Gedongtengen,REDAKSI17.COM – Beragam komunitas pariwisata memeriahkan Pawai Ekosistem Malioboro di kawasan Jalan Malioboro, Selasa (6/10/2026). Kegiatan ini menjadi rangkaian road to Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) ke-10 sekaligus memeriahkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.
Pawai diikuti Komunitas Karnaval Bakpiaku, Komunitas Sepeda Onthel, Komunitas Sepeda Jawa, Komunitas Becak, Komunitas Andong, serta Marching Band UPN Veteran Yogyakarta. Kehadiran berbagai komunitas tersebut menghidupkan suasana Malioboro sekaligus menunjukkan beragam potensi dalam ekosistem pariwisata Kota Yogyakarta.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati mengatakan Pawai Ekosistem Malioboro untuk pertama kalinya digelar sebagai ruang bagi komunitas pariwisata untuk berpartisipasi dalam rangkaian HUT Kota Yogyakarta.
“Untuk pertama kali kita mengadakan pawai komunitas pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta. Komunitas dan komponen pariwisata di sepanjang Malioboro sangat antusias mendukung kegiatan ini,” ujar Daning.
Rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Senin (5/10/2026) dengan penampilan band-band komunitas di kawasan Malioboro. Setelah pawai komunitas, rangkaian dilanjutkan Pawai Budaya Nuswantoro pada Rabu (7/10/2026) yang melibatkan tujuh pemerintah daerah.
Pada malam harinya, WJNC ke-10 digelar di kawasan Titik Nol Kilometer dengan menampilkan potensi seni dan budaya dari 14 kemantren di Kota Yogyakarta.
Daning berharap rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi wisatawan, tetapi juga memberi dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat. Aktivasi kawasan dan keterlibatan komunitas diharapkan dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan sekaligus meningkatkan belanja wisatawan melalui UMKM.
“Length of stay-nya dapat, pemberdayaan masyarakat melalui UMKM dapat, spending money-nya juga dapat. Wisatawan belanja sehingga perekonomian bisa bergerak dan kesejahteraan masyarakat Kota Yogyakarta melalui pariwisata bisa diwujudkan bersama-sama,” katanya.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan keterlibatan komunitas dalam rangkaian HUT ke-270 Kota Yogyakarta sejalan dengan tema “Otentik Konkret”. Tema tersebut, menurutnya, mengajak masyarakat mengangkat kekhasan Yogyakarta sekaligus menerjemahkannya dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat.
“Kita ingin mengangkat hal-hal yang menjadi ciri khas Kota Yogyakarta sebagai kota budaya, kota pariwisata, kota pendidikan, kota pelajar, dan tentu banyak kearifan yang otentik di Kota Yogyakarta,” ujar Hasto.
Hasto menegaskan keotentikan tersebut harus diwujudkan dalam kegiatan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
“Otentik seperti apa pun, kalau tidak bermanfaat bagi masyarakat, maka namanya tidak concrete. Kita ingin menerjemahkan bagaimana hal-hal yang otentik itu kemudian bisa diterjemahkan dalam langkah-langkah concrete yang bisa dinikmati oleh warga masyarakat,” katanya.
Menurut Hasto, Pawai Ekosistem Malioboro menjadi salah satu bentuk nyata menghidupkan komunitas sekaligus menggerakkan UMKM.
“Kegiatan sore hari ini juga bagian untuk menghidupkan komunitas ekosistem yang ada, yang juga didukung oleh masyarakat, kemudian menghidupkan UMKM yang ada di Kota Yogyakarta,” ujarnya.
Salah satu peserta, Marhaen Roja dari Komunitas Onthels Djadoel Jogjakarta (Kodja), mengatakan komunitasnya telah berusia 16 tahun dan konsisten mengikuti berbagai kegiatan di Kota Yogyakarta.
“Kita ngontel bareng dan setiap ada event pasti mengikuti. Setiap tiga bulan juga kita ngontel bareng sampai Jogja-Borobudur,” kata Marhaen.
Dalam pawai tersebut, Marhaen membawa sepeda onthel produksi sekitar 1950-an. Ia menyebut sejumlah sepeda anggota Kodja bahkan lebih tua, dengan produksi sekitar 1930-an.
Menurutnya, keberadaan komunitas sepeda onthel perlu terus dijaga melalui kegiatan dan regenerasi anggota.
“Insyaallah kita selalu eksis, selalu ada regenerasi. Kodja sudah 16 tahun dan selalu eksis. Setiap ada event di Malioboro kita ikut dan mendapat undangan lagi,” ujarnya.
Pawai Ekosistem Malioboro juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Fitri dan suaminya, Wang, wisatawan asal Taiwan yang sedang berlibur di Yogyakarta, menyempatkan diri menyaksikan pawai sebagai bagian dari rangkaian menuju WJNC.
Fitri mengaku terkesan dengan suasana pawai yang menghadirkan beragam budaya dan komunitas di kawasan Malioboro.
“Luar biasa menarik. Ada karnaval budaya yang meriah dan gratis di kawasan ikonik Malioboro,” katanya.


