Pemkot Yogya Giatkan JBM Perkuat Predikat Kota Pendidikan

UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong giat Jam Belajar Masyarakat (JBM) benar-benar diimplementasikan masyarakat untuk membiasakan budaya belajar. Kegiatan JBM menjadi praktik baik untuk mengisi dan memperkuat Yogyakarta sebagai kota pendidikan maupun kota pelajar. Kelurahan dan Kemantren di Kota Yogyakarta diminta ikut mengawasi penerapan JBM.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo berharap kegiatan JBM harus betul-betul diterapkan di masyarakat. Terutama untuk membudayakan belajar kepada anak-anak. Menurutnya kegiatan JBM menjadi penanda dan mengisi predikat Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar dan pendidikan. Kegiatan JBM juga diharapkan untuk meningkatan kepedulian masyarakat terhadap pendidikan anak-anak yang tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keberhasilan pendidikan anak-anak membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan tempat tinggal.

“Saya ingin Jam Belajar Masyarakat itu diimplementasikan betul di Kota Yogyakarta. Betul-betul bisa menjadi best practice. Karena untuk mengisi predikat Kota Yogyakarta sebagai kota pelajar harus ada tandanya, jam belajarnya bagus, kemudian pendidikannya juga bagus,” kata Hasto usai sosialisasi jaminan pendidikan daerah di Balai Kota Yogyakarta, kemarin.

Hasto menyebut dalam pelaksanaan JBM ada orang yang mengawasi atau mendampingi di wilayah dan mendapatkan honor. Oleh sebab itu kegiatan JBM harus ada hasil yang jelas. Hasto meminta kelurahan dan kemantren juga ikut mengawasi dan memastikan kegiatan JBM berjalan di wilayah masing-masing.

Dokumentasi kegiatan JBM di  Kelurahan Sorosutan yang menjadi pilot project JBM dari Dindikpora Kota Yogyakarta. 

“Kami juga titip untuk Jam Belajar Masyarakat itu ada output-nya. Makanya saya tolong bapak, Ibu Lurah juga ikut mengawasi menjadi bagian dari pengawasan,” ujarnya.

Hasto menyatakan program dari perguruan tinggi ke wilayah juga diarahkan untuk melakukan pendampingan JBM. Pemkot Yogyakarta juga ada program Bule Mengajar dan Kampung Inggris. Program-program tersebut juga menjadi bukti penanda Yogyakarta adalah kota pelajar dan pendidikan. “Semua itu sebagai atribut-atribut untuk Yogya Kota Pelajar. Harus ada karya-karya non benda yang kemudian menjadi atribut predikat Kota Yogyakarta,” tegas Hasto.

Sementara itu Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat dan PAUD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta, Siti Hidayati menjelaskan ada pendamping JBM di setiap kemantren dan kelurahan yang mendapatkan honor. Tugas pendamping JBM kelurahan antara lain memantau kegiatan JBM dan koordinasi dengan kemantren, membuat laporan pelaksanaan JBM serta menindaklanjuti hasil kegiatan JBM. Sedangkan pendamping JBM di kemantren antara lain mengkoordinir pendamping JBM terkait kegiatan di instrumen pemantauan JBM, merekap, menyusun, menambahkan dokumentasi dan narasi hasil pemantauan pendamping JBM kelurahan. Melaporkan laporan hasil pemantauan maksimal tanggal 25 setiap bulannya.

“Setiap pendamping harus mengirimkan laporan kegiatan. Kami juga melakukan evaluasi dan koordinasi terkait JBM setiap bulannya. Kegiatan JBM sudah ada lama di Yogya. Pada tahun ini kami mencoba dengan JBM yang baru dengan mendatang  guru secara profesional dari sekolah untuk memberikan materi pembelajaran kepada-anak di empat kelurahan yang menjadi pilot project. Ini berjalan mulai September ini. JBM difokuskan pada budaya belajar sehingga anak-anak diharapkan tahu saat JBM itu belajar,” jelas Siti saat dikonfirmasi, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan JBM di wilayah yang menjadi lokasi pilot project dengan guru dari Dindikpora Kota Yogyakarta.

Adapun empat kelurahan yang menjadi pilot project JBM dengan melibatkan guru yang difasilitasi Dindikpora Kota Yogyakarta yakni Tahunan, Sorosutan, Tegalrejo, dan Bumijo. JBM di empat kelurahan itu diadakan setiap Senin sampai Kamis dari pukul 19.30 sampai 20.30 WIB. Kegiatan JBM itu diadakan di kantor kelurahan balai RW dan balai RT. Dia menuturkan untuk wilayah lain pelaksanaan JBM disesuaikan dengan kegiatan di masing-masing wilayah. Misalnya ada yang tematik terkait seni budaya dan ada juga yang mengundang mentor bimbingan belajar.

“Sementara di 2026 ini empat wilayah kelurahan dulu. Kami sambil berjalan dan evaluasi terus,” ucapnya.(Tri)