
UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta terus menggencarkan Active Case Finding (ACF) yakni penemuan kasus Tuberculosis (TB) yang tidak terdeteksi melalui kegiatan pro-aktif mencari orang berisiko, bergejala dan melakukan deteksi dini. Sesuai program Pemerintah pusat, Pemkot Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan mengintegrasikan ACF TB dan cek kesehatan gratis (CKG). Integrasi tersebut adalah upaya percepatan capaian eliminasi TB pada 2030.
“Kegiatan ACF TB yang terintegrasi dengan cek kesehatan gratis didanai dengan anggaran pemerintah pusat,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Lana Unwanah saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan ACF terintegrasi CKG pada semester 2 tahun 2026 dilaksanakan mulai tanggal 31 Juli – 19 November 2026 di 52 lokus yang tersebar di 45 Kelurahan di Kota Yogyakarta. Termasuk menyasar lokasi tempat kerja perkantoran dan lapas/rutan di Kota Yogyakarta.
Lana menegaskan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta telah melakukan kegiatan ACF TB sejak tahun 2020. Dalam kegiatan ACF awal itu didukung oleh LSM Zero TB Yogyakarta. Kegiatan ACF untuk meningkatkan penemuan kasus TB agar m mendapat pengobatan dini dan melacak kontak erat guna mencegah penularan.
“Integrasi ACF TB dan cek kesehatan gratis adalah upaya percepatan eliminasi dan zero TB,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Endang Sri Rahayu menjelaskan dalam pelaksanaan ACF terintegrasi CKG dilakukan dengan yaitu skrining gejala TB dan skrining dengan alat portable X-ray. Di samping itu tracing TB yakni mobilisasi kontak serumah dan kontak erat kasus TB untuk megikuti kegiatan cek kesehatan gratis.

“ACF TB yang diintegrasikan dengan cek kesehatan gratis artinya bahwa dalam skrining-skrining yang dilakukan itu masuk muatan TB. Jadi kita sejak tiga-empat tahun lalu itu sudah betul-betul menyisir orang-orang yang belum ke faskes dan merasa masih sehat, dengan cara ACF,” terang Endang.
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencatat sampai Juli 2026 ada sekitar 680 kasus TB dan sekitar 637 kasus TB yang diobati. Dia menyebut setiap tahun rata-rata ada 1.000 kasus TB di Kota Yogyakarta. Tetapi sekitar 50-60 persen kasus TB itu domisili luar kota tapi mengakses fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Yogyakarta. Oleh sebab itu tetap perlu menjadi kewaspadaan karena bisa risiko tinggi penularan bagi warga Kota Yogyakarta.
“Sukses rate angka kesembuhan TB rata-rata 80-85 persen. Pengobatan TB rata-rata enam bulan. Kami menghimbau masyarakat itu untuk disiplin minum obat sesuai dengan resep yang diberikan dokter. Jika tidak atau berhenti misal udah enak setelah dua bulan, ada risiko akan menjadi resisten obat, ” tambahnya.
Endang mengingatkan siapa pun bisa terkena TB karena penularan melalui udara. Namun dia menyatakan penyakit TB sebenarnya bisa dicegah dengan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Untuk mencegah gunakan masker di lingkungan yang ramai. Sering menjemur barang-barang rumah seperti kasur, sofa karena bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab TB hidup di tempat yang lembap. Rumah juga harus mendapat akses matahari dan sirkulasi udara. Dari sisi individu harus menjaga daya tahan tubuh dengan makanan bergizi dan olahraga teratur karena TB menyerang saat daya tahan tubuh lemah.(Tri)
Foto-foto dokumentasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta saat melakukan kegiatan ACF TB yang terintegrasi dengan cek kesehatan gratis.


