KOTAGEDE,REDAKSI17.COM– Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengadakan apel siaga peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) pada Kamis (1/10/2026) di Kantor Kemantren Kotagede. Dalam kegiatan itu BPBD Kota Yogyakarta meluncurkan Jogja Connect (Jonet) yang mengintegrasikan jejaring komunikasi kebencanaan. Keberadaan Jonet itu untuk memperkuat sistem peringatan dini dan koordinasi data terkait kebencanaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat mengatakan tujuan dari kegiatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dalam rangka mengoptimalkan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi kebencanaan. Berbagai kegiatan dalam Bulan Bakti PRB diadakan antara lain apel siaga peringatan Bulan PRB, peluncuran Jonet, review Kampung Tangguh Bencana (KTB), koordinasi Forum KTB Kota Yogyakarta, pelatihan mitigasi bencana, simulasi komunikasi ews banjir dan simulasi SAR gabungan bersama organisasi perangkat daerah terkait.
“Dalam kegiatan PRB sejatinya diisi terkait dengan edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan. Jadi Jonet itu kita bagaimana memberikan suatu muatan pemahaman kebencanaan, edukasi kebencanaan termasuk peringatan dini, melalui berbagai sumber jaringan komunikasi,” kata Nur Hidayat usai apel siaga peringatan Bulan PRB tahun 2026.
Di dalam Jonet ada beberapa hal yakni Sistem Integrasi Alat Komunikasi Penanggulangan Bencana di Wilayah (Sigapil), podcast Jonet, integrasi IP paging Pemkot Yogyakarta dengan komunikasi kegempaan BPBD Kota Yogyakarta, dan simulasi EWS serentak. Jonet mengintegrasikan semua kanal komunikasi baik digital maupun manual untuk memperkuat komunikasi kebencanaan, peringatan dini bencana dan koordinasi data terkait bencana. Integrasi kanal komunikasi kebencanaan difokuskan pada radio rig melalui Sigapil di wilayah kemantren. Usai apel peringatan PRB, dilakukan komunikasi radio rig BPBD dengan radio rig di Kemantren Kotagede.
“Kita net (berkomunikasi lewat radio rig) setiap jam sembilan pagi sampai sembilan malam. Radio rig di setiap kemantren bisa kita gunakan komunikasi secara langsung ke pemberdayaan Linmas dan relawan serta mencakup seluruh lapisan masyarakat. Jadi segala informasi kebencanaan bisa tersampaikan ke lapisan individu masyarakat. Termasuk berbagai jaringan komunikasi antar OPD Pemkot Yogyakarta kita beri muatan edukasi bencana dan peringatan dini bencana. Intinya bagaimana Jonet itu membangun konektivitas secara terintegrasi,” terangnya.
Dalam apel siaga Bulan PRB itu juga dilakukan simulasi pemukulan kentongan dengan berbagai jenis pukulan dan makna peringatan. Nur menyatakan kentongan bagian dari alat peringatan dini atau early warning system (ews) sederhana atau manual. Terutama jika terjadi bencana, jaringan listrik dan radio padam maka kentongan masih bisa digunakan. Namun kini kentongan menurutnya hampir hilang dan jarang digunakan. Oleh sebab itu kentongan akan dihidupkan atau difungsikan kembali sebagai alat peringatan dini.
“Ya, saya kira kenthongan di setiap masyarakat punya sendiri. Sudah ada seperti pos ronda-ronda juga ada semua. Kita ingin mengoptimalkan pemanfaatan kentongan itu secara baik dan membudayakan itu karena itu yang dekat dengan masyarakat dan simpel,” tambah Nur.
Salah satu peserta apel siaga peringatan Bulan PRB, Antok dari KTB Sindurejan Kelurahan Patangpuluhan menyambut baik kegiatan tersebut. Termasuk terkait penggunaan kembali kentongan sebagai alat peringatan dini.Diakuinya selama ini sudah jarang masyarakat menggunakan kentongan. Termasuk saat waktu ronda, kentongan sudah tidak dibunyikan. Namun menurutnya perlu edukasi ke masyarakat terkait jenis-jenis pukulan kentongan dan maknanya ke masyarakat.
“Kalau kentongan, karena setiap pos ronda kita juga sudah ada tanda-tanda(jenis) pukulannya. Monggo kalau mau diaktifkan lagi bagus juga karena ketika nanti ada bencana, semua fasilitas mati dengan tanda-tanda kentongan bisa mungkin bisa dihidupkan kembali,” pungkas Antok.


