Sleman,REDAKSI17.COM-Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, kembali menorehkan prestasi. Kali ini orang nomor satu di Kota Yogyakarta ini menerima penghargaan bergengsi dalam ajang Jogja Brand and Business Awards (JBBA) 2026 yang diselenggarakan Harian Jogja di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta, Rabu (15/7/2026).

Pada ajang tersebut, Hasto dianugerahi penghargaan sebagai Kepala Daerah Peduli Penanganan Sampah, sebagai bentuk apresiasi atas kepemimpinan yang dinilai progresif dan menghadirkan dampak nyata bagi Kota Yogyakarta.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Direktur Harian Jogja, Arif Budi Susilo, kepada Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Presiden Direktur Harian Jogja, Arif Budi Susilo, menjelaskan bahwa penghargaan tersebut diberikan berdasarkan penilaian objektif terhadap komitmen dan konsistensi setiap kepala daerah dalam memimpin upaya penanganan krisis lingkungan secara menyeluruh.

Menurutnya, kepemimpinan Hasto Wardoyo tidak hanya berfokus pada penyelesaian persoalan sampah domestik, tetapi juga mampu menghadirkan terobosan baru dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman dan estetis.

“Apresiasi objektif ini kami berikan atas komitmen aktif Wali Kota Yogyakarta dalam menakhodai penanganan krisis lingkungan kota secara holistik. Kebijakan beliau terbukti melampaui batas definisi pengelolaan limbah standar. Tidak hanya agresif membenahi sampah domestik di tingkat tapak, tetapi juga melakukan terobosan dalam membersihkan ‘sampah visual’ kota dengan merapikan kabel-kabel udara yang bergelantungan tak beraturan demi mengembalikan marwah estetika koridor budaya Jogja,” ujar Arif.

Ia menilai pendekatan yang dilakukan Pemerintah Kota Yogyakarta menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kebersihan semata, tetapi juga menyangkut kualitas ruang publik, kenyamanan masyarakat, hingga daya saing kota sebagai destinasi wisata dan pusat kebudayaan.

Ditenui usai menerima penghargaan, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada Harian Jogja atas penghargaan yang diberikan kepada Pemerintah Kota Yogyakarta.

Menurutnya, penghargaan tersebut bukan sekadar simbol keberhasilan, melainkan menjadi penyemangat bagi seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk terus menghadirkan berbagai kebijakan yang berpihak kepada lingkungan, budaya, dan kesejahteraan warga.

“Penghargaan ini kami syukuri sebagai bentuk apresiasi atas kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Ini bukan hanya penghargaan untuk wali kota, tetapi untuk seluruh warga Kota Yogyakarta yang telah ikut menjaga lingkungan. Semoga penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan kebijakan yang lebih baik demi kota yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan,” katanya.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Direktur Harian Jogja, Arif Budi Susilo, kepada Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo.

Ia menjelaskan, tantangan terbesar yang dihadapi Kota Yogyakarta saat ini adalah pengelolaan ruang hidup di tengah tingginya aktivitas ekonomi, pariwisata, dan kepadatan penduduk. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya volume sampah domestik, keterbatasan lahan, hingga kebutuhan menjaga estetika kota sebagai destinasi wisata sekaligus kota budaya.

Karena itu, pihaknya terus mengubah paradigma pengelolaan sampah dari pola lama “kumpul, angkut, buang” menjadi sistem pengelolaan yang dimulai dari sumbernya.

Perubahan paradigma tersebut diwujudkan melalui Gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS) yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam mengurangi dan mengolah sampah sejak dari rumah tangga.

Menurut Hasto, Mas JOS bukan hanya program teknis pengelolaan sampah, melainkan gerakan budaya yang bertujuan membangun kesadaran kolektif bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.

“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya menjadi tugas pemerintah atau petugas kebersihan. Seluruh warga, sekolah, perkantoran, pelaku usaha, hingga komunitas harus ikut mengambil bagian. Karena kalau budaya bersih sudah tumbuh, persoalan sampah akan jauh lebih mudah diselesaikan,” jelasnya.

Hasto mengungkapkan, Kota Yogyakarta setiap hari menghasilkan sekitar 300 ton sampah. Dengan jumlah tersebut, penyelesaian persoalan sampah tidak mungkin hanya dilakukan di hilir atau sekadar mengangkut sampah ke tempat pemrosesan akhir.

“Alhamdulillah sudah empat bulan ini, kami tidak membuang sampah di TPA Piyungan. Seluruh sampah sudah hampir di masyarakat,” tegasnya.

Oleh sebab itu, Pemkot Yogyakarta terus memperkuat berbagai program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mulai dari edukasi lingkungan, pengembangan bank sampah, pengolahan sampah organik, pembangunan biopori jumbo, transformasi depo sampah menjadi tempat pengolahan, pengoperasian unit pengolahan sampah, hingga memperluas kolaborasi dengan komunitas, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat.

Selain sampah domestik, Hasto juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan “sampah visual”, yakni kondisi ruang kota yang terganggu akibat kabel udara yang semrawut dan menggantung di berbagai ruas jalan.

Menurutnya, wajah kota merupakan bagian penting dari identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Kota Wisata. Karena itu, ruang publik harus ditata agar tetap indah tanpa menghambat perkembangan teknologi informasi.

Sebagai solusi, Pemerintah Kota Yogyakarta terus mempercepat pembangunan jaringan ducting fiber optik untuk memindahkan jaringan kabel udara ke bawah tanah.

Program tersebut telah diterapkan di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta dan akan diperluas secara bertahap melalui kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai perusahaan penyedia layanan telekomunikasi.

Hasto menegaskan, pembangunan ducting bukan semata-mata ditujukan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi lebih kepada upaya menciptakan ruang kota yang tertata, memperkuat layanan digital, meningkatkan kenyamanan masyarakat, mendukung sektor pariwisata, sekaligus menjaga martabat Yogyakarta sebagai kota budaya yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

“Tujuan utama kami bukan mengejar PAD. Yang ingin kami bangun adalah kota yang lebih nyaman, lebih indah, layanan digital yang semakin andal, dan pariwisata yang semakin kuat. Kami ingin Yogyakarta tetap menjadi kota budaya yang mampu berkembang tanpa kehilangan identitasnya,” tegas Hasto.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat semangat gotong royong melalui kolaborasi hexa-helix, yaitu sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, akademisi, dan komunitas dalam menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan.

Menurutnya, tantangan pembangunan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah seorang diri. Diperlukan kerja sama seluruh pihak agar berbagai inovasi yang dilakukan mampu memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Hasto berharap penghargaan yang diterima tersebut tidak menjadi tujuan akhir, melainkan menjadi motivasi untuk terus melahirkan inovasi yang cerdas, berpijak pada nilai-nilai budaya, serta mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan Kota Yogyakarta di masa mendatang.

“Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, kami optimistis Yogyakarta akan terus berkembang sebagai kota yang bersih, nyaman, berbudaya, dan semakin berdaya saing. Penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus bekerja lebih baik demi masyarakat dan masa depan Kota Yogyakarta,” pungkasnya.