, padahal janda tua dan lansia terlantar juga sangat membutuhkan perhatian. Di sinilah BAZNAS harus hadir mengisi kekosongan itu,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua BAZNAS Kota Yogyakarta, Abdul Samik, melaporkan bahwa penghimpunan dana selama Ramadan 2026 mencapai Rp3,812 miliar atau melampaui target sebesar 100,3 persen.
Pihaknya juga mengungkapkan Baznas Kota Yogya mulai memperkuat program bantuan bagi kelompok rentan, khususnya janda dan lansia miskin yang tidak memiliki penopang ekonomi. Program ini bahkan dirancang sebagai bantuan berkelanjutan.
“Kami sudah mulai berjalan untuk bantuan janda dan lansia terlantar, bahkan ada yang sifatnya penyaluran seumur hidup. Selama yang bersangkutan masih ada, kita bantu secara rutin, biasanya kami berikan dalam bentuk sembako dan uang tunai,” jelas Abd Samik.
Menurutnya, bantuan tersebut tidak hanya diberikan secara insidental, tetapi juga mempertimbangkan kondisi penerima yang sebagian besar tidak lagi produktif dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
“Karena banyak lansia itu tidak bisa beraktivitas, maka bantuan kami sesuaikan. Tidak hanya uang, tapi juga kebutuhan pokok agar bisa langsung dimanfaatkan,” tambahnya.
Ke depan, BAZNAS Kota Yogya juga akan memperluas jangkauan penerima manfaat dengan menggandeng pemerintah wilayah dan unsur masyarakat, seperti lurah, camat, serta takmir masjid, guna memastikan bantuan tepat sasaran, terutama bagi warga miskin ekstrem.

Pada kesempatan tersebut, Ketua BAZNAS DIY, Puji Astuti, mengungkapkan bahwa BAZNAS Kota Yogyakarta menjadi yang tertinggi dalam penghimpunan dana.
“Untuk triwulan pertama, penghimpunan tertinggi ada di Kota Yogyakarta, hampir mencapai Rp5 miliar. Sementara untuk penyaluran, yang tertinggi adalah Sleman,” jelasnya.
Ia juga menyoroti capaian penghimpunan selama Ramadan yang kembali didominasi Kota Yogyakarta, sekaligus mendorong daerah lain untuk meningkatkan kinerja.
Lebih lanjut, Puji menekankan pentingnya tata kelola yang baik melalui penguatan sistem pelaporan, perencanaan anggaran, serta audit keuangan dan syariah.
“Kami berpegang pada prinsip tiga aman, yaitu aman syar’i, aman regulasi, dan aman NKRI. Ini harus dijaga bersama agar pengelolaan zakat tetap akuntabel dan dipercaya masyarakat,” tegasnya.


