Lomba Kampung Tangguh Bencana Manfaatkan Lahan Sempit Jadi Produktif

Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan akan menggelar Lomba Kampung Tangguh Pangan Tingkat Kota Yogyakarta Tahun 2026. Lomba ini sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus mendorong inovasi pemanfaatan lahan di kawasan perkotaan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, mengatakan penyelenggaraan lomba ini bukan sekadar kompetisi antarkampung, melainkan bagian dari strategi Pemerintah Kota Yogyakarta dalam membangun budaya ketahanan pangan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

“Lomba Kampung Tangguh Pangan kami hadirkan untuk mendorong masyarakat agar semakin kreatif memanfaatkan pekarangan dan ruang yang dimiliki. Ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat melalui berbagai inovasi yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Menurutnya, meskipun Kota Yogyakarta memiliki keterbatasan lahan pertanian, masyarakat tetap memiliki peluang besar untuk menghasilkan pangan secara mandiri melalui pemanfaatan pekarangan rumah, lahan kosong, maupun ruang-ruang produktif lainnya.

“Dengan konsep integrated farming, masyarakat didorong mengembangkan tanaman pangan, peternakan kecil, dan perikanan dalam satu sistem yang saling mendukung sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif,” ungkapnya.

Sukidi menjelaskan, konsep tersebut juga sejalan dengan tujuan penyelenggaraan lomba, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya ketahanan pangan sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam sistem pertanian terpadu skala perkotaan.

“Selain menghasilkan pangan, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kualitas lingkungan, memperkuat gotong royong masyarakat, serta menciptakan kampung yang sehat dan berkelanjutan,” bebernya.

Dalam pelaksanaannya, lanjutnya, lomba ini akan diikuti oleh seluruh kemantren di Kota Yogyakarta. Setiap kemantren diwajibkan mengirimkan satu kampung sebagai peserta sehingga terdapat 14 kampung yang akan mengikuti proses penilaian.

“Peserta dapat mengusulkan minimal satu hingga maksimal tiga lokasi yang akan dinilai oleh tim juri,” jelasnya.

Tahapan kegiatan diawali dengan penyampaian petunjuk teknis kepada wilayah kemantren dan penyuluh pertanian serta perikanan pada 1 Juli 2026 lalu.

Selanjutnya, pendaftaran peserta berlangsung pada 6–31 Juli 2026 melalui formulir daring. Penilaian dijadwalkan dilaksanakan pada 5, 6, 11, 12, dan 13 Agustus 2026 di lokasi peserta yang tersebar di 14 kemantren, sementara pengumuman pemenang akan dilakukan pada Bulan Agustus 2026.

Sukidi menyampaikan bahwa penilaian akan dilakukan secara menyeluruh oleh tim juri yang terdiri atas praktisi dan pegiat ketahanan pangan keluarga. Dalam penilaiannya tidak hanya melihat hasil budidaya, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan program dan keterlibatan masyarakat.

“Kami ingin melihat bagaimana masyarakat membangun sistem ketahanan pangan secara menyeluruh. Tidak hanya menanam, tetapi juga bagaimana hasil panen dimanfaatkan, bagaimana lingkungan tetap bersih dan rapi, serta bagaimana seluruh warga berpartisipasi dalam menjaga keberlanjutan program tersebut,” katanya.

Empat aspek utama menjadi dasar penilaian dalam lomba ini, yaitu penerapan sistem integrated farming, estetika kebersihan dan kerapian lingkungan, pemanfaatan hasil produksi, serta peran aktif masyarakat. Pada aspek budidaya, juri akan menilai teknik pertanian, peternakan, dan perikanan, termasuk inovasi seperti hidroponik, smart farming, maupun irigasi sederhana.

Selain itu, kebersihan lingkungan, pengelolaan limbah, keberagaman produk hasil panen, pencatatan administrasi, hingga kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, dan CSR juga menjadi bagian dari penilaian.

Sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menyiapkan hadiah berupa trofi, piagam, dan uang pembinaan. Juara I akan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp5 juta, Juara II Rp4,5 juta, Juara III Rp4 juta, Juara Harapan I Rp3,5 juta, serta Juara Harapan II Rp3 juta.

Sukidi berharap melalui Lomba Kampung Tangguh Pangan Tahun 2026 akan lahir semakin banyak kampung yang mampu menjadi contoh dalam membangun ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan program ini bukan hanya ditentukan oleh siapa yang menjadi juara, melainkan bagaimana gerakan pemanfaatan pekarangan dan pertanian terpadu dapat terus berkembang serta menjadi budaya di tengah masyarakat Kota Yogyakarta.

“Harapan kami, setelah lomba selesai, semangat masyarakat untuk mengembangkan kampung tangguh pangan tetap berlanjut. Dengan demikian, ketahanan pangan di Kota Yogyakarta akan semakin kuat dan mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.