Jakarta,REDAKSI17.COM – Wacana kepemimpinan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan. Sebagian publik mulai mengusulkan agar sosok yang dianggap memiliki pendekatan lebih humanis bisa diberi peran lebih besar.
Nama Nanik S Deyang mencuat. Ia dinilai menunjukkan keterlibatan langsung di lapangan—mulai dari mengecek kelayakan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), memastikan kualitas menu, hingga berinteraksi dengan anak-anak dan para ibu penerima manfaat.
Pendekatan yang dinilai “pakai hati” ini membuat sebagian pihak melihat adanya nilai tambah dalam gaya kepemimpinan yang lebih empatik, terutama untuk program yang menyasar langsung kebutuhan dasar manusia.
Di sisi lain, Dadan Hindayana sebagai pimpinan saat ini tetap memiliki peran strategis dalam membangun sistem dan skala program yang besar. Karena itu, diskusi yang muncul seharusnya tidak sekadar soal siapa menggantikan siapa, tetapi bagaimana memperkuat kepemimpinan agar program berjalan optimal.
Perdebatan ini pada akhirnya mengarah pada satu hal penting: program sebesar MBG membutuhkan kombinasi antara manajemen yang kuat dan sentuhan empati di lapangan.
Apakah perlu figur dengan pendekatan lebih “keibuan”? Atau justru kolaborasi berbagai gaya kepemimpinan yang menjadi kunci?




