Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / Aksi 24 Dalang Cilik dan Remaja di Festival Dhalang Kulon Progo

Aksi 24 Dalang Cilik dan Remaja di Festival Dhalang Kulon Progo

Mengintip Aksi 24 Dalang Cilik dan Remaja di Festival Dhalang Kulon Progo
Salah satu peserta Festival Dhalang Wayang Kulit saat menampilkan kelihaiannya menjadi dalang di Taman Budaya Kulon Progo, Minggu (10/05/2026). Dok Pemkab Kulon Progo

 

 

KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulon Progo menggelar Festival Dhalang Wayang Kulit di Auditorium Taman Budaya Kulon Progo (TBK) pada Minggu (10/05/2026). Festival ini menjadi ajang mencari bibit dalang.

Kepala Disbud Kulon Progo, Joko Mursito menyampaikan Festival Dhalang Wayang Kulit ini dikhususkan  bagi peserta kategori anak dan remaja.

“Pada tahun ini, Festival Dhalang Wayang Kulit mengangkat tema ‘Mengukir Prestasi Menjunjung Tradisi’,” kata Joko pada Senin (11/05/2026).

Tahun ini ada sebanyak 24 peserta yang merupakan dalang muda dari 12 kapanewon di Kulon Progo. Peserta terdiri dari 12 dalang cilik dan 12 dalang remaja.

Joko mengatakan festival ini menjadi salah satu upaya untuk melakukan regenerasi dalang. Tujuannya untuk melestarikan warisan budaya pedalangan agar tetap dicintai oleh generasi penerus.

“Festival Dhalang Wayang Kulit ini jadi panggung bagi generasi muda untuk merawat jati diri budaya di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Festival ini diselenggarakan dengan dukungan dari Dana Keistimewaan (Danais) DIY. Setidaknya ada 5 aspek utama yang dinilai dari peserta, yang dilakukan oleh dewan juri dengan praktisi dan ahli di bidang pedalangan.

Joko mengatakan uang pembinaan senilai total puluhan juta rupiah juga disiapkan untuk para pemenang. Pemenang juga berkesempatan mengikuti lomba di tingkat DIY.

“Kami berharap bisa muncul bibit-bibit dalang profesional yang tidak hanya mahir secara teknik, tetapi juga mampu menjadi penjaga api kebudayaan di masa depan,” jelasnya.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan mengatakan Festival Dhalang Wayang Kulit memiliki makna penting sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda. Termasuk sebagai wadah pengembangan potensi anak-anak dan remaja di bidang seni pedalangan.

Para peserta juga akan belajar akan pentingnya nilai-nilai luhur budaya di masyarakat dari lomba tersebut. Termasuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui seni wayang, anak-anak belajar tentang disiplin, ketekunan, dan keberanian untuk tampil, serta menumbuhkan rasa percaya diri untuk berkarya,” kata Agung.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *