Beranda / Hikayat Seni dan Budaya / ISTANA KEMATIAN RATU MALANG

ISTANA KEMATIAN RATU MALANG

Oleh Embas
I. PINTU ANTAKA PURA
kuinjak tanah gunung kelir dengan kaki gemetar
bukan karena dingin tapi karena tanah ini
menyimpan perempuan yang dicuri dari hidupnya
sendiri
makam ini bukan sekadar batu nisan dan kemboja
ini adalah luka yang dibekukan menjadi taman
tempat sejarah menyimpan malu
sambil pura-pura tersenyum pada peziarah
di sini terkubur seorang perempuan
yang tidak pernah diberi kesempatan
untuk memilih
dicintai dengan caranya sendiri
atau mati dengan namanya sendiri
II. RAJA YANG MENGINGINKAN BULAN ORANG LAIN
kabar itu melesat seperti anak panah beracun
dari bibir ke bibir di seluruh tlatah Mataram
ada perempuan
kecantikannya seperti gerhana
membuat matahari pun ragu terbit
Amangkurat I raja segala raja
mendengar dan langsung menyala
bukan dengan cinta
tapi dengan nafsu yang memakai jubah cinta
tidak peduli ia telah bersuami
Ki Dalem Ki Panjangmas
dalang agung yang tangannya
bisa menghidupkan wayang
tapi tidak bisa menghidupkan kembali
istrinya yang telah dirampas
tidak peduli kandungannya sudah dua bulan
ada nyawa di dalam nyawa
karena raja tidak pernah diajarkan
bahwa ada hal yang bukan miliknya
III. PEMBUNUHAN YANG DISEBUT PENGABDIAN
maka diutuslah prajurit di malam buta
bukan untuk melamar
tapi untuk menyingkirkan
Ki Dalem tidak menyerahkan istrinya
maka ia disingkirkan seperti batu di jalan
jasadnya dikubur di gunung kelir
dan orang-orang disuruh berkata:
ia rela ia ikhlas ia bangga
begitulah kekuasaan bekerja:
membunuh lalu meminta kita
menyebut pembunuhan itu sebagai kemuliaan
sang perempuan diangkat menjadi Ratu Wetan
Ratu Malang gelar yang berkilau
seperti emas di atas peti mati
IV. CINTA YANG TIDAK BISA DIBELI KEKUASAAN
di balik tirai istana
Ratu Malang menyimpan dukanya
seperti bara di dalam abu
tidak padam, hanya tersembunyi
lalu datanglah kabar itu
menghantam seperti petir di siang cerah bolong:
Ki Panjangmas telah tiada
dibunuh oleh tangan yang sama
yang kini memegang tangannya
dan runtuh sudah
semua yang tersisa dari dirinya
bukan karena lemah
tapi karena cinta yang sejati
tidak bisa terus hidup
di bawah langit yang membunuh kekasihnya
Ratu Malang sakit
bukan sakit yang bisa disembuhkan dukun
atau tabib istana dengan segala ramuannya
tapi sakit dari dalam
tempat jiwa mulai melepaskan jangkarnya
dan berlayar pergi
V. RAJA YANG TERLAMBAT MENGERTI
Amangkurat I menangis
dan ini hal paling ironis di seluruh Jawa:
raja yang merampas
kini meratapi yang ia rampas
ia mencurigai selir-selirnya
ia menghukum mati mereka semua
karena ia tidak mampu mencurigai
dirinya sendiri
siang malam ia duduk di sisi jenazah
seperti orang yang baru sadar
bahwa ia telah memenangkan perang
tapi kehilangan segalanya
lalu di malam yang paling sunyi
Ratu Malang dan Ki Panjangmas datang dalam mimpi
bukan untuk mengutuk
bukan untuk meminta maaf
tapi untuk memberitahu
kami sudah bersatu kembali
di tempat yang tidak bisa kau jamah,
di kerajaan yang tidak butuh singgasanamu
VI. GUNUNG KELIR SEKARANG
rumput meranggas menari tanpa angin
gagak hitam bertengger di pucuk kemboja
seperti juru kunci yang tidak pernah pulang
dan di malam-malam tertentu
orang-orang bilang mereka mendengar:
gemerincing gelang
derap kuda yang tidak punya bayangan
dan suara perempuan
yang memanggil nama seseorang
yang sudah lama menunggunya
bukan hantu
ini adalah cinta yang terlalu kuat
untuk muat di dalam kuburan
Gunung Kelir, 29 Desember 2016

EMBAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *