Beranda / Daerah / 14 Tahun UUK DIY, Warga Hidupkan Keistimewaan

14 Tahun UUK DIY, Warga Hidupkan Keistimewaan

Bantul,REDAKSI17.COM – Keistimewaan DIY tidak cukup diwarisi atau diperingati. Nilai-nilainya perlu terus dirawat dan dimaknai agar hadir dalam kehidupan sehari-hari serta memberi manfaat bagi masyarakat. Semangat tersebut dihadirkan melalui Memetri Kaistimewan, rangkaian peringatan 14 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY).

Pembukaan Memetri Kaistimewan berlangsung di Lapangan Paseban, Bantul, Sabtu (15/8). Sebanyak 298 kegiatan digelar secara kolaboratif dengan melibatkan Pemda DIY, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kalurahan, komunitas, pelaku budaya, dunia pendidikan, hingga masyarakat.

Sejak pagi, warga memadati lokasi kegiatan. Mereka mengikuti senam, memeriksakan kesehatan, berbelanja di pasar murah, melihat produk UMKM, mengakses layanan publik, mengikuti lokakarya, hingga mendonorkan darah.

Ragam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendekatkan keistimewaan dengan kehidupan masyarakat. Keistimewaan tidak hanya ditempatkan sebagai identitas daerah, tetapi juga diterjemahkan melalui kebudayaan, pelayanan publik, pemberdayaan ekonomi, kepedulian sosial, pendidikan, pertanahan, dan tata ruang.

Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY Kurniawan saat membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan perjalanan 14 tahun UUK DIY menunjukkan bahwa keistimewaan terus berkembang menjadi salah satu fondasi pembangunan di DIY.

“Keistimewaan tidak sebatas menjaga identitas daerah. Melalui lima urusan keistimewaan yang seluruhnya diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Sri Sultan dalam pidatonya yang dibacakan Kurniawan saat pembukaan rangkaian peringatan 14 Tahun UUK DIY di Lapangan Paseban, Bantul, Sabtu (15/8) malam.

Lima urusan keistimewaan tersebut meliputi pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, kelembagaan, kebudayaan, pertanahan, dan tata ruang.

Dalam pidatonya, Sri Sultan juga menekankan bahwa identitas keistimewaan DIY tumbuh dari akar tradisi yang kuat. Nilai-nilai tersebut terus dilestarikan melalui ilmu pengetahuan dan dihidupkan dalam semangat gotong royong..“Dihidupkan dalam semangat gotong royong,” tandasnya.

Sri Sultan mengapresiasi pelaksanaan Memetri Kaistimewan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kalurahan, komunitas, pelaku seni dan budaya, perguruan tinggi, hingga masyarakat. Menurutnya, kebersamaan tersebut memperkuat ruang kolaborasi sekaligus meneruskan nilai-nilai keistimewaan dalam kehidupan sehari-hari.

Raja Keraton Yogyakarta itu mengingatkan, keistimewaan DIY akan terus lestari apabila dijaga, dikembangkan, dan dimaknai sebagai tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Karena itu, peringatan 14 tahun UUK DIY melalui Memetri Kaistimewan menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan meneguhkan komitmen seluruh elemen masyarakat dalam merawat nilai-nilai keistimewaan.

“Nilai-nilai keistimewaan terus hidup menjadi jati diri Yogyakarta sekaligus pondasi pembangunan berkelanjutan,” tandas Kurniawan membacakan sambutan Gubernur DIY.

Ditambahkan, “Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad” bukan sekadar tema peringatan 14 tahun UUK DIY. Tema tersebut diharapkan menjadi ikhtiar bersama untuk mewujudkan masyarakat yang luhur budi, sejahtera, dan bermartabat.

Sebelumnya, Kepala Bidang Urusan Kebudayaan Paniradya Kaistimewan DIY Nugraha Wahyu Winarna mengatakan keistimewaan tidak hanya dipelihara sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi landasan pembangunan. “Keistimewaan juga menjadi landasan pembangunan yang membawa kemajuan, kesejahteraan, dan martabat bagi DIY,” katanya.

Memetri Kaistimewan tahun ini mengusung tema “Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad”. Tema tersebut merefleksikan semangat keistimewaan yang tumbuh dari akar tradisi, diperkaya ilmu pengetahuan, dan diwujudkan melalui gotong royong.

Semangat itu terlihat dari berbagai layanan yang hadir di tengah masyarakat. Di Lapangan Paseban, warga dapat mengakses layanan kependudukan, pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB), loket pajak kendaraan, pemeriksaan kesehatan, skrining kesehatan jiwa, pasar murah, pasar tani, Pojok Baca, Desa Prima, hingga VR Tata Ruang Paniradya.

Pameran UMKM juga menjadi bagian dari kegiatan. Sekitar 10 stan UMKM melalui program Desa Preneur dan dua stan dari Desa Prima menghadirkan beragam produk, mulai dari makanan hingga kerajinan tangan.

Kepala Bidang Perencanaan dan Pengendalian Urusan Keistimewaan Paniradya Kaistimewan DIY Tri Agus Nugroho mengatakan pelibatan masyarakat dilakukan lintas kelompok, termasuk warga lanjut usia. “Kegiatan senam bersama ini memang dikhususkan untuk bapak-bapak, ibu-ibu lansia. Dalam Memetri Kaistimewan DIY ini semua segmen kami libatkan,” katanya.

Kepedulian kepada sesama menjadi salah satu bagian dari rangkaian Memetri Kaistimewan. Donor darah bertajuk “Wayahe Donor Darah” digelar di Pendapa Parasamya, Bantul, dengan target sedikitnya 100 kantong darah untuk membantu memenuhi kebutuhan stok darah di DIY.

Darah yang terkumpul selanjutnya diserahkan kepada PMI Kulon Progo. Masyarakat juga mendapat layanan pemeriksaan kesehatan gratis dari Kimia Farma dan pemeriksaan mata bersama Akur Optik.

Salah seorang peserta donor darah, Bagus, mengatakan dirinya sengaja memanfaatkan momentum tersebut untuk kembali mendonorkan darah. “Ini menarik agendanya, selain donor juga ada banyak aktivitas. Rasanya cocok untuk semua umur,” ujarnya.

Selain layanan publik dan kegiatan sosial, Memetri Kaistimewan menjadi ruang bagi kesenian tradisional. Pertunjukan Jathilan Aswa Asmaralaya dan Toneel Kaistimewan menghadirkan Bregada Sanggar Wirokunpat, Tari Ledek Sanggar Wilasita, Tari Reog Sanggar Winasis, Tari Petik Teh Sanggar Obah Abir, hingga Tari Badui Omah Gondhol.

Ragam kesenian tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai keistimewaan melalui ekspresi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat. Pembukaan Memetri Kaistimewan juga ditandai dengan peluncuran logo 14 tahun UUK DIY dan Calendar of Event Memetri Kaistimewan.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama sebulan, mulai 13 Agustus hingga 13 September 2026. Puncak kegiatan dijadwalkan pada Senin (31/8) di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman. Sementara penutupan dijadwalkan pada Sabtu (12/9) di kawasan Teras Malioboro, Yogyakarta.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) Pemda DIY, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah kalurahan, komunitas, pelaku seni dan budaya, perguruan tinggi, dunia pendidikan, serta masyarakat. Rangkaian kegiatan turut didukung Dana Keistimewaan sebagai bagian dari upaya sosialisasi dan internalisasi UUK DIY.

Empat belas tahun UUK DIY menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana keistimewaan hadir dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tersebut tidak hanya dijaga melalui kebijakan dan kelembagaan, tetapi juga tumbuh melalui budaya, pelayanan publik, penguatan ekonomi, kepedulian sosial, pendidikan, pertanahan, dan tata ruang.

Memetri Kaistimewan menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan masyarakat untuk merawat sekaligus memaknai perjalanan keistimewaan. Senam lansia, donor darah, UMKM, layanan publik, hingga panggung seni budaya menjadi bagian dari keterlibatan masyarakat dalam merawat nilai-nilai keistimewaan.

Keistimewaan pun tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia terus hidup ketika masyarakat ikut menjaga, mengembangkan, dan menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *