Kulon Progo,REDAKSI17.COM – Ketika sebagian wilayah di Pulau Jawa sempat mengalami pemadaman listrik pada pertengahan 2026, warga Dusun Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, menjalani hari seperti biasa. Lampu rumah tetap menyala, bengkel tetap beroperasi, dan aktivitas warga berlangsung tanpa gangguan. Bagi masyarakat Kedungrong, listrik yang menerangi kehidupan mereka tidak semata berasal dari jaringan besar, melainkan dari aliran air yang mengalir di lereng Perbukitan Menoreh.
Di dusun yang dikelilingi hamparan persawahan hijau itu, suara gemericik air telah lama menjadi bagian dari kehidupan warga. Namun sejak 2012, aliran irigasi Kalibawang tidak hanya mengairi lahan pertanian, tetapi juga menjadi sumber energi yang menerangi rumah-rumah penduduk melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Kedungrong. Pembangkit ini dikelola secara swadaya oleh warga melalui Komunitas Mikrohidro Terpadu Indonesia (KMTI) Kedungrong. Pengelolaannya dilakukan secara mandiri dengan dukungan iuran perawatan yang terjangkau dari masyarakat.
Berdiri di antara saluran air dan bangunan sederhana pembangkit, Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini atau yang akrab disapa Rini, mengenang perjalanan panjang yang mengubah dusunnya menjadi salah satu contoh kemandirian energi berbasis komunitas di DIY. Gagasan itu berawal pada 2009 saat mahasiswa KKN Universitas Gadjah Mada melihat besarnya potensi debit air Sungai Kalibawang yang mampu menggerakkan turbin mikrohidro.
“Awalnya hanya kecil untuk penerangan jalan. Kemudian pada 2012 dibangun lebih baik dengan dukungan masyarakat, pemerintah daerah, Dinas PU ESDM DIY, dan BBWSO. Akhir November 2012 mulai beroperasi dan sampai sekarang Alhamdulillah masih terus berjalan serta dikelola secara swadaya oleh warga melalui KMTI PLTMH Kedungrong,” tutur Rini saat ditemui di PLTMH Kedungrong, Selasa (30/6).
Dari sebuah inisiatif sederhana, PLTMH Kedungrong kini mampu melayani sekitar 50 kepala keluarga. Daya listrik sebesar 18 kilowatt yang dihasilkan tidak hanya mencukupi kebutuhan penerangan rumah dan sekitar 30 titik lampu jalan, tetapi juga menopang berbagai aktivitas ekonomi warga. Bengkel, pertukangan kayu, usaha jahit, laundry, salon, hingga usaha pembuatan es kristal dapat berjalan dengan dukungan energi bersih yang dihasilkan dari aliran air.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran aktif masyarakat. Setiap keluarga secara rutin membayar iuran Rp12.000 setiap 35 hari untuk mendukung operasional dan pemeliharaan pembangkit. Nilai yang relatif kecil itu menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong warga dalam menjaga sumber energi yang mereka miliki bersama. Kesadaran kolektif inilah yang membuat PLTMH Kedungrong mampu bertahan dan terus beroperasi selama 14 tahun.
“Waktu kemarin terjadi pemadaman listrik di Jawa, dusun kami tetap terang. Bahkan banyak warga tidak tahu kalau ada pemadaman karena listrik mikrohidro tetap berjalan. Selama aliran air lancar, listrik kami aman,” ujar Rini.
Di balik aliran listrik yang menerangi dusun, terdapat proses sederhana yang memanfaatkan kekuatan alam secara berkelanjutan. Teknisi PLTMH Kedungrong, Rejo Handoyo, menjelaskan sistem mikrohidro memanfaatkan aliran air yang dialihkan melalui sodetan menuju bak penampungan sebelum masuk ke turbin. Putaran turbin kemudian menggerakkan generator yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik untuk dialirkan ke rumah-rumah warga.
“Dari saluran irigasi kami membuat sodetan untuk menampung air dengan kapasitas sekitar 800 hingga 1.500 meter kubik. Air kemudian diatur masuk ke turbin sesuai kebutuhan. Ketika turbin berputar, energi mekanik diteruskan ke generator dan diubah menjadi energi listrik yang kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga,” jelas Rejo.
Menurutnya, teknologi mikrohidro menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat ini PLTMH Kedungrong menggunakan dua generator berkapasitas 18 kW yang dioperasikan secara bergantian. Selain itu, kawasan pembangkit juga dilengkapi Laboratorium Terpadu Mikrohidro yang menjadi tempat riset dan pembelajaran energi terbarukan bagi mahasiswa, peneliti, maupun masyarakat umum.
“Selama debit air mencukupi dan saluran terjaga dengan baik, listrik akan terus mengalir. Karena itu kami bersama warga rutin melakukan pemeliharaan agar sistem tetap bekerja optimal,” tambah Rejo.
Dukuh Kedungrong, Suprihatin menegaskan keberadaan PLTMH telah memberikan rasa aman sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain menerangi sekitar 50 kepala keluarga, listrik mikrohidro juga mendukung berbagai usaha produktif warga serta penerangan jalan di puluhan titik. Ketika terjadi gangguan pasokan listrik di luar wilayah, masyarakat Kedungrong tetap dapat beraktivitas secara normal.
“Kami sangat terbantu. Masyarakat tidak lagi khawatir jika ada pemadaman listrik. Bahkan banyak warga tidak tahu kalau ada pemadaman karena listrik di sini tetap menyala. Ini semua karena masyarakat ikut menjaga dan merasa memiliki,” ungkapnya.
Semangat handarbeni atau rasa memiliki itulah yang membuat PLTMH Kedungrong tetap bertahan ketika banyak pembangkit mikrohidro di berbagai daerah berhenti beroperasi. Warga tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penjaga keberlangsungan energi yang mereka nikmati bersama.
PLTMH Kedungrong juga berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang menarik perhatian banyak kalangan. Mahasiswa, peneliti, hingga pelajar dari berbagai daerah datang untuk melihat secara langsung bagaimana energi air dapat diubah menjadi listrik. Bahkan sejumlah perguruan tinggi, termasuk dari luar negeri, pernah melakukan kunjungan untuk mempelajari model pengelolaan energi berbasis masyarakat yang diterapkan di Kedungrong.
Lebih dari satu dekade berjalan, PLTMH Kedungrong telah melampaui fungsi dasarnya sebagai pembangkit listrik. Ia menjadi simbol ketangguhan masyarakat desa dalam memanfaatkan potensi lokal, menjaga lingkungan, sekaligus membangun kemandirian energi. Di tengah tantangan transisi energi dan kebutuhan akan sumber energi bersih yang berkelanjutan, warga Kedungrong membuktikan perubahan dapat dimulai dari komunitas kecil yang memiliki semangat besar.
Dari aliran irigasi Kalibawang yang tak pernah berhenti mengalir, lahir cahaya yang menerangi rumah-rumah warga sekaligus menyalakan harapan. Kedungrong menunjukkan kemandirian energi bukan sekadar konsep, melainkan kenyataan yang tumbuh dari gotong royong, kepedulian, dan tekad masyarakat untuk menjaga masa depan mereka sendiri. Ketika banyak tempat meredup, dusun kecil di Menoreh ini justru menunjukkan bagaimana cahaya kemandirian dapat terus menyala dan menginspirasi.
Humas Pemda DIY




