MANTRIJERON,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta terus membangun  sistem jaringan hidran kering berbasis kampung setiap tahun. Pada tahun 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta akan membangun instalasi jaringan hidran kering di Kampung Suryowijayan Kelurahan Gedongkiwo, Mantrijeron. Sistem jaringan hidran kampung itu untuk memudahkan penanganan kebakaran di permukiman padat dan akses jalan kecil.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta Taokhid mengatakan rencana pembangunan instalasi jaringan hidran kering di Kampung Suryowijayan sudah memiliki Detail Engineering Design (DED) sejak lama. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta sudah membuat 27 DED instalasi hidran kering berbasis kampung. Kampung Suryowijayan juga dinilai masuk kategori rentan atau rawan kebakaran.
“Dari indeks kerentanannya itu, di sana termasuk kategori rentan karena padat penduduk dan akses jalannya juga kecil-kecil,” kata Taokhid ditemui di sela sosialisasi smart fire safety system, kemarin.
Menurutnya dari segi bangunan di wilayah Kampung Suryowijayan juga banyak bangunan bukan bangunan permanen yang  lebih aman terkait ketahanan terhadap kebakaran. Tetapi bahan-bahan bangunanmya mudah terbakar, sehingga rentan. Oleh sebab itu perlu dibangun instalasi hidran kering berbasis kampung di Suryowijayan.
Pembangunan hidran kampung di Suryowijayan menggunakan APBD Kota Yogyakarta tahun 2026 dengan pagu anggaran sekitar Rp 874 juta. Pengadaan pembangunan instalasi hidran kering berbasis kampung Suryowijayan telah dilelang di Layanan Pengadaan Lelang Secara Elektronik(LPSE). Pembangunan instalasi hidran kering berbasis kampung di Suryowijayan sepanjang sekitar 1.200 meter.

Dokumentasi foto Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Yogyakarta saat meninjau pembangunan instalasi hidran kering berbasis kampung tahun 2025. .

“Setelah selesai proses untuk tendernya (LPSE), baru nanti dilaksanakan pembangunannya. Kemungkinan sekitar pertengahan bulan Mei,” paparnya.
Taokhid menegaskan sasaran kegiatan penyusunan ppekerjaan konstruksi hidran kampung Suryowijayan adalah tersedianya jaringan hidran kampung. Di samping itu meningkatkan system proteksi pasif, proteksi aktif dan manajemen keselamatan kebakaran atau fire safety management (FSM) berbasis masyarakat atau kampung.
“Sudah ada DED sejak lama. Memang sosialisasi belum kita laksanakan, tapi secara informal melalui kelembagaan kelurahan maupun LPMK (Pirukunan Tuwanggana) sudah ada informasi awal. Tinggal nanti ketika proses tender sudah selesai, kemudian akan mulai untuk pelaksanaan, kita sosialisasi juga ke masyarakat,” terang Taokhid.
Diakuinya pembangunan instalasi hidran kering berbasis kampung tahun ini hanya satu kampung tiap tahun karena keterbatasan anggaran. Pembangunan hidran kampung  hanya menghabiskan DED yang sudah ada terlebih dahulu. Dia menyebut sampai kini total ada 19 hidran kampung di Kota Yogyakarta. Keberadaan instalasi hidran kering berbasis kampung cukup efektif agar penanganan kebakaran akan lebih cepat.
“Ketika sudah terbangun hidran kering di kampung juga akan diikuti dengan peningkatan kapasitas masyarakat sekitar. Sejauh ini kejadian kebakaran jarang sekali di tempat yang sudah ada sistem hidran kampungnya. Ini yang kita syukuri, karena tentunya kita berdoa meskipun dibangun (hidran kampung) tidak (kemudian) ada kejadian (kebakaran),” tandasnya.