Jakarta,REDAKSI17.COM – Cahaya panggung Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (16/5) malam, perlahan meredup. Sesaat kemudian, denting instrumen orkestra berpadu dengan bunyi gamelan dan alat musik tradisi Nusantara menghadirkan atmosfer megah sekaligus hangat. Di antara ratusan penonton yang memenuhi gedung pertunjukan, tampak Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X hadir didampingi GKR Hemas menyaksikan konser Yogyakarta Royal Orchestra (YRO) bertajuk “Gregah Nusa”.
Bukan sekadar konser musik, Gregah Nusa menjadi panggung perjumpaan tradisi dan modernitas, sekaligus penanda bagaimana budaya terus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan akar. Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional, Keraton Yogyakarta membawa pesan tentang identitas bangsa, keberagaman, dan semangat bangkit melalui bahasa universal bernama musik.
Ketua Panitia, GKR Bendara, menjelaskan Gregah Nusa lahir dari kegelisahan sekaligus harapan agar budaya tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi energi masa depan. Gregah dalam bahasa Jawa berarti bangkit, sedangkan nusa merujuk pada tanah air..”Konser ini menjadi seruan untuk membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat terhadap identitas bangsa melalui musik,” ujarnya.
Bagi Keraton Yogyakarta, Jakarta bukan sekadar lokasi pertunjukan. Ibu kota dipilih sebagai ruang strategis untuk mempertemukan budaya Jawa dengan audiens yang lebih luas dan beragam. Melalui YRO, Keraton ingin menghadirkan budaya sebagai ruang dialog yang inklusif dan dapat diterima lintas generasi.
“Ini agenda tahunan Keraton hadir di Jakarta. Selain konser orkestra, kami juga menghadirkan instalasi pameran bertema Gregah Nusa. Harapannya, kegiatan ini dapat terus hadir setiap tahun,” ungkap GKR Bendara.
Di tangan YRO, musik tradisi tampil dalam wajah baru. Orkestra Barat dipadukan dengan instrumen Nusantara melalui penyelarasan sistem musikal diatonis dan pentatonis. Hasilnya bukan sekadar kolaborasi tempelan, melainkan harmoni baru yang menghadirkan identitas khas Indonesia di atas panggung modern.
GKR Bendara menegaskan langkah tersebut merupakan bentuk repackaging budaya agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, budaya tidak pernah kuno, melainkan bergantung pada cara mengemas dan memperkenalkannya kepada publik.
“Budaya orkestra sebenarnya sudah ada sejak masa HB VII dan HB VIII. Tantangannya hari ini adalah bagaimana mengemas ulang tradisi tanpa melewati batas antara modernitas dan nilai budaya itu sendiri,” tandasnya.
Dengan Konduktor MB Manggalawaditra, YRO bersama Yogyakarta Royal Choir mempersembahkan delapan lagu istimewa dalam konser tersebut. Penampilan juga dimeriahkan Solois Violin MJ Cokrowaditro, Solois Cello Raden Dwityatama Darmasakti, serta Cokekan dan Sinden Kawedanan Kridhamardawa.
Lagu “Jenang Gulo” menjadi pembuka konser dan ditutup dengan lagu “Koyo Jogja Istimewa”.
Konser malam itu semakin hidup lewat kolaborasi bersama musisi asal Bantul, Helarius Daru Indrajaya atau Ndarboy Genk. Kehadirannya memberi warna berbeda sekaligus menjadi simbol keterbukaan YRO terhadap kolaborasi lintas genre dan generasi. Lagu-lagu populer khas Ndarboy seperti “Indonesia Bakoh”, “Lanang Tenan”, dan “Koyo Jogja Istimewa” berpadu dengan sentuhan orkestra megah, disambut meriah penonton yang memenuhi auditorium.
Bagi Daru, kolaborasi bersama YRO bukan hanya pengalaman musikal, tetapi juga kebanggaan sebagai seniman daerah yang mendapat ruang tampil di panggung nasional..“Senang dan bangga tahun ketiga bisa kembali berkolaborasi bersama YRO. Semoga YRO terus memberi kesempatan bagi seniman-seniman Yogyakarta untuk berkembang dan berkolaborasi. Konser seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibanding tampil di panggung biasa,” terangnya.
Sementara itu, Project Manager konser, Bagus Pradipta, menyebut Gregah Nusa sebagai metafora kebangkitan nasionalisme Indonesia. Semangat tersebut sengaja dihadirkan berdekatan dengan momentum lahirnya Boedi Oetomo sebagai tonggak kebangkitan bangsa..“Gregah Nusa bermakna bangkitnya bangsa dari keterpurukan, yang menjadi simbol awal pergerakan modern melawan kolonialisme,” imbuhnya.
Keraton berharap konser ini memberi dampak nyata, terutama bagi generasi muda. Tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan dan dorongan untuk melestarikannya.
Melalui YRO, Keraton Yogyakarta tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga memperlihatkan budaya mampu menjadi kekuatan pemersatu di tengah perubahan zaman. Dari panggung YRO, budaya bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan napas yang terus hidup, bergerak, dan membangkitkan bangsa.
Humas Pemda DIY




