KULON PROGO,REDAKSI17.COM — Persis di sudut Lapangan Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo, berdiri sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Sekolah itu adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nanggulan.
Meski posisinya tersembunyi dari pandangan masyarakat, aktivitas di dalamnya tetap hidup oleh semangat anak-anak disabilitas yang belajar dengan penuh keterbatasan ruang.
Kepala SLB PGRI Nanggulan, Veronica Wahyu Utari, menjelaskan bahwa sekolah ini merupakan yang terkecil di Kulon Progo dari segi luasan area. “Dari 8 SLB di Kulon Progo, kami yang paling kecil,” ungkap Veronica saat ditemui pada Jumat (08/05/2026).
Kondisi ini membuat aktivitas pendidikan kurang kondusif karena jumlah pelajar mencapai 59 orang dengan hanya 12 guru yang mengajar.
Ruang kelas yang terbatas sering kali diubah menjadi ruang serbaguna demi mengakomodasi pembelajaran keterampilan, seperti menari, tata boga, dan menjahit.
Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal bagi para siswa ketika mereka lulus nanti.
Mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tentu bukan hal mudah.
Mayoritas siswa memiliki keterbatasan intelektual sehingga para guru harus sabar dan kreatif dalam menjelaskan materi hingga benar-benar dipahami.
Veronica, yang sudah mengajar sejak 2007, menegaskan bahwa niat tulus dari hati menjadi alasan utama para guru tetap betah mengabdi. “Kami melihat ada sisi ibadah yang kami tangkap dengan mengajar anak-anak di sini,” jelasnya.
SLB PGRI Nanggulan juga memberikan dukungan penuh kepada para siswa. Anak-anak yang bersekolah di sana tidak dipungut biaya sama sekali.
Bahkan pihak sekolah menyediakan bantuan berupa alat tulis hingga seragam secara cuma-cuma.
Hal ini menunjukkan komitmen besar untuk memastikan pendidikan inklusif tetap berjalan meski dengan segala keterbatasan.
Veronica berharap niat tulus para guru bisa berbuah manis bagi masa depan anak-anak disabilitas. Ia ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berkontribusi di masyarakat.
“Kami usahakan mereka tumbuh menjadi mandiri untuk mereka sendiri,” ujar ibu dua anak ini.
Salah satu guru yang telah lama mengabdi di SLB PGRI Nanggulan adalah Sriningsih. Ia mulai mengajar sejak 2005 dan bertahan hingga kini, lebih dari dua dekade.
Baginya, profesi guru SLB adalah panggilan hati. Sriningsih menilai anak-anak disabilitas sebagai pribadi istimewa meski memiliki keterbatasan.
“Selama mengajar di sini perlu pakai hati, dan yang utama kesabaran,” katanya.
Dedikasi para guru di SLB PGRI Nanggulan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bukan sekadar soal fasilitas, melainkan tentang ketulusan dan komitmen.
Meski ruang terbatas dan kesejahteraan guru tidak seberapa, semangat mereka tidak pernah padam.
Mereka tetap berjuang agar anak-anak disabilitas mendapatkan hak pendidikan yang layak, sekaligus kesempatan untuk tumbuh menjadi individu yang mandiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Para-Guru-dari-SLB-Terkecil-di-Kulon-Progo.jpg)
