Tidak Ada Kasus Ebola di Yogya, Kewaspadaan Tetap Dijaga

UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengajak masyarakat untuk terus menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular, khususnya bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi dan sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul penetapan status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 17 Mei 2026 terkait wabah Ebola yang terjadi di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).
Ketua Tim Kerja Surveilans, Pengelola Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Sholikhin Dwi Ramtana, mengatakan hingga saat ini tidak ditemukan kasus Ebola di Kota Yogyakarta maupun di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kalau di Kota Yogyakarta tidak ada kasus, di tingkat provinsi juga tidak ada kasus. Namun demikian, kami tetap melakukan penguatan surveilans, baik surveilans rutin maupun berdasarkan indikator tertentu yang mengarah pada penyakit infeksi menular,” jelas Sholikhin saat diwawancarai, Jumat (5/6).
Menurut Sholikhin, pengawasan dilakukan melalui pemantauan kunjungan pasien di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Apabila ditemukan gejala atau indikasi yang mengarah pada penyakit tertentu, maka akan dilakukan penelusuran dan pemeriksaan lebih lanjut.
Selain memperkuat sistem pengawasan, Dinkes Kota Yogyakarta juga mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan PHBS sebagai langkah utama pencegahan penyakit menular.
“Yang paling penting adalah perilaku hidup bersih dan sehat, terutama mencuci tangan dengan sabun. Cuci tangan menjadi salah satu kunci utama dalam pencegahan berbagai penyakit menular,” katanya.
Ia menambahkan, kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama terhadap individu yang memiliki intensitas mobilitas tinggi, khususnya perjalanan internasional. Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik karena hingga kini belum ada kasus Ebola di Indonesia.
“Lokasi wabah berada di Afrika, tepatnya di Republik Demokratik Kongo. Mobilitas masyarakat dari wilayah tersebut ke Indonesia relatif rendah dan aksesnya cukup jauh. Selain itu, hingga saat ini belum ditemukan kasus di negara-negara sekitar Indonesia,” jelasnya.
Sholikhin menjelaskan bahwa Ebola merupakan salah satu penyakit infeksi emerging yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi, yakni rata-rata mencapai 50 persen. “Penularannya relatif cepat karena terjadi melalui kontak langsung dengan penderita, cairan tubuh, luka terbuka, maupun benda yang terkontaminasi. Karena itu kewaspadaan tetap perlu dijaga,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, hingga saat ini penanganan Ebola masih menjadi tantangan karena belum tersedia terapi spesifik yang benar-benar efektif untuk beberapa varian terbaru virus tersebut.
Ia menjelaskan, gejala awal Ebola meliputi, demam tinggi yang muncul secara tiba-tiba, sakit kepala, lemas, mual dan muntah, diare, nyeri perut. Sementara gejala lanjutan yang umumnya muncul 5–7 hari setelah gejala awal antara lain, perdarahan dari mulut dan hidung, perdarahan pada bekas luka atau bekas suntikan, perdarahan internal maupun eksternal. Masa inkubasi virus Ebola berkisar antara 2 hingga 21 hari.
“Virus Ebola dapat menular melalui, Kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh penderita, Kontak dengan jaringan tubuh manusia atau hewan yang terinfeksi, menyentuh benda yang terkontaminasi cairan tubuh penderita. Selain itu, masuknya virus melalui selaput lendir atau kulit yang terluka, kontak dengan hewan pembawa virus, terutama kelelawar,” ungkapnya.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menghindari kontak langsung dengan penderita atau cairan tubuh yang berisiko menularkan virus, tidak menyentuh barang-barang yang diduga terkontaminas serta meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi pelaku perjalanan dari wilayah yang memiliki kasus aktif Ebola.
Tambahnya, hingga saat ini tidak ada kasus Ebola di Indonesia sehingga masyarakat tidak perlu panik. “Risiko kasus impor Ebola ke Indonesia dinilai rendah karena lokasi wabah yang jauh, mobilitas langsung yang terbatas, serta belum adanya laporan kasus di negara-negara terdekat. Yang penting masyarakat tetap waspada, menerapkan PHBS, tetapi tidak perlu panik,” imbuhnya.