Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Keluarga memiliki peran penting sebagai benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental remaja sekaligus mencegah munculnya hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah, menjelaskan kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari definisi sehat. Karena itu, upaya menjaga kesehatan mental remaja perlu menjadi perhatian bersama, terutama di tengah meningkatnya berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, tren gangguan kesehatan mental pada remaja menunjukkan peningkatan, terutama setelah masa pandemi Covid-19. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Yogyakarta melalui berbagai program promotif dan preventif yang terus diperkuat.
“Kesehatan mental remaja menjadi salah satu isu yang perlu mendapatkan perhatian. Setelah pandemi, kecenderungan gangguan kesehatan mental meningkat sehingga diperlukan keterlibatan berbagai pihak, terutama keluarga dan lingkungan sekitar,” ujar Lana pada Rabu (24/6/2026).
Sebagai bentuk komitmen dalam memberikan layanan kesehatan mental yang mudah diakses masyarakat, Kota Yogyakarta telah menyediakan layanan psikolog di seluruh puskesmas sejak tahun 2010. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa harus melalui rujukan dari fasilitas kesehatan lain.
“Masyarakat dapat langsung datang dan mendaftar ke puskesmas untuk berkonsultasi dengan psikolog. Apabila diperlukan penanganan lebih lanjut, puskesmas akan memberikan rujukan ke rumah sakit sesuai kebutuhan,” jelasnya.
Selain layanan psikolog, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga mengembangkan berbagai program pendukung kesehatan jiwa masyarakat. Di antaranya Program Sekolah Sehat Jiwa (SSJ), skrining kesehatan jiwa pada kelompok usia sekolah, serta Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) yang bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan dukungan awal kepada individu yang mengalami tekanan psikologis.
Lana menegaskan keluarga merupakan faktor protektif paling penting dalam menjaga kesehatan mental anak dan remaja. Komunikasi yang terbuka, perhatian terhadap kondisi emosional anak, serta pola asuh yang demokratis menjadi kunci untuk mencegah anak terjebak dalam lingkungan maupun relasi yang bersifat toxic.
“Keluarga harus menjadi tempat yang aman atau home bagi anak. Ketika anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan dukungan emosional yang cukup, mereka akan lebih mampu menghadapi tekanan sosial maupun pergaulan yang tidak sehat,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menilai persoalan kesehatan mental dan meningkatnya angka perceraian merupakan dua isu yang perlu mendapatkan perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, berbagai persoalan dalam keluarga sering kali berawal dari konflik-konflik kecil yang tidak terselesaikan dengan baik.
“Pertengkaran kecil yang terus menerus terjadi dalam keluarga dapat menjadi salah satu penyebab utama perceraian. Karena itu, keluarga harus diperkuat agar tetap harmonis dan mampu menjadi tempat tumbuh yang sehat bagi anak-anak,” ujarnya.
Hasto juga menyoroti meningkatnya gangguan mental emosional yang terjadi di masyarakat. Kondisi tersebut semakin menegaskan pentingnya penguatan peran keluarga sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan mental anak dan remaja.
Ia mengajak seluruh keluarga di Kota Yogyakarta untuk membangun komunikasi yang hangat, saling menghargai, serta menciptakan lingkungan rumah yang nyaman dan penuh kasih sayang.
Dengan demikian, keluarga dapat menjadi benteng utama yang melindungi anak dari berbagai pengaruh negatif, termasuk toxic people, perundungan, maupun tekanan sosial yang berpotensi mengganggu kesehatan mental.

