JETIS,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan kembali menyelenggarakan Festival Babad Siti Kemantren. Babad Siti Kemantren tahun ini mengusung format jelajah budaya penanda keistimewaan, yang dilaksanakan secara serentak di 14 kemantren pada Senin (31/8/2026). Festival itu mengajak masyarakat melihat Yogya melalui 14 wajah istimewa dengan keberagaman tradisi, sejarah, warisan budaya dan cerita rakyat di masing-masing kemantren.
Festival Babad Siti Kemantren dibuka Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan di salah satu lokasi jelajah budaya yakni di Kemantren Jetis tepatnya di Klenteng Poncowinatan yang mengusung tema Harmony in Culture. Wawan juga mengikuti program jelajah budaya di Klenteng Poncowinatan, menikmati teh ala dinasti dan kuliner khas Tiongkok yaitu mantou. Kegiatan itu dinilai bisa memperkuat Yogya sebagai kota toleransi (City of Tolerance) dan kota budaya.
“Yogya itu City of Tolerance, Yogya kota budaya. Nah, semua potensi kebudayaan itu kita eksplor kembali seperti di tempat ini di klenteng yang tertua di Yogya. Dan tadi kita sudah keliling-keliling, kita bisa mencoba makanannya juga. Ini menjadi suatu khazanah tersendiri,” kata Wawan ditemui usai pembukaan Festival Babad Siti Kemantren dan jelajah budaya di Klenteng Poncowinatan.
Menurutnya konsep jelajah budaya itu jika digarap lebih serius menjadi satu destinasi wisata akan diminati wisatawan. Tidak hanya ke Malioboro tapi mengeksplorasi lebih dalam kekayaan budaya di Yogyakarta. Pihaknya juga mengapresiasi dari wilayah Cokrodiningratan sudah berupaya menggerakan kunjungan kampung wisata ke Klenteng Poncowinatan.
Wawan juga mengapresiasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang menyelenggarakan Festival Babad Siti Kemantren. Apalagi bertepatan dengan peringatan Undang-undang Keistimewaan DIY. Wawan menyatakan Undang-Undang Keistimewaan merupakan sebuah perjuangan, sehingga menjadi kewajiban masyarakat Yogyakarta untuk mengisi dan mempertahankan budaya yang ada. Wawan berharap kegiatan Festival Babad Siti Kemantren bisa berdampak ke masyarakat.,
“Harapan kami, jangan hanya jadi tempelan. Saya tidak ingin festival-festival saja tapi harus ada dampaknya kepada masyarakat. Bagaimana adik-adik pelajar nanti ini bisa tahu mengenai Undang-Undang Keistimewaan. Ini akan menjadi konkret kalau mereka sudah tahu dan bisa melaksanakan apa untuk mengisi wujud Undang-Undang Keistimewaan,” terang Wawan.
Festival Babad Siti Kemantren mengajak masyarakat melihat Kota Yogyakarta melalui 14 wajah istimewa, dengan keberagaman tradisi, cerita rakyat, sejarah, dan warisan budaya yang hidup di masing-masing kemantren. Setiap wilayah memiliki karakter dan cerita yang berbeda, sekaligus menjadi bagian dari mozaik kebudayaan Kota Yogyakarta.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti menjelaskan setiap daerah di Yogyakarta memiliki karakter penanda keistimewaan tersendiri yang menegaskan keistimewaan Yogya adalah identitas hidup yang terus dirawat oleh masyarakat. Di kampung-kampung di Yogya juga tersimpan ribuan cerita lisan yang belum tersentuh dan memerlukan pembuktian, validasi data dan telaah akademisi. Untuk menjawab itu Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mengadakan Festival Babad Siti Kemantren. Kegiatan itu adalah sinergi pemerintah, perguruan tinggi dan komunitas di wilayah serta masyarakat.
“Festival ini tidak hanya menghadirkan rekonstruksi histori saja yang informatif. Tetapi juga mengubah sejarah dari sekadar catatan masa lalu menjadi pengalaman budaya yang tentu saja memikat. Melalui penyampaian yang kreatif, baik dalam wujud media visual, kemudian penulisan naratif, maupun bentuk interaksi publik lainnya, salah satunya lewat program Jelajah Budaya. Festival Babad Siti Kemantren tidak sebatas dokumentasi sejarah kewilayahan, melainkan fondasi dalam membangun rasa kebanggaan lokal serta memperkuat identitas budaya masyarakat setempat,” jelas Yetti.
Salah satu pengurus Klenteng Poncowinatan Fatoni menyambut baik Klenteng Poncowinatan menjadi salah satu bagian dari Jelajah Budaya Festival Babad Siti Kemantren. Meskipun Klenteng Poncowinatan adalah tempat ibadah, dia menyampaikan tapi di bagian luar atau di luar jam ibadah ada sebagian tempat yang dibuka untuk masyarakat umum. Klenteng Poncowinatan yang dibangun mulai tahun 1818 itu lahannya tercatat sebagai pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono VII .
“Kami welcome dan senang. Klenteng ini bisa dibuka untuk umum untuk masyarakat, Sehingga manfaat dari peninggalan leluhur dulu itu memang bisa nyata. Selama ini sudah paket wisata ke sini pada siang hari sepanjang tidak mengganggu ibadah dan saling menghormati. Ada satu dua dari beberapa negara di Asia dan masyarakat lokal juga ada,” pungkas Fatoni.



