MERGANGSAN,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui dinas-dinas terkait, kelurahan dan kemantren menggiatkan sambang warga atau mengunjungi keluarga dengan anak risiko stunting setiap Jumat. Kegiatan itu untuk melihat langsung kondisi anak, memberikan edukasi terkait pencegahan stunting serta menyerahkan bantuan pemberian makanan tambahan (PMT) telur ayam dan susu. Diharapkan melalui sambang kampung itu dapat mencegah dan mengurangi stunting di Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas mengatakan kegiatan sambang warga yang rutin dilaksanakan setiap hari Jumat itu awalnya hanya diikuti DPA3P2KB. Kemudian melibatkan organisasi perangkat daerah terkait seperti Dinas Kesehatan, Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan, Baznas Kota Yogyakarta dan kader terkait di wilayah. Ada tiga warga dengan anak risiko stunting di wilayah Keparakan yang dikunjungi dalam sambang warga pada Jumat (25/9/2026).

“Kita melihat secara langsung kondisi anak-anak. Sebenarnya bukan hanya anak-anak, tetapi ibu hamil dan ibu nifas juga kondisi di lapangan seperti apa. Ternyata memang banyak kita temui permasalahan-permasalahan yang itu tidak hanya sekedar tidak mau makan, tidak hanya kekurangan PMT dan sebagainya. Tapi masih banyak faktor lainnya,” kata Retnaningtyas ditemui di sela sambang warga keluarga risiko stunting di Keparakan.

Penyerahan PMT beruapa telur ayam kepada keluarga dengan anak berisiko stunting saat sambang warga di Keparakan. 

Menurutnya banyak faktor lain yang menjadi permasalahan terkait stunting. Misalnya terkait edukasi, kondisi lingkungan dan usia perkawinan yang ternyata masih ada ibu-ibu muda ini yang menikah di bawah umur. Kondisi itu berisiko menimbulkan stunting di Kota Yogyakarta. Selain melihat kondisi anak dan edukasi terkait stunting, ada pemberian PMT berupa telur dan susu CSR dari Nestle untuk anak-anak yang berisiko stunting. Dia menyatakan kondisi perkembangan anak setelah mengonsumsi susu akan dipantau puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta.

“Harapannya dengan kegiatan ini, karena ini banyak yang melakukan intervensi. Harapannya edukasi langsung kepada keluarga-keluarga berisiko stunting, semakin bisa diterima masyarakat, ada perubahan pola di keluarga-keluarga yang berisiko stunting. Kemudian banyak pihak yang akan sama-sama terlibat untuk mengurangi stunting di Kota Yogyakarta karena tidak hanya terkait dengan PMT tapi banyak hal yang bisa mempengaruhi stunting,” terangnya.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti menyebut data terakhir angka prevalensi stunting di Kota Yogyakarta adalah 8,25 persen. Sedangkan angka stunting barunya saat ini di Kota Yogyakarta sekitar 0,4 persen. Angka itu sudah memenuhi standar dari pemerintah pusat yang di angka 3 persen. Pihaknya menegaskan dalam pencegahan dan penanganan stunting Dinas Kesehatan bersama-sama dengan dinas yang lain tergabung dalam Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Yogyakarta. Dinas Kesehatan melakukan intervensi spesifik terkait kesehatan.

Kegiatan sambang warga ke keluarga berisiko stunting melibatkan dinas terkait dan pemangku wilayah serta kader di Keparakan. 

“Untuk pencegahan itu mulai dari remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah, pemeriksaan kesehatan calon pengantin, pemeriksaan kesehatan ibu hamil di puskesmas hingga setelah melahirkan penanganan pada balita. Jadi memang semua upaya kita laksanakan mulai dari pencegahan sampai penanganan stunting. Kita upayakan mencegah adanya stunting baru karena sebetulnya kalau sudah stunting, itu sangat berat untuk mengentaskannya. Tentu yang sudah stunting kita tangani sesuai tata laksana seperti rujukan ke rumah sakit rujukan stunting,” jelas Aan.

Dia juga mendorong ibu-ibu yang memiliki anak bayi dan balita rutin datang ke posyandu di wilayah masing-masing karena ada pemeriksaan dan penguku

Salah satu warga yang mendapat kunjungan sambang warga keluarga risiko stunting di Keparakan, Anis menyambut baik kegiatan itu. Dia merasa terbantu dengan adanya pengecekan langsung serta pemberian PMT telur dan susu. Selama ini dia mengaku kondisi berat badan anaknya tidak stabil meskipun sudah diberikan minuman susu formula. Ia berharap kegiatan tersebut bisa rutin diadakan.

Penyerahan csr susu kepada keluarga dengan anak berisiko stunting saat sambang warga di Keparakan.

“Ya bagus. Jadi membantu. Anak-anak biar nggak ada yang stunting lagi gitu. Beratnya tuh naik turun. Harapannya kalau bisa rutin, lebih baik,” ujar Anis.