Jen4zah Letkol Sroedji Diikat, Diseret, dan Dipamerkan Selama Tiga Hari oleh Belanda
(Februari 1949, Jember)
Tragedi ini terjadi segera setelah Letkol Moch. Sroedji, Komandan Brigade III Damarwulan, gugur dalam pertempuran sengit di Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Jember, pada 8 Februari 1949.
Alur Detil Kekej4man BelandaBelanda
Verifikasi dan Rencana Propaganda
Ketidakpercayaan Musuh: Pasukan Belanda (NICA) awalnya tidak yakin bahwa tokoh yang paling dicari, yang memiliki banyak nama samaran, benar-benar gugur. Mereka tahu, gugurnya Sroedji adalah kunci untuk menguasai Besuki.
Identifikasi Paksa: Setelah jen4zah ditemukan di Karang Kedawung, Belanda memaksa beberapa warga lokal untuk mengidentifikasi tubuh tersebut. Setelah identitasnya terkonfirmasi sebagai Letkol Sroedji, Belanda merencanakan langkah keji.
Tujuan Propaganda: Keputusan ini diambil untuk tujuan teror psikologis. Dengan memamerkan tubuh komandan mereka yang paling heroik dalam kondisi mengen4skan, Belanda berharap rakyat Jember akan ketakutan dan menghentikan semua bentuk perlawanan gerilya.
Aksi Penyeretan yang Mengerikan
Jasad Letkol Sroedji diikat dengan tali atau kawat. Menurut kesaksian, kedua tangan jen4zah Letkol Sroedji diikatkan ke bagian belakang bak truk militer.
Jasad tersebut kemudian secara sengaja diseret di sepanjang jalan dari lokasi gugurnya hingga ke pusat kota Jember. Perjalanan penyeretan yang kejam ini dilakukan di hadapan publik.
Aksi penyeretan ini melewati rute-rute utama, termasuk Alun-Alun Jember, tempat di mana banyak warga berkumpul dan terpaksa menyaksikan tontonan yang mengerikan itu.
Pameran Jen4zah di Pusat Kota
Dijadikan Tontonan. Setelah diseret, tubuh Letkol Sroedji kemudian ditaruh dan dipamerkan selama sekitar tiga hari di sebuah lokasi terbuka, seperti halaman hotel atau sekitar pusat kota.
Tujuannya adalah untuk memaksimalkan efek teror. Tubuh yang sudah bersimbah d4rah karena luk4 temb4k, kini semakin mengen4skan karena lecet dan luk4 akibat diseret di jalanan aspal.
Reaksi rakyat justru berlawanan dengan harapan Belanda. Rasa takut berubah menjadi kemarahan mendalam, soliditas perlawanan meningkat, dan Letkol Sroedji diangkat statusnya sebagai martir yang agung.
4. Pemakaman Pahlawan
Izin dan Pemakaman. Setelah tiga hari dipamerkan, pihak keluarga dan rakyat setempat akhirnya diizinkan mengambil jen4zah untuk dimakamkan.
Meskipun berada di bawah pengawasan ketat Belanda, pemakaman Letkol Sroedji di Pemakaman Umum Kreongan, Patrang, dihadiri oleh lautan pelayat, menunjukkan betapa besarnya cinta dan penghormatan rakyat kepada pahlawan yang gugur tersebut.





