
Gunungkidul,REDAKSI17.COM – Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Balong resmi memulai pembangunan gedung gereja yang ditandai dengan upacara peletakan batu pertama pada Senin, (13/4/2026). Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, jajaran Forkopimda, serta perwakilan dari Kementerian Agama.
Dalam sambutannya, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada panitia pembangunan dan seluruh jemaat GPdI Balong yang telah bergotong-royong mewujudkan pembangunan rumah ibadah ini. Ia menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya, tidak boleh ada praktik intoleransi di “Bumi Handayani” karena konstitusi menjamin hak setiap warga negara untuk beribadah sesuai keyakinannya.
“Pembangunan gereja ini bukan hanya tentang mendirikan sebuah bangunan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, persatuan, dan penguatan nilai-nilai keimanan serta kehidupan sosial masyarakat,” ujar Bupati Endah.
Ia juga berharap agar gedung ini nantinya menjadi pusat pembinaan moral dan spiritual yang membawa berkat bagi lingkungan sekitar. Senada dengan hal tersebut, Plt. Pembimas Kristen Kanwil Kemenag DIY, Abdul Suud, S.Ag, M.PdI., mengungkapkan bahwa pembangunan tempat ibadah memiliki tiga manfaat utama, yakni peningkatan kualitas keimanan dan ketakwaan, pendidikan karakter yang terstruktur, serta penguatan sikap sosial melalui semangat tolong-menolong.
“Bahwa momentum ini sangat istimewa karena dilaksanakan tak lama setelah peringatan hari raya Paskah.” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gunungkidul, Dr. H. Mukhatib, memastikan bahwa negara hadir untuk mengawal agar seluruh umat dapat melaksanakan ibadah dengan baik melalui penyediaan sarana yang adil dan merata.
“Proses pembangunan dapat berjalan lancar tanpa ada kendala sosial sehingga kualitas keimanan umat terus terpupuk dengan baik.” kata Mukatib.
Pembangunan gereja GPdI Balong ini diharapkan dapat selesai tepat waktu dengan kualitas yang baik, sehingga dapat segera digunakan oleh jemaat sebagai tempat ibadah yang representatif dan nyaman. Acara diakhiri dengan prosesi peletakan batu pertama oleh Bupati bersama tamu undangan lainnya sebagai tanda dimulainya tahap konstruksi secara resmi.


