Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X resmi membuka Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 di Lapangan Beran, Kompleks Pemda Sleman, Minggu (13/09). Dalam pembukaan tersebut, Sri Sultan menyampaikan pesan budaya mendalam melalui sebuah geguritan (puisi Jawa) berjudul ‘Kena Ngapa Yogya?’.
Melalui geguritan tersebut, Sri Sultan mengajak masyarakat untuk kembali membaca, memperhatikan, mendengarkan, dan merasakan berbagai “bahasa” yang hadir di Yogyakarta. Menurutnya, “bahasa” tidak sebatas tutur kata manusia, tetapi juga bahasa alam hingga bahasa para manusia yang hidup, bekerja, berkarya, dan berinteraksi di Yogyakarta.
“Rungokna maneka basa ing Ngayogyakarta, rungokna maneka basaning angin, rungokna mega-mega lan srengenge, rungokna ukarane wit tuwuh temuwuh, basane gunung lan segara. Uga gatekna tembung lan aksaraning pra manungsa, ya kawula warga, ya wong teka tumeka, wong makarya, wong seni carup cinarup nyawiji dadi siji. Sadhela menepa, banjur rasakna weruha, kawruhana,” ucap Sri Sultan.
Beragam “bahasa” tersebut membawa Sri Sultan pada sejumlah pertanyaan tentang berbagai hal yang membuat Yogyakarta dianggap berbeda. Mulai dari kota, bahasa, katresnan atau kasih, cara pandang, manusia, hingga berbagai persoalan yang ada di dalamnya.
“Kena ngapa basane dianggep beda? Kena ngapa katresnane beda? Kena ngapa sumedhote beda? Kena ngapa manungsane dianggep beda? Kena ngapa perkarane beda? Kena ngapa Yogya?” tutur Sri Sultan.
Sri Sultan tidak memberikan satu jawaban atas pertanyaan tersebut. Ia justru membuka kemungkinan bahwa perbedaan Yogyakarta tumbuh dari seni dan budaya. Pertanyaan tentang Yogyakarta, menurutnya, tidak selalu harus dijawab dengan kata-kata, tetapi dapat ditemukan melalui apa yang dilakukan dan dijalani bersama.




