Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menerima kunjungan kerja Pemerintah Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, yang dipimpin Wakil Wali Kota Lubuk Linggau Rustam Effendi. Kunjungan ini bertujuan untuk berdiskusi mengenai tata kelola ketenagakerjaan, mulai dari penurunan angka pengangguran hingga penguatan pelayanan ketenagakerjaan. Rombongan diterima langsung oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (22/7).
Rustam Effendi menyampaikan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Pemerintah Kota Lubuk Linggau untuk mempelajari berbagai kebijakan dan inovasi yang telah diterapkan Kota Yogyakarta dalam bidang ketenagakerjaan.
“Kehadiran kami di Kota Yogyakarta dilandasi keinginan untuk belajar. Kami meyakini Yogyakarta memiliki sejarah panjang sekaligus banyak pengalaman dalam penyelenggaraan pemerintahan yang dapat menjadi referensi bagi daerah lain,” ujar Rustam.
Ia menjelaskan, secara khusus rombongan ingin menggali berbagai kebijakan terkait pengelolaan ketenagakerjaan, baik bagi tenaga kerja di sektor swasta maupun pelayanan yang dilakukan pemerintah melalui perangkat daerah.
“Kami melihat Kota Yogyakarta sebagai salah satu daerah yang mampu menghadirkan berbagai solusi terhadap persoalan ketenagakerjaan dan penciptaan lapangan kerja. Sehingga apa yang kami pelajari di Kota Yogyakarta benar-benar dapat kami bawa pulang dan diterapkan di Kota Lubuk Linggau,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan bahwa karakteristik persoalan ketenagakerjaan di Kota Yogyakarta berbeda dengan daerah lain. Menurutnya, profil pengangguran di Kota Yogyakarta didominasi lulusan SMA dan perguruan tinggi sehingga strategi penanganannya juga disesuaikan.
“Di Kota Yogyakarta polanya memang berbeda. Profil pengangguran di kota ini didominasi oleh lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Dari sekitar 9 ribu penganggur, kurang lebih 3 ribu merupakan lulusan sarjana, sementara sekitar 6 ribu lainnya merupakan lulusan SMA. Karena itu, strategi yang kami lakukan adalah memperkuat bursa tenaga kerja agar mempertemukan pencari kerja dengan dunia usaha,” ujar Hasto.
Selain mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, Hasto mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta juga mendorong penyelenggaraan berbagai event yang mampu menggerakkan sektor pariwisata sekaligus menciptakan peluang kerja baru.
“Kami terus mendorong lahirnya berbagai kegiatan di Kota Yogyakarta, terutama event-event yang menjadi daya tarik wisata. Dengan kegiatan yang berlangsung secara berkala, wisatawan akan terus datang, perputaran ekonomi meningkat, dan lapangan pekerjaan baru ikut terbuka. Itulah pendekatan yang kami gunakan untuk mengurangi angka pengangguran di Kota Yogyakarta,” jelasnya.
Hasto juga mengungkapkan Pemerintah Kota Yogyakarta tengah menyiapkan inovasi penyebarluasan informasi lowongan pekerjaan kepada siswa kelas XII SMA dan SMK bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY. Program tersebut diharapkan dapat mempercepat transisi lulusan sekolah ke dunia kerja sehingga mampu menekan munculnya pengangguran baru.
Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga mulai menjajaki kerja sama dengan perusahaan dan lembaga pelatihan yang menyiapkan tenaga kerja untuk penempatan di luar negeri.
“Nantinya siswa SMA maupun SMK yang berminat dapat mengikuti pelatihan terlebih dahulu tanpa harus membayar biaya di awal. Setelah mereka memperoleh pekerjaan, biaya pelatihan baru dibayarkan secara bertahap. Dengan mekanisme ini kami berharap kesempatan kerja semakin luas sekaligus membantu mengurangi angka pengangguran,” tambahnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Kota Yogyakarta Patricia Heny Dian Anitasari menjelaskan berbagai program yang telah dijalankan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Saat ini tingkat pengangguran terbuka di Kota Yogyakarta berada di kisaran 5 persen dengan jumlah sekitar 2.336 orang, yang mayoritas merupakan lulusan SMA dan SMK.
Ia menjelaskan salah satu upaya yang dilakukan adalah penyelenggaraan Job Fair Kota Yogyakarta pada 14–15 Juli lalu dengan menyediakan sekitar 3 ribu lowongan pekerjaan dari berbagai perusahaan, serta melibatkan Lembaga Bursa Kerja (LBK) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK).
“Kami juga menyiapkan sejumlah perusahaan yang membuka lowongan khusus bagi teman-teman disabilitas. Di Kota Yogyakarta kami sangat berkomitmen terhadap ketenagakerjaan yang inklusif. Pada Job Fair kemarin ada sekitar enam perusahaan yang secara khusus merekrut tenaga kerja disabilitas,” ujarnya.

Selain Job Fair, Dinsosnakertrans juga menjalankan program padat karya, pelatihan berbasis kompetensi, serta penempatan tenaga kerja sesuai kebutuhan dunia usaha. Salah satu pelatihan yang saat ini mendapat antusiasme tinggi adalah pelatihan Bahasa Jepang.
“Kami terus menyesuaikan jenis pelatihan dengan kebutuhan perusahaan. Pada angkatan pertama pelatihan Bahasa Jepang tersedia 16 formasi, namun jumlah pendaftarnya jauh melebihi kuota sehingga kami akan membuka angkatan kedua. Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat sekaligus besarnya kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja yang memiliki kemampuan berbahasa Jepang,” jelas Heny.
Ia menambahkan, setelah peserta menyelesaikan pelatihan, Dinsosnakertrans melakukan penempatan kerja melalui kerja sama dengan sekitar 1.725 perusahaan mitra. Berbagai layanan ketenagakerjaan, mulai dari konsultasi hubungan industrial, mediasi perselisihan, pencatatan PKB dan PKWT hingga layanan informasi ketenagakerjaan, juga telah terintegrasi melalui aplikasi Jogja Smart Service (JSS).


