Gondomanan,REDAKSI17.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kota Yogyakarta pada Juli 2026 sebesar 2,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,68. Sementara itu, secara bulanan (month to month/m-to-m) Kota Yogyakarta mengalami deflasi 0,17 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat 1,39 persen.

Kepala BPS Kota Yogyakarta, Joko Prayitno, menjelaskan kondisi tersebut dalam jumpa pers Perkembangan Indeks Harga Konsumen Kota Yogyakarta di Kantor BPS Kota Yogyakarta, Senin (3/8).

Menurut Joko, inflasi tahunan dipengaruhi oleh kenaikan sejumlah kelompok pengeluaran, di antaranya makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,59 persen, pakaian dan alas kaki 1,15 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 0,84 persen, perlengkapan rumah tangga 0,53 persen, kesehatan 2,56 persen, transportasi 5,34 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,46 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,50 persen, pendidikan 2,34 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,71 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 12,35 persen.

Joko mengatakan, kenaikan pada kelompok pendidikan terutama dipengaruhi dimulainya tahun ajaran baru.

“Secara year on year, biaya akademi meningkat karena tahun ajaran baru. Untuk komoditas yang memberikan andil pada Juli ini justru uang sekolah SD dan SMP. Uang sekolah SD memberi andil 0,02 persen dan SMP 0,01 persen,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan biaya pendidikan merupakan rata-rata dari seluruh satuan pendidikan, baik negeri maupun swasta.

“Kalau sekolah negeri tidak mengalami kenaikan tetapi sekolah swasta naik, maka secara rata-rata tetap terlihat meningkat,” ujarnya.

Selain pendidikan, kelompok transportasi juga masih memberikan andil inflasi. Joko menjelaskan, kenaikan bensin pada Juli lebih dipengaruhi metode penghitungan indeks dibanding adanya penyesuaian harga baru.

“Harga bensin sebenarnya tidak naik pada Juli. Namun, karena kenaikan harga terjadi pada pertengahan Juni, rata-rata harga bulan Juli menjadi lebih tinggi dibanding rata-rata Juni sehingga secara perhitungan masih memberikan andil sekitar 0,12 persen,” terangnya.

Di sisi lain, Joko menyebut sektor pariwisata Kota Yogyakarta tetap menunjukkan tren positif. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juni 2026 meningkat 5,54 poin dibanding Mei 2026 dan naik 8,11 poin dibanding Juni 2025. Sementara TPK hotel nonbintang naik 3,96 poin dibanding bulan sebelumnya dan meningkat 6,96 poin dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Ini menunjukkan kamar yang terpakai semakin banyak dibanding bulan sebelumnya maupun tahun lalu. Artinya indikator pariwisata Kota Yogyakarta masih membaik,” katanya.

Untuk rata-rata lama menginap, tamu mancanegara di hotel berbintang meningkat dari 2,11 malam pada Mei menjadi 2,16 malam pada Juni 2026, sekaligus lebih tinggi dibanding Juni 2025 yang mencapai 2,13 malam. Sementara rata-rata lama menginap tamu nusantara tercatat 1,51 malam, sedikit lebih rendah dibanding Mei yang mencapai 1,57 malam, namun relatif sama dengan Juni tahun lalu sebesar 1,52 malam.

Joko menambahkan, wisatawan domestik masih menjadi penyumbang utama okupansi hotel di Kota Yogyakarta. Persentase tamu asing di hotel berbintang tercatat 3,53 persen, sedangkan di hotel nonbintang 3,79 persen.