Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Suara lonceng sekolah kembali menggema di Kota Yogyakarta, Senin (13/7). Di balik pagar-pagar sekolah, ada banyak siswa-siswa yang tampak berbaur antara rasa penasaran, gugup, dan bahagia. Dengan tas yang hampir sebesar tubuh mereka, satu per satu anak melangkah memasuki gerbang sekolah, menandai dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027.
Namun pagi itu, bukan hanya anak-anak yang menjalani pengalaman baru. Banyak ayah turut hadir, menggenggam tangan putra-putrinya menuju ruang kelas. Momen sederhana yang selama ini kerap diwakilkan ibu, kini menjadi pengalaman berharga yang sengaja dihadirkan melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah.
Salah satunya di TK ABA Karangkajen Yogyakarta, Martin Hari Saputra (40) menjadi salah satu ayah yang mengantar anak pertamanya mengawali perjalanan pendidikan. Sebagai pekerja lepas, Martin mengaku memiliki waktu yang lebih fleksibel. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk menemani sang buah hati di hari pertama sekolah.
“Karena pekerjaan saya freelance, waktunya memang lebih banyak di rumah. Jadi ini kegiatan yang menyenangkan, bisa keluar rumah sekaligus mengantar anak,” ujarnya.
Awalnya ia mengira mengantar anak di hari pertama sekolah hanyalah kebiasaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun setelah mengetahui adanya ajakan khusus agar ayah turut mengantar anak, ia justru melihat makna yang lebih dalam.

Terlihat peran ayah tidak hanya hadir tetapi mampu menenangkan buah hati saat merasakan kurang nyaman dalam pengalaman bersekolah di lingkungan baru.

“Buat bonding dengan anak itu sebenarnya bagus, bagus sekali. Apalagi ini anak pertama. Saya ingin tahu perkembangan dia seperti apa. Yang penting saya ingin memberi memori yang baik buat dia,” katanya.
Bagi Martin, kehadiran ayah di hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar hingga gerbang, melainkan membangun kedekatan emosional yang akan dikenang anak di masa depan.
Di sisi lain, putrinya, Icha (5) masih menunjukkan kepolosannya. Saat ditanya siapa yang paling disukai mengantar sekolah, jawabannya spontan adalah Mama. “Aku paling suka diantar sama Mama. Tapi juga sama Papa senang,” katanya.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta, Agus Trimadi, mengatakan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah merupakan inisiatif nasional yang bertujuan mendorong para ayah meluangkan waktu mengantar anak, terutama pada hari pertama masuk sekolah.
Melalui surat edaran yang diteruskan Pemerintah Kota Yogyakarta bersama DP3AP2KB kepada seluruh satuan pendidikan, gerakan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat hubungan emosional antara ayah dan anak. “Ini bagian dari momen penting untuk mendekatkan hubungan emosional dan memberikan rasa aman kepada anak saat memasuki lingkungan sekolah yang baru,” jelas Trimadi.
Menurutnya, kehadiran ayah akan meningkatkan rasa percaya diri anak sekaligus membuat mereka merasa lebih aman dan nyaman ketika menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). “Kalau ada ayah yang mengantar, anak akan merasa bangga dan lebih percaya diri. Hari pertama sekolah yang biasanya membuat anak cemas menjadi lebih nyaman karena ada figur yang mendampinginya,” katanya.

Suasana penjemputan anak dalam kegiatan MPLS.

Ia menambahkan, gerakan tersebut juga menjadi bagian dari pelibatan orang tua dalam pendidikan sebagaimana semangat MPLS Ramah Tahun Ajaran 2026/2027. Pelibatan keluarga sejak awal diyakini mampu membangun komunikasi yang lebih baik antara sekolah dan orang tua.
Tidak hanya mengantar anak, orang tua juga memiliki kesempatan mengenal budaya sekolah, memahami proses pembelajaran, serta membangun komitmen bersama dalam mendampingi tumbuh kembang anak. “Kami selalu menyampaikan bahwa ayah hebat akan membentuk anak yang kuat. Anak yang kuat akan tumbuh menjadi bagian dari keluarga hebat. Dari keluarga-keluarga hebat itulah akan lahir Kota Yogyakarta yang semakin bermartabat,” tuturnya.
Ia berharap, gerakan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni hari pertama sekolah, tetapi menjadi budaya baru yang memperkuat peran ayah dalam pengasuhan. Dengan keterlibatan orang tua yang semakin baik, berbagai persoalan anak, mulai dari rendahnya rasa percaya diri hingga kenakalan remaja, diharapkan dapat ditekan sejak dini.