Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Di tengah ancaman El Nino yang diperkirakan memicu kekeringan lebih luas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kemampuan petani membaca informasi cuaca dan iklim kini menjadi kunci menjaga keberhasilan panen sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. Untuk membekali petani menghadapi tantangan tersebut, BMKG Stasiun Klimatologi DIY berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY menggelar Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik bertajuk Antisipasi Iklim Ekstrem untuk Mendukung Ketahanan Pangan di Fortuna Suites Malioboro, Yogyakarta, Kamis (30/7).
Di sejumlah sentra pertanian DIY, sebagian petani mulai menghadapi berkurangnya pasokan air akibat musim kemarau yang semakin panjang. Kondisi tersebut membuat keputusan mengenai waktu tanam, jenis komoditas yang dipilih, hingga pengelolaan irigasi menjadi penentu keberhasilan panen. Karena itu, informasi cuaca tidak lagi sekadar menjadi pelengkap, tetapi telah menjadi kebutuhan utama dalam setiap musim tanam.
Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, mengatakan Sekolah Lapang Iklim merupakan pembelajaran interaktif dengan metode learning by doing yang dirancang khusus bagi petani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), dan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan (POPT). Melalui pembelajaran yang memadukan teori dan praktik, peserta dibekali kemampuan memahami informasi cuaca dan iklim BMKG agar dapat diterapkan langsung dalam pengambilan keputusan di lahan pertanian.
Dalam pelaksanaan SLI Tematik, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mengikuti pembelajaran berbasis praktik (learning by doing) yang dirancang agar mudah diterapkan di lahan pertanian. Tiga materi utama diberikan kepada peserta. Pertama, pemanfaatan informasi cuaca dan iklim BMKG untuk mendukung sektor pertanian yang disampaikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY. Materi ini membekali petani dalam memanfaatkan prakiraan cuaca untuk menentukan waktu tanam, mengelola kebutuhan air, serta menyusun strategi menghadapi risiko iklim.
Materi kedua, pengenalan unsur cuaca dan iklim beserta alat ukurnya, dipandu oleh BMKG Stasiun Klimatologi DIY. Peserta diajak mengenali berbagai parameter cuaca, seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan, arah dan kecepatan angin, sekaligus mempelajari cara menggunakan alat ukur sederhana agar mampu memantau kondisi cuaca di wilayahnya secara mandiri.
Sementara itu, materi ketiga, pemahaman informasi cuaca dan iklim BMKG, membekali peserta untuk membaca dan menginterpretasikan prakiraan cuaca harian, mingguan, hingga informasi awal musim. Melalui materi ini, petani diharapkan mampu menentukan waktu tanam yang tepat, memilih komoditas maupun varietas yang sesuai dengan kondisi iklim, serta menyusun langkah mitigasi ketika menghadapi potensi kekeringan maupun cuaca ekstrem akibat El Nino.
“Harapan kami, petani dapat memahami informasi cuaca dan iklim secara terkini sehingga mampu mengantisipasi cuaca ekstrem. Saat ini kami memprediksi El Nino berkategori moderat hingga kuat yang berpotensi menimbulkan kekeringan di DIY. Dengan mengetahui kondisi tersebut lebih awal, petani dapat menyesuaikan pola tanam, memilih varietas yang lebih tahan kekeringan, hingga meminimalkan risiko gagal panen maupun kebakaran lahan,” ujar Reni.
Menurut Reni, kemampuan membaca kondisi iklim menjadi semakin penting karena kekeringan ekstrem mulai terjadi di sebagian wilayah Bantul dan Gunungkidul. BMKG memprediksi bahwa apabila El Nino terus menguat, potensi kekeringan dapat meluas ke sebagian besar wilayah DIY pada Agustus mendatang. Karena itu, petani didorong mengantisipasi kondisi tersebut sejak dini melalui penyesuaian kalender tanam, penggunaan varietas yang lebih tahan kekeringan, pengelolaan irigasi yang efisien, serta optimalisasi sumber air yang tersedia.
Sebanyak 72 peserta mengikuti SLI Tematik ini, terdiri atas PPL, POPT, petani dari Kapanewon Wonosari, Playen, Nglipar, Pleret, Prambanan, Kokap, Kota Yogyakarta, serta mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan Yoma). Dengan pendekatan belajar sambil praktik, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga berlatih menggunakan alat ukur cuaca sederhana, membaca data curah hujan, serta menghubungkan informasi prakiraan BMKG dengan kondisi lahan pertanian di wilayah masing-masing.
Manfaat program tersebut dirasakan langsung oleh peserta. Perwakilan Kelompok Wanita Tani Hargorejo, Kokap, Kulon Progo, Eti Widyaningsih, mengaku baru pertama kali mengikuti Sekolah Lapang Iklim. Menurutnya, pelatihan ini membuka wawasan petani mengenai pentingnya memahami cuaca dan iklim sebagai dasar menentukan pola tanam yang tepat.
“Kami berharap pemerintah terus mendukung petani melalui penyediaan tanaman yang mampu menjaga kelestarian air, udara, dan tanah. Selama ini kami menerapkan rotasi tanam padi-palawija-padi untuk memutus siklus hama. Setelah mengikuti SLI, kami semakin memahami cara menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim sehingga risiko kerugian dapat ditekan. Harapannya, pelatihan seperti ini sering dilaksanakan agar menjangkau lebih banyak petani di seluruh DIY,” tutur Eti.
Penyuluh Pertanian Lapangan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, Desi Erawati, menilai SLI memberikan manfaat besar bagi penyuluh sebagai ujung tombak pendampingan petani. Pengetahuan yang diperoleh akan diteruskan kepada kelompok tani binaannya melalui edukasi mengenai prakiraan cuaca harian maupun mingguan, termasuk langkah mitigasi menghadapi El Nino yang diperkirakan berlangsung lebih panjang.
“Informasi dari BMKG sangat membantu kami memberikan peringatan dini kepada petani agar dapat mengatur pola tanam, mengurangi risiko serangan organisme pengganggu tumbuhan, serta mengantisipasi dampak cuaca ekstrem. Harapannya, petani tetap mampu memperoleh hasil panen yang optimal meski menghadapi perubahan iklim,” kata Desi.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menegaskan penguatan literasi iklim bagi petani merupakan bagian penting dari strategi menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi daerah. Inflasi DIY pada Juni 2026 tercatat 2,91 persen (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,34 persen (yoy). Arahan Gubernur DIY dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pada 23 Juli 2026 menempatkan intensifikasi Sekolah Lapang Iklim sebagai salah satu dari tujuh langkah prioritas untuk memperkuat produksi pangan dan memitigasi dampak El Nino.
“Melalui Sekolah Lapang Iklim ini, para petani diharapkan memiliki literasi iklim sehingga mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, menentukan strategi budi daya yang tepat, serta menjaga keberlanjutan produksi pangan. Sinergi BMKG, BI, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani diharapkan terus diperkuat agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga stabilitas harga pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi DIY,” ujar Sudibyo.
Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, kemampuan membaca informasi cuaca kini menjadi kebutuhan dasar bagi petani. Jika dahulu keberhasilan panen sangat ditentukan oleh benih unggul, pupuk, dan irigasi, kini literasi iklim menjadi modal tanam yang tidak kalah penting. Melalui Sekolah Lapang Iklim, petani DIY dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengambil keputusan tanam yang lebih tepat, mengurangi risiko gagal panen, menjaga produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi DIY.
Humas Pemda DIY




