Gondomanan,REDAKSI17.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026. Pada September 2026, Kota Yogyakarta mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,31 persen dengan IHK sebesar 113,27.

Kepala BPS Kota Yogyakarta Joko Prayitno menyampaikan, inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,48 persen, disusul kelompok transportasi sebesar 4,90 persen serta kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,22 persen.

Sementara itu, tingkat inflasi month to month (m-to-m) Kota Yogyakarta pada September 2026 tercatat sebesar 0,28 persen. Adapun inflasi year to date (y-to-d) atau tahun kalender hingga September 2026 mencapai 1,93 persen.

Joko menjelaskan, kenaikan harga beras menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam perkembangan inflasi September. Kondisi tersebut antara lain berkaitan dengan pasokan beras yang mengalami penurunan.

“Beras di bulan September ini mengalami kenaikan yang terindikasi dari jumlah pasokannya yang kurang. Mungkin ini juga dipengaruhi faktor El Niño, produksi yang berkurang membuat harga menjadi naik,” jelasnya.

Menurut Joko, beras merupakan salah satu komoditas dengan bobot cukup tinggi dalam penghitungan inflasi. Karena dikonsumsi masyarakat dalam jumlah besar, perubahan harga beras relatif sensitif terhadap pergerakan inflasi.

“Beras itu termasuk komoditas yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ketika mengalami kenaikan harga, itu memicu inflasi. Jadi relatif lebih sensitif dibanding komoditas lain yang bobotnya lebih rendah,” katanya.

Ia menyebut, berdasarkan hasil survei BPS, kenaikan harga terjadi pada beras medium dan premium. Kota Yogyakarta sendiri bukan merupakan daerah penghasil beras sehingga kebutuhan masyarakat sangat bergantung pada pasokan dari wilayah lain.

“Untuk beras yang naik berdasarkan survei adalah beras medium dan premium. Kota Yogyakarta bukan penghasil beras, kita lebih sebagai daerah pengkonsumsi karena sawah di kota sudah sangat sedikit,” ujarnya.

Kepala Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta Joko Prayitno.

Meski inflasi y-on-y berada pada angka 3,31 persen, Joko menyebut perkembangan inflasi tahun kalender hingga September masih berada pada angka 1,93 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan menjelang tiga bulan terakhir 2026.

“Secara year on year ini sudah cukup tinggi, 3,31 persen. Tetapi yang cukup menggembirakan, tahun kalender selama sembilan bulan ini 1,93 persen,” katanya.

Menurutnya, perkembangan inflasi pada tiga bulan terakhir akan turut menentukan capaian inflasi sepanjang 2026. Terlebih, secara tren, tekanan harga biasanya meningkat menjelang akhir tahun.

Selain faktor cuaca dan pasokan komoditas pangan, peningkatan aktivitas masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru juga berpotensi mendorong permintaan sejumlah bahan pangan. Komoditas seperti daging ayam ras, daging, sayuran, beras, dan bahan kebutuhan pokok lainnya perlu menjadi perhatian.

“Di akhir tahun biasanya ada tren kenaikan karena liburan dan Natal serta Tahun Baru. Biasanya beberapa komoditas makanan dan bahan dasar mengalami kenaikan karena kebutuhan meningkat dan wisatawan juga banyak datang,” jelas Joko.

BPS akan terus memantau perkembangan harga komoditas pada bulan berikutnya, khususnya beras dan komoditas pangan yang sensitif terhadap perubahan pasokan dan permintaan.

Joko menambahkan, kondisi cuaca juga menjadi faktor yang perlu dicermati karena belum turunnya hujan berpotensi memengaruhi waktu tanam padi di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap produksi dan pasokan beras.

“Potensi kenaikan harga tergantung pasokan. Di wilayah yang memiliki pengairan, produksi mungkin masih ada. Tetapi secara mayoritas, kalau hujan kurang, tentu penanaman bisa terdampak,” katanya.