
Kulon Progo,REDAKSI17.COM — Festival Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman tahun 2026 yang diselenggarakan di Jogja Agro Park (JAP), Nanggulan, Kulon Progo, Jumat (2/10/2026) resmi dibuka.
Diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) gelaran ini mengusung tema “Lumbung Mataraman Mendukung Swasembada Pangan melalui Pangan Lokal Sehat dan Berkualitas”, acara ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat kemandirian pangan masyarakat berbasis potensi lokal.
Pembukaan acara ditandai secara resmi dengan pemukulan gong oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Drs. Noviar Rahmad, M.Si., yang hadir mewakili Gubernur DIY.

Dalam kesempatan tersebut, diserahkan pula berbagai bantuan sarana produksi pertanian berupa traktor roda 2, benih padi dan jagung, serta penghargaan lomba Sawah Irigasi Ramah Lingkungan (SIRAMLI). Prestasi turut diraih oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Lestari Sadang dari Tanjungharjo, Nanggulan, yang sukses menyabet juara ke-4 dalam Lomba Inovasi Pemanfaatan Lahan Terbatas tingkat DIY.
Gelaran festival ini menampilkan puluhan stan pameran yang diikuti oleh 15 Kelompok Wanita Tani (KWT), perwakilan kelurahan Lumbung Mataraman, serta berbagai unsur pendidikan, teknologi, dunia usaha, dan komunitas. Jogja Agro Park dipilih sebagai pusat kegiatan untuk mewujudkan kawasan agropolitan yang terintegrasi.
Dalam laporan penyelenggaraannya, Kepala DPKP DIY, Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., menyampaikan pentingnya optimalisasi pekarangan di tengah tantangan menyusutnya lahan pertanian produktif.
“Gelar Inovasi Lumbung Mataram ini merupakan ruang bersama untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan masyarakat melalui pengembangan pangan lokal, pemanfaatan lahan terbatas, inovasi pertanian, serta peningkatan nilai tambah dan pemasaran produk masyarakat.” jelas Aris.
Ia berharap momentum ini dapat dimanfaatkan juga sebagai ruang diskusi dan pertukaran inovasi dalam bidang pertanian sehingga mendorong kedaulatan pangan di DIY.
“Kami berharap agar inovasi Lumbung Mataram 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan pameran saja, tetapi lebih dari itu, kegiatan diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan inovasi masyarakat, memperluas pengetahuan, memperkuat jejaring, membuka peluang pemasaran, serta mendorong penerapan praktik-praktik secara luas.” tutur Aris.
Bupati Kulon Progo, Dr. R. Agung Setyawan, S.T., M.Sc., M.M., menyambut baik penunjukan Jogja Agro Park sebagai pusat konsentrasi dan aktivitas Lumbung Mataraman serta pusat pembelajaran pertanian kedepannya. Menurutnya, festival ini menjadi ajang strategis bagi para petani dan pelaku UMKM untuk saling bertukar ilmu dan memperkuat jejaring ekonomi lokal.

“Lumbung Mataraman menjadi salah satu ruang untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada tersebut. Masyarakat tidak hanya didorong untuk menghasilkan pangan, tetapi juga membangun kemandirian dalam mengelola sumber daya yang ada di lingkungannya.” Ujar Agung.
Agung turut optimis bahwa kualitas produk lokal di DIY termasuk dari Kabupaten Kulon Progo adalah hasil terbaik dari kelompok dan petani untuk menguatkan Ketahanan Pangan.
“Dari pangan lokal kita bangun kemandirian. Dari kemandirian kita wujudkan swasembada pangan. Dari Kulon Progo kita kuatkan ketahanan pangan Yogyakarta.” jelas Agung.
Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Drs. Noviar Rahmad, M.Si., yang membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, menegaskan bahwa ketahanan pangan yang tangguh berawal dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni pekarangan rumah.
“Lumbung Mataraman mengajarkan satu hal yang sangat mendasar, yaitu ketahanan pangan sesungguhnya dibangun dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat.” Ucap Noviar.
Ia percaya lumbung mataraman adalah wujud ikhtiar menciptakan kedaulatan pangan mulai dari kelompok terkecil yang berguna bagi kehidupan sekitar.
“Lumbung Mataraman harus menjadi gerakan yang hidup; hidup di pekarangan keluarga, hidup di kelompok tani, hidup dalam pengetahuan masyarakat, dan hidup dalam keyakinan bahwa tanah yang dikelola dengan pengetahuan, ketekunan, dan kebersamaan akan selalu mempunyai jalan untuk memberi kehidupan.” pungkas Noviar.
Source: media center


