JAKARTA,REDAKSI17.COM – China menegaskan untuk melindungi kepentingan nasional, setelah Amerika Serikat (AS) mengancam akan menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran dan mitra-mitra kerja sama ekonominya. Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (26/8/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menekankan bahwa sanksi-sanksi ekonomi AS tidak dapat dibenarkan karena kerja sama ekonomi China dan Iran dilaksanakan sesuai regulasi hukum internasional.
“China telah berulang kali menegaskan penolakan terhadap sanksi unilateral ilegal. Kerja sama antara China dan Iran selalu dilaksanakan sesuai dengan regulasi hukum internasional dan seharusnya tidak diintervensi atau diinterupsi,” tegas Lin.
Lin kemudian mengemukakan bahwa China akan mengawasi manuver dan perkembangan perang antara AS dan Iran serta akan mengambil kebijakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional China. “China akan mengawasi perkembangan relevan secara dekat dan mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional,” tambah Lin. Penolakan China dipicu oleh hubungan kerja sama ekonomi China dan Iran yang krusial. China diestimasikan menghasilkan $9,96 miliar melalui kerja sama dengan Iran pada tahun 2025, menurut laporan US-China Economic and Security Review Commission.
Selain itu, China juga diperkirakan mengimpor sebanyak 90% minyak yang diekspor oleh Iran, mendorong pemasukan puluhan miliar dolar yang digunakan untuk mendanai anggaran pemerintah dan operasional militer Iran. Sebelumnya, AS telah meresmikan rencana untuk mengerahkan Operation Economic Outcast, sebuah mekanisme sanksi ekonomi yang ditujukan terhadap mitra kerja sama ekonomi Iran pada Senin melalui konferensi pers pada Senin (24/8).
Sekretaris Bendahara AS Scott Bessent menekankan bahwa sanksi tersebut ditujukan untuk negara, bank, dan korporasi yang memiliki relasi bisnis dengan Iran. Cakupan sanksi tersebut ditujukan kepada sektor-sektor krusial perekonomian Iran, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran.
“Kita sedang mengerahkan mekanisme sanksi ekonomi terhadap mitra-mitra ekonomi Iran di seluruh penjuru dunia,” papar Bessent.
Berikutnya, Bessent juga mengancam bahwa mekanisme sanksi ekonomi AS juga akan menargetkan China apabila terbukti mendanai Iran. Menurutnya, sanksi ekonomi AS tidak mengecualikan negara mana pun dalam penerapannya. “Kami ingin menegaskan bahwa tidak ada yang terkecuali dalam sanksi AS. Apabila mereka membiayai transaksi dan terlibat dalam mengubah minyak Iran menjadi uang, mereka akan menjadi subjek sanksi,” kata Bessent.
Penerapan sanksi ekonomi AS berpotensi untuk memicu tekanan dan risiko kepada perekonomian Iran. Hingga berlangsungnya perang, Iran sudah mengalami penurunan nilai uang, kenaikan biaya impor, dan inflasi berkepanjangan.





