Jakarta,REDAKSI17.COM – Pengamat Timur Tengah Dr. Dina Y. Sulaeman menilai Amerika Serikat mendapat lawan sepadan dalam konfliknya dengan Iran.
Pendapat itu ia sampaikan dalam episode Tribunnews On Focus yang tayang Senin (3/8/2026).
Dina Sulaeman membedah akar konflik AS-Iran, motif di balik kebijakan Presiden Donald Trump yang berubah-ubah, hingga posisi negara-negara Teluk, Rusia, dan Tiongkok dalam pusaran ketegangan ini.
“Amerika Serikat itu menghadapi lawan yang belum pernah ada sebelumnya,” ujar Dina, menjelaskan mengapa perang kali ini tak kunjung usai seperti yang diperhitungkan Washington sejak awal.
Pendapat serupa juga diungkap oleh Dosen Hubungan Internasional BINUS University, Tia Mariatul Kibtiah, menegaskan bahwa banyak pihak keliru jika menyamakan Iran dengan negara-negara Timur Tengah lain yang pernah mengalami pergantian rezim akibat intervensi asing.
Menurutnya, struktur politik, karakter masyarakat, hingga posisi strategis Iran membuat setiap upaya untuk menggoyang pemerintahan di Teheran menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.
“Amerika Serikat lupa Iran itu beda dengan Irak,” kata Tia dalam dialog Sapa Indonesia Pagi KOMPASTV, Senin (3/8/2026).
Tia menjelaskan, Iran memiliki sistem pemerintahan yang bertumpu pada konsep Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader), sebuah struktur kekuasaan yang dinilai mampu menjaga stabilitas politik di tengah berbagai tekanan dari luar negeri.
Kondisi tersebut, lanjutnya, sangat berbeda dengan Irak pada era Saddam Hussein yang saat itu dibayangi konflik internal, perpecahan politik, serta melemahnya dukungan dari dalam negeri.
“Ini bukan Irak, ini bukan Libya, bukan Suriah yang mudah ditumbangkan karena memang sebagian rakyatnya tidak mendukung,” ujar Tia.
Tak hanya faktor politik, Tia menilai letak geografis Iran juga menjadi salah satu alasan mengapa negara itu tidak bisa diperlakukan seperti negara-negara lain yang pernah menjadi sasaran operasi militer Amerika Serikat.
Iran berada di jantung kawasan Timur Tengah, berbatasan dengan sejumlah negara penting, serta memiliki pengaruh besar terhadap dinamika keamanan regional.
Karena itu, setiap eskalasi konflik berpotensi memicu efek domino yang meluas hingga menyeret negara-negara sekutu Washington di kawasan.
Di tengah konflik yang masih panas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump terang-terangan memuji ketangguhan Iran selama periode perang.





