DANUREJAN,REDAKSI17.COM — Sebanyak seribu siswa SMP Negeri 15 Yogyakarta meriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta dengan menggelar karnaval yang mengusung kreativitas berbasis lingkungan. Para siswa tampil mengenakan busana hasil kreasi dari bahan daur ulang, seperti botol plastik bekas, koran, dan berbagai jenis plastik.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dari SMP Negeri 15 Yogyakarta. Rombongan karnaval bergerak ke Jalan Tegal lempuyangan- Jalan Hayam Wuruk – Jalan Bausasran – Jalan Doktor Sutomo dan kembali ke SMP Negeri 15 Yogyakarta. Karnaval tersebut juga menjadi bagian dari peringatan HUT ke-51 SMP Negeri 15 Yogyakarta yang tahun ini digelar beriringan dengan perayaan HUT Ke-270 Kota Yogyakarta.

Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Budi Santoso Asrori, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan ucapan selamat kepada Kota Yogyakarta sekaligus kepada SMP Negeri 15 Yogyakarta yang memasuki usia ke-51. “Selamat kepada Kota Yogyakarta dan khususnya kepada SMP 15. Selamat atas Hari Ulang Tahun yang ke-51. Semoga dengan ulang tahun yang ke-51 ini, SMP 15 semakin maju dan berkualitas,” ujarnya.

Karnaval Pelajar mengangkat tema pemanfaatan daur ulang sampah seperti koran dan plastik bekas dalam rangka mencintai lingkungan.

Dalam kesempatan itu, Budi mengingatkan peserta agar menjaga ketertiban dan keselamatan selama mengikuti karnaval di jalan raya. “Ketika karnaval di jalan untuk yang rapi. Tidak bercanda yang berlebihan. Jaga keselamatan kita semuanya. Kembali ke sekolah selamat dan kita memberikan nama baik SMP 15 selama karnaval ini di masyarakat,” ujarnya.

Pihaknya juga menyampaikan, pendidikan yang baik tidak cukup menghasilkan anak yang berprestasi secara akademik, tetapi juga anak yang mempunyai kepedulian, kreativitas, keberanian, dan karakter yang kuat. “Semoga melalui momentum HUT ke-270 ini, para pelajar Kota Yogyakarta semakin mencintai kotanya dan suatu hari nanti ikut mengambil bagian dalam memajukan Yogyakarta melalui bidang dan profesinya masing-masing,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 15 Yogyakarta, Siswanto mengatakan, kegiatan tahun ini mengambil tema yang berkaitan dengan upaya meminimalkan sampah melalui pemanfaatan kembali barang-barang bekas. Menurutnya, konsep tersebut sejalan dengan semangat sekolah Adiwiyata serta upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengurangi timbulan sampah.

Sekda Kota Yogyakarta, Budi  Santoso Asrori saat memberikan sambutan.

Ia menjelaskan, penggunaan bahan bekas sebagai material busana karnaval juga menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas. Busana yang ditampilkan dalam karnaval dibuat sendiri oleh para siswa. “Bagaimana memanfaatkan sampah itu salah satunya kita jadikan fashion show. Berbagai ajang kreasi dan kreativitas anak melalui fashion show,” jelasnya.

Siswanto menambahkan, kegiatan peringatan HUT SMP Negeri 15 Yogyakarta dan HUT Kota Yogyakarta setiap tahun berbarengan karena waktunya berdekatan. HUT SMP Negeri 15 Yogyakarta diperingati setiap 5 Oktober, sedangkan HUT Kota Yogyakarta jatuh pada 7 Oktober.

Selain melalui kegiatan karnaval, upaya pengelolaan sampah juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah. SMP Negeri 15 Yogyakarta memiliki satuan tugas Adiwiyata yang membantu mengawasi dan mengelola pemilahan sampah, khususnya sampah plastik.

“Sampah botol plastik yang dikumpulkan di sekolah kemudian dikelola melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Sementara sampah organik seperti daun diarahkan ke fasilitas biopori berukuran besar yang tersedia di lingkungan sekolah,”ungkapnya.

Kegiatan ini diikuti seribu siswa SMP Negeri 15 Yogyakarta.

Sekolah juga menerapkan kebijakan untuk mengurangi penggunaan plastik di kantin. Para pengelola kantin diarahkan tidak menggunakan kemasan plastik sekali pakai dan menyediakan gelas yang dapat digunakan kembali oleh siswa.

“Di kantin juga kita melarang berjualan dengan menyediakan bahan dari plastik. Mereka harus menyediakan gelas sendiri, nanti anak membeli minuman di gelas itu, gelasnya dikembalikan,” ujar Siswanto.

Meski demikian, Siswanto mengatakan pengelolaan sampah di sekolah saat ini masih berfokus pada pemilahan dan pengurangan sampah. Sampah yang telah dipilah selanjutnya dikelola melalui mekanisme yang telah disiapkan sekolah dan bekerja sama dengan pihak terkait.

“Kita berharap, pendidikan kita ke depan adalah pendidikan yang inklusif. Pendidikan inklusif itu pendidikan yang tidak mengenal gender anak, tidak mengenal latar belakang anak, tidak mengenal suku dan agama. Nyaman untuk semua,” imbuhnya.