Masa gencatan senjata antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel akan berakhir pada Selasa, 21 April 2026. Menyambut hal tersebut, Teheran memberikan sinyal keras bahwa mereka siap menghadapi segala skenario, termasuk kembalinya konflik bersenjata.
Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menegaskan komitmen negaranya untuk mempertahankan kedaulatan hingga titik darah penghabisan.
“Pasukan kami akan menghadapi musuh sampai nafas terakhir dengan jari di pelatuk, siap untuk konfrontasi dan berkorban,” tegas Hatami.
PERSENJATAAN SUDAH TERISI PENUH Salah satu poin kunci yang disorot adalah kondisi logistik militer Iran. Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi, Majid Mousavi, mengklaim bahwa selama masa jeda pertempuran ini, pihaknya berhasil mengisi ulang stok rudal dan drone dengan kecepatan yang bahkan melebihi kondisi sebelum perang dimulai. “Tidak seperti Iran, musuh belum mampu membangun kembali amunisinya selama gencatan senjata,” ujarnya menyindir.
Hal ini menunjukkan bahwa meski sempat mengalami gempuran keras, industri pertahanan Iran mampu beroperasi dengan cepat untuk memulihkan kemampuan tempur mereka.
DIPLOMASI TETAP BUKA, TAPI KEPERCAYAAN NOL Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa meski jalur diplomasi masih terbuka, Teheran sama sekali tidak menaruh kepercayaan pada Washington. la menuduh konflik sebelumnya justru dipicu oleh “tipu daya” AS di tengah proses negosiasi.
“Kami tidak mempercayai musuh. Bahkan saat ini, perang dapat dimulai kapan saja dan angkatan bersenjata sepenuhnya siap,” jelasnya. Sikap ini menegaskan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah masih berada pada level sangat tinggi, dan satu kesalahan perhitungan saja bisa memicu ledakan konflik yang lebih besar kembali.
Sumber: Republika, Investor Daily





