Pukul 20.15, hujan tembus plafon rumah Imam Bonjol,
seorang mantan menteri sibuk geser ember sendiri.
Tak ada ajudan.
Tak ada listrik.
Tagihan itu menunggu dalam gelap.
Namanya Ir. Sutami.
Orang yang dulu meneken proyek jembatan raksasa.
Ampera berdiri.
Jatiluhur mengairi sawah.
Semanggi mengurai kota.
Gedung DPR menjulang.
Tangannya yang sama.
Tangannya yang tak pernah mengambil.
Ia pensiun tanpa simpanan.
Rumahnya belum lunas.
Atapnya kalah oleh hujan.
Pernah listriknya diputus.
Bukan lupa bayar.
Memang tidak punya.
Saat sakit, ia menunda berobat.
Bukan tak tahu risiko.
Ia tahu biaya.
Ia terbiasa menolak fasilitas.
Lebih sering tidur di barak.
Makan dari bungkus sendiri.
Negara berdiri di atas beton yang ia bangun.
Ia sendiri berdiri tanpa pegangan.
13 November 1980, tubuhnya berhenti.
Proyeknya tidak.
Nama itu tidak diwariskan dalam harta.
Ia hanya meninggalkan
jalan yang kita lewati
setiap hari.
_





