Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Hari Ulang Tahun (HUT) ke-270 Kota Yogyakarta menjadi momentum untuk mengenali kembali sejarah, identitas, budaya, serta berbagai potensi Kota Jogja sekaligus mewujudkannya melalui tindakan nyata. Mengusung tema Otentik Konkret, peringatan tahun ini diarahkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjaga keberlanjutan kota.
Semangat tersebut disampaikan dalam Konsolidasi Publikasi HUT Kota Jogja bagi Admin Media Sosial Perangkat Daerah Kota Yogyakarta di Ruang Bima Balai Kota Yogyakarta, Rabu (19/8).
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Yogyakarta, Kadri Renggono, mengatakan perjalanan panjang Kota Yogyakarta sejak berdiri pada 7 Oktober 1756 telah membentuk karakter, budaya, dan peradaban yang menjadi identitas kota.
Menurutnya, Otentik mencerminkan identitas dan warisan yang dimiliki Yogyakarta, sedangkan Konkret menggambarkan bagaimana warisan tersebut diteruskan melalui karya dan tindakan nyata.
“Otentik adalah identitas dan warisan yang kita miliki. Namun menjaga warisan tidak cukup hanya dengan mengenang sejarah. Karena itu, semangat berikutnya adalah konkret, bagaimana warisan tersebut kita teruskan melalui tindakan nyata,” jelasnya.

Kadri menambahkan, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai aktivitas sederhana di tengah masyarakat, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menghidupkan kegiatan kampung, mengembangkan usaha, melestarikan budaya, hingga kegiatan sosial dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi berbagai unsur dalam menyukseskan HUT ke-270. Pemerintah, masyarakat, komunitas, pelaku usaha, akademisi, media, dan kampung memiliki ruang untuk memberikan kontribusi sesuai perannya.
“Konsep ini sejalan dengan semangat kolaborasi hexahelix. Semua memiliki ruang untuk berkontribusi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian (Diskominfosan) Kota Yogyakarta, Ignatius Trihastono, mengatakan HUT ke-270 merupakan momentum bagi seluruh unsur di Kota Yogyakarta untuk ikut mengambil bagian.
Ia menggambarkan Kota Yogyakarta sebagai sebuah rumah besar yang memiliki banyak penghuni dengan peran masing-masing. Karena itu, ketika kota memiliki hajatan, seluruh bagian di dalamnya diharapkan turut memberikan kontribusi.
“Semua yang ada di lingkup Pemerintah Kota Yogyakarta ini adalah bagian dari keluarga Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta hanya meminta sesuatu yang sederhana, prajange,” ujarnya.
Menurut Trihastono, salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkenalkan identitas visual HUT ke-270 Kota Yogyakarta secara lebih luas. Logo dan tema HUT diharapkan menjadi penanda momentum hari jadi sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap Kota Yogyakarta.
Semangat tersebut juga diharapkan menjangkau pelaku usaha, komunitas, perkantoran, BUMD, dan berbagai kelompok masyarakat.
Narasumber dari REKA YK, M. Arief Budiman, mengatakan HUT ke-270 memiliki makna khusus karena merupakan perjalanan panjang yang hanya sekali dialami oleh setiap generasi yang hidup saat ini. Karena itu, peringatan HUT Kota diharapkan menjadi perayaan seluruh warga Yogyakarta, baik yang berada di dalam maupun di luar kota.
“Ini bukan sekadar ulang tahun kota, tapi ini ulang tahun seluruh warga masyarakat Kota Yogyakarta di dalam kota, maupun di luar kota, maupun di luar negeri. Harapannya semangat, kebanggaan, kangen kepada Kota Jogja ini bisa kita hidupkan dengan ulang tahun kota ini,” ujarnya.

Arief menjelaskan, rangkaian HUT ke-270 akan berlangsung sepanjang Oktober dengan puncak perayaan pada 7 Oktober 2026 melalui Wayang Jogja Night Carnival (WJNC). Selain itu, terdapat tujuh event unggulan, 27 event satelit, serta berbagai kegiatan pendukung yang tersebar di wilayah Kota Yogyakarta.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk menikmati sekaligus mengenali berbagai cerita, budaya, dan potensi yang dimiliki Kota Jogja.
Arief juga menekankan pentingnya mengembangkan wisata berkualitas dan berkelanjutan. Menurutnya, aktivitas wisata perlu tetap memperhatikan kenyamanan warga dan kelestarian lingkungan.
“Wisata yang tidak menambah jumlah sampah, wisata yang tidak menambah jumlah polusi, wisata yang tidak menambah kemacetan, itu jadi PR bersama,” katanya.

Selain pariwisata, HUT ke-270 juga diarahkan untuk menggerakkan ekonomi kreatif dan ekonomi masyarakat lokal. Wisatawan diharapkan tidak hanya menikmati acara, tetapi juga mengunjungi pasar, warung makan, kedai kopi, angkringan, pusat kerajinan, dan berbagai usaha lokal.
“Harapannya meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat lokal melalui festival HUT kota ini,” kata Arief.
Ia menambahkan, masyarakat tidak harus memberikan kontribusi melalui kegiatan besar. Berbagai tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat juga dapat menjadi bagian dari semangat Otentik Konkret.
“Autentik itu adalah warisan leluhur kepada kita, sementara konkret itu adalah karya yang kita hasilkan ketika kita hidup di Kota Yogyakarta ini dan nantinya akan menjadi warisan untuk anak cucu kita,” jelasnya.
Dengan semangat tersebut, HUT ke-270 Kota Yogyakarta diharapkan tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang melalui penguatan identitas kota, pelestarian budaya, pengembangan ekonomi lokal, serta kepedulian terhadap lingkungan.
“Jadi ulang tahun Kota Jogja bukan sekadar ulang tahun, tapi sekali lagi ini adalah fondasi untuk Kota Jogja di masa depan, untuk anak cucu kita,” pungkas Arief.


