Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengunjungi empat petilasan peninggalan sejarah Pangeran Mangkubumi yang terletak di Kabupaten Sragen, pada Kamis (09/07). Dalam kunjungan tersebut, Sri Sultan berpesan kepada pemerintah kabupaten dan para pengelola situs agar dapat menjaga serta merawat peninggalan sejarah, tanpa menjauhkannya dari masyarakat.
Dikatakan Sri Sultan, renovasi maupun penataan situs memang penting dilakukan mengingat nilai sejarah yang dimiliki bangunan-bangunan tersebut. Namun, proses penataan perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar, terutama agar tidak menjauhkan situs bersejarah dari warga yang selama ini hidup berdampingan serta turut andil dalam menjaga, merawat, dan melestarikannya.
“Kalau ditutup tembok kan sepertinya terus masyarakat gabisa masuk, hal-hal seperti itu jangan,” tutur Sri Sultan di sela kunjungan ke Sendang Sumberan.
Kunjungan ini menandai kali pertama Sri Sultan melaksanakan agenda Muhibah Budaya Yogyakarta yang bertempat di luar wilayah DIY. Adapun empat lokasi yang dikunjungi diantaranya Pendopo Petilasan Mangkubumi di Desa Pandak, Gua Mangkubumi di Desa Gebang, Kecamatan Masaran, Petilasan Sentono di Desa Katelan, Kecamatan Tangen, serta Sendang Sumberan di Desa Japoh, Kecamatan Jenar.
Pendopo Mangkubumi di Desa Pandak yang menjadi tempat pemberhentian pertama Sri Sultan dalam kunjungannya merupakan tempat yang pertama kali yang disinggahi Pangeran Mangkubumi ketika sampai di tanah Sukowati (kini Sragen). Sedangkan, Goa Mangkubumi yang terletak di Desa Gebang, Kecamatan Masaran, diketahui sebagai tempat persembunyian sekaligus markas gerilya Pangeran Mangkubumi saat menghindari kejaran pasukan VOC pada masa pemerintahan Belanda.
Di Sendang Sumberan terdapat 7 mata air yang mengucur jernih dan tak pernah kering yakni Sendang Putri, Sendang Kahuripan, Sendang Padusan (2 buah), Sendang Kembar (2 buah), dan Sendang Kakung. Di lokasi tersebut, Sri Sultan menyempatkan diri membasuh tangan dengan air segar yang mengalir langsung dari salah satu mata air tersebut.
Pemilihan Kabupaten Sragen sebagai pusat Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 dilandaskan pada faktor sejarah, mengingat keberadaan tempat-tempat yang memegang peranan penting dalam sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berada di sana. Berdasarkan sejarah, Pangeran Mangkubumi (yang kelak menjadi Hamengku Buwono I) awalnya mendirikan markas pertahanan dan pusat perlawanan terhadap pemerintahan Belanda di wilayah Sragen, sebelum akhirnya mendirikan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Muhibah Budaya Yogyakarta 2026 menjadi momentum untuk menelusuri kembali jejak perjuangan Mangkubumi, menghidupkan dan menguatkan memori kolektif, serta mempererat jalinan hubungan dan benang-benang sejarah yang telah lama terjalin antara Yogyakarta dan Bumi Sukowati.
Humas Pemda DIY




