MERGANGSAN,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pariwisata bersama penggiat Fashion On the Street mengadakan pameran batik kontemporer bertajuk Contemporary Art Batik Evolution pada 21-23 Agustus di Java Villa Hotel dan Resto. Pameran menampilkan karya batik kontemporer dari puluhan pembatik muda. Pameran batik kontemporer itu bagian dari Fashion on The Street Festival Prawirotaman. Melalui pameran itu diharapkan bisa membangkitkan kembali identitas batik yang menjadi salah satu karakter di Prawirotaman.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengapresiasi adanya pameran batik kontemporer rangkaian dari Fashion on The Street Festival Prawirotaman. Terlebih melibatkan anak-anak muda untuk berkarya membuat batik yang digagas fashion designer dari Yogyakarta Lia Mustafa. Wawan juga meninjau langsung berbagai karya batik kontemporer saat focus group discussion terkait Contemporary Art Batik Evolution.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan melihat batik kontemporer yang dipamerkan dalam Contemporary Art Batik Evolution.

“Saya sangat mengapresiasi ini membuat anak-anak muda menjadi lebih berani untuk mengkreasikan membuat batik dan juga desain-desain yang baru,” kata Wawan ditemui di akhir kegiatan FGD.

Pihaknya juga mengapresiasi penggagas dan penggiat Festival Prawirotaman yang berupaya memajukan potensi Prawirotaman Namun Wawan berharap kegiatan itu tidak sebatas pada lingkup lokasi kegiatan di Prawirotaman. Tapi juga harus didukung di tingkat kota bahkan provinsi karena kegiatan itu sudah besar dan selama ini Prawirotaman sudah dikenal hingga luar negeri sebagai kampung turis di Yogyakarta.

Wawan saat berdiskusi dalam FGD terkait Contemporary Art Batik Evolution. 

“Kita bicara adalah dampaknya. Pemerintah Kota Yogya sedang mengemas Yogya Kota Festival. Salah satu yang  menjadi unggulan adalah Prawirotaman Festival dan juga menjadi kalender tahunannya dari Dinas Pariwisata,” paparnya.

Wawan menyatakan untuk mengembangkan Festival Prawirotaman perlu membuat ekosistem melibatkan berbagai seniman, industri kreatif dan perhotelan di sekitar Prawirotaman menjadi satu kawasan. Tidak terkotak-kotak wilayah kelurahan maupun kemantren atau hanya kota karena menurutnya pariwisata itu borderless atau tidak mengenal batas.

Para peserta FGD Contemporary Art Batik Evolution . 

“Saya sangat mengapresiasi ini bisa menjadi suatu cikal bakal untuk kita bisa kembangkan lagi di seluruh Kota Yogyakarta. Harapannya ke depan Prawirotaman Fest ini menjadi ikon unggulan tidak hanya di Kota Yogyakarta, tapi Daerah Istimewa Yogyakarta,” terang Wawan.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati mengatakan Prawirotaman selain sebagai kampung turis atau bule yang menginap di hotel dan homestay, juga dikenal dengan kampung batik. Oleh sebab itu sangat strategis diadakan Festival Prawirotaman yang mengkolaborasikan aspek kebudayan otentik masyarakat Yogyakarta seperti batik dan industri kreatif fesyen. Festival Prawirotaman salah satu pendukung Yogya Kota Festival. Di samping itu Festival Prawirotaman menjadi rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati saat menyampaikan laporan kegiatan Contemporary Art Batik Evolution.

“Semua masyarakat memberikan yang terbaik untuk kotanya. Jangan sampai penduduk yang authentic asli, hanya sebagai penonton di rumahnya sendiri di kota pariwisata. Makanya kita mulai dari pemberdayaan pembatik-pembatik, pengrajin, kriya dan lainya itu kita mulai perhatikan,” tambah Daning.

Sedangkan fashion designer dan penggagas Fashion on the Street Festival Prawirotaman, Lia Mustafa menjelaskan dalam pameran batik kontemporer itu melibatkan 25 pembatik muda binaannya bersama Dekranasda DIY dan Bank Indonesia. Termasuk didukung seniman-seniman Yogya lainnya yang mengirimkan berbagai karya masker. Dia menegaskan pameran batik kontemporer itu juga untuk membangkitkan identitas batik di Prawirotaman karena saat ini hanya tinggal beberapa pembatik di wilayah itu.

fashion designer dan penggagas Fashion on the Street Festival Prawirotaman, Lia Mustafa menunjukan salah satu karya batik kontemporer yang dipamerkan. 

“Sebetulnya ada tujuan juga dari mengangkat adik-adik (pembatik muda). Ke depan Jogja, siapa yang akan menjadi seniman besar seperti Bapak Ardianto, Bapak Afif Syakur, dan lain sebagainya kalau tidak dimulai dari sekarang. Karena  kalau hanya jadi pembatik atau di industri saja cukup jualan yang bagus selesai. Tapi diapresiasi berkarya, itu kan berdampak dengan industri,” pungkas Lia.