Sleman,REDAKSI17.COM – International Symposium on Javanese Culture atau Simposium Internasional Budaya Jawa 2026 yang digelar Keraton Yogyakarta di Royal Ambarrukmo Yogyakarta selama dua hari, Sabtu–Minggu (11–12/4), resmi ditutup. Forum ini menegaskan arah pembangunan Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai filosofis yang mengakar dalam tata ruang dan arsitekturnya.
Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, turut hadir menyimak jalannya forum ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, hingga praktisi tersebut. Kehadiran Sri Sultan menegaskan pembangunan Yogyakarta harus berpijak pada akar budaya sebagai identitas utama.
Simposium bertema “Architecture, Spatial Planning and Territory of the Sultanate of Yogyakarta” ini diikuti sekitar 350 peserta secara luring dan 65 peserta daring. Pada hari kedua, agenda meliputi sesi arsitektur, gelar wicara “Keraton Updates”, serta sesi tata ruang dan lanskap. Diskusi berlangsung dinamis sejak pagi hingga sore, mencerminkan tingginya antusiasme peserta.
Dalam pidato penutup, Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya, GKR Bendara, menegaskan arsitektur dan tata ruang Yogyakarta tidak semata aspek fisik, melainkan pengejawantahan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta oleh UNESCO, menurutnya, menjadi mandat untuk menyelaraskan modernitas kota dengan akar budaya.
“Arsitektur dan tata ruang di Yogyakarta bukan sekadar fisik bangunan, melainkan pengejawantahan dari filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Penetapan Sumbu Filosofi oleh UNESCO menjadi mandat bagi kita semua untuk menyelaraskan modernitas dengan akar kultural yang visioner,” tegas GKR Bendara.
Sesi gelar wicara “Keraton Updates” menjadi salah satu agenda yang paling dinanti. Menghadirkan Wakil Penghageng KHP Dhatu Dana Suyasa GKR Hayu dan KRT Suryo Satrianto, sesi ini membahas revitalisasi kawasan Keraton serta status dan pemanfaatan Tanah Kasultanan. GKR Hayu menekankan pentingnya menjaga nilai dan makna kawasan cagar budaya di tengah upaya revitalisasi.
“Kewajiban kami memastikan kawasan ini tetap lestari hingga generasi mendatang, dengan nilai dan makna yang utuh, bukan sekadar menjadi ruang aktivitas tanpa konteks budaya,” ungkap GKR Hayu.
Sementara itu, sesi arsitektur dibuka dengan keynote speech dari sejarawan seni dan arsitektur, Dr. Hélène Njoto Feillard. Ia menyoroti keberadaan Alun-Alun Selatan sebagai inovasi tata ruang pada era Kesultanan Yogyakarta yang tidak ditemukan pada kerajaan sebelumnya, sekaligus sebagai simbol legitimasi kekuasaan.
“Keberadaan Alun-Alun Selatan merupakan perspektif baru pada era Kesultanan Yogyakarta. Pada masa sebelumnya seperti Majapahit, Demak, maupun Mataram, konsep ini belum hadir. Alun-Alun Selatan menjadi bagian dari legitimasi kekuasaan,” jelasnya.
Sesi arsitektur dipandu Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, serta menghadirkan dua pemakalah terpilih, yakni M. Yaser Arafat dengan riset tentang arsitektur dan ragam hias makam di kawasan Pasareyan Kagungan Dalem, serta Rahmadi Fajar Himawan yang mengkaji transformasi memori kolektif Alun-Alun Utara. Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, yang memaparkan upaya pelestarian karakter arsitektur kawasan cagar budaya di DIY.
Usai sesi arsitektur, acara dilanjutkan dengan gelar wicara “Keraton Updates” yang selaras dengan tema simposium, sekaligus menjadi ruang sosialisasi pengelolaan Tanah Kasultanan. Pada sesi terakhir, yakni tata ruang dan lanskap, diskusi dipandu Sari Murti Widiyastuti dan menghadirkan keynote speech dari Bakti Setiawan.
Sejumlah pemateri turut berbagi perspektif, di antaranya Irina Safitri Zen dari International Islamic University Malaysia yang mengulas perbandingan Sumbu Filosofi Yogyakarta dengan kota-kota dunia, serta Nuzuli Ziadatun yang membahas strategi placemaking melalui walking tour di kawasan Jeron Beteng. Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Adi Bayu Kristanto, turut memaparkan pengelolaan Satuan Ruang Strategis dalam implementasi Perda Nomor 10 Tahun 2023.
Menutup rangkaian acara, GKR Bendara mengumumkan tema simposium tahun mendatang, yakni “Tata Nilai dan Pendidikan di Kasultanan Yogyakarta”. Tema ini diharapkan mendorong peneliti dan pemerhati budaya Jawa untuk mempersiapkan kajian sejak dini, sekaligus menjaga kesinambungan diskursus budaya di DIY.
“Kami berharap para peneliti dapat mempersiapkan kajian sejak dini, sehingga ketika call for paper dibuka, sudah hadir gagasan yang kuat dan mampu memperkaya khazanah budaya Jawa,” pungkasnya.
Humas Pemda DIY





