UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menerima kunjungan kerja Wakil Bupati Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Hero Setiawan, beserta jajaran di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta, Kamis (9/7). Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari strategi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam penanganan stunting, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), hingga tata kelola pemerintahan yang efektif.
Dalam pertemuan tersebut, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan bahwa pembangunan daerah harus dilakukan secara fokus melalui pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar membagi anggaran secara merata ke seluruh organisasi perangkat daerah (OPD).
“Kalau anggaran dibagi tipis ke semua OPD, hasilnya hanya membuat daerah bergetar tetapi tidak bergerak. Harus ada fokus sehingga masyarakat benar-benar merasakan perubahan,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu kunci meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah menekan kebocoran ekonomi melalui kebijakan yang berpihak pada produk lokal. “Kalau uang masyarakat terus keluar membeli produk dari luar daerah, maka daerah akan sulit berkembang. Karena itu pemerintah harus hadir menciptakan ekosistem agar masyarakat membeli produk sendiri,” katanya.

Kegiatan kunjungan kerja tersebut bertempat di Ruang Yudhistira Balaikota Yogyakarta, Kamis (9/7).

Selain penguatan ekonomi daerah, Hasto juga memaparkan strategi penanganan stunting yang berhasil menurunkan prevalensi stunting secara signifikan.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan adalah memastikan data keluarga berisiko stunting selalu diperbarui secara real time. Pemerintah Kota Yogyakarta memanfaatkan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang setiap hari melaporkan perkembangan ibu hamil, bayi baru lahir, balita, hingga keluarga berisiko melalui grup WhatsApp yang kemudian direkap ke dalam Sistem Informasi Keluarga.
“Modal utama penanganan stunting adalah menguasai data. Kalau datanya akurat dan selalu diperbarui, intervensinya akan tepat sasaran,” jelasnya.
Setelah data tersedia, pemerintah memberikan pendampingan intensif kepada keluarga berisiko melalui kader dan Tim Pendamping Keluarga, termasuk bantuan makanan bergizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta balita yang berisiko mengalami stunting.
“Intervensi gizi dilakukan secara langsung oleh kader. Mereka yang memastikan makanan bergizi benar-benar sampai kepada sasaran. Pendekatan seperti ini terbukti efektif menurunkan angka stunting,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Hulu Sungai Utara, Hero Setiawan, mengaku sengaja memilih Kota Yogyakarta sebagai lokasi studi tiru. Menurut Hero, daerahnya memiliki tantangan besar karena masih menjadi kabupaten dengan angka stunting tertinggi di Kalimantan Selatan.
“Kami datang untuk belajar langsung. Kami ingin mendapatkan arahan, strategi, dan pengalaman dari Pak Wali Kota mengenai penanganan stunting maupun pengembangan daerah. Mudah-mudahan apa yang diterapkan di Yogyakarta dapat kami adaptasi di Hulu Sungai Utara,” ujarnya.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat menerima cindera mata dari Wakil Bupati Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hero Setiawan.

Hero juga berharap hubungan antara Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Pemerintah Kota Yogyakarta dapat terus terjalin melalui kerja sama yang lebih erat di masa mendatang.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Yogyakarta, Raden Roro Andarini, memaparkan sejumlah strategi peningkatan PAD yang telah diterapkan.
Menurutnya, Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan intensifikasi melalui penagihan piutang pajak berbasis dashboard digital sehingga seluruh aktivitas petugas dapat dipantau setiap hari. Selain itu, dilakukan ekstensifikasi dengan mendata potensi wajib pajak baru, terutama sektor hotel, restoran, hiburan, dan parkir.
Selain itu, digitalisasi layanan perpajakan juga terus diperkuat, termasuk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang kini dapat dilakukan secara daring melalui berbagai kanal perbankan maupun dompet digital.
Andarini menyebut, program pemberian potongan pembayaran PBB sebesar lima persen dalam satu hari berhasil meningkatkan penerimaan pajak secara signifikan.

Hasto Wardoyo saat foto bersama rombongan dari Kabupaten Hulu Sungai Utara.

“Dalam satu hari pelaksanaan program tersebut, realisasi pembayaran PBB mencapai sekitar Rp 56 miliar. Meskipun ada potensi pengurangan penerimaan akibat diskon, hal itu kami imbangi dengan optimalisasi penagihan piutang pajak,” jelasnya.